Spiritualitas Kepemimpinan Romo Mangun

Seorang sahabat pernah menunjukkan kepada saya sebuah roman dengan judul ‘Burung-burung Manyar’. Tampilan cover buku itu mengundang minat saya dan saya mulai membongkar halaman demi halamannya. Setelah selayang pandang, saya tiba pada halaman terakhir yang berisi biodata penulis. Hati saya diliputi kekaguman dan tanpa terasa, tahun ini, Romo Mangun, penulis roman itu, telah genap 17 tahun lebih meninggal dunia. Bersama ‘Burung-burung Manyar’ dan atas upaya menggali spiritualitas kepemimpinannya, kepada Romo dan kita sekalian, tulisan sederhana ini saya persembahkan.

Sepintas Mengenal Romo Mangun 

Yusuf Bilyarta Mangunwijaya (sering disingkat Y.B. Mangunwijaya) dilahirkan di Ambarawa, Jawa Tengah, pada 6 Mei 1929. Romo Mangun, demikian ia familiar, menempuh pendidikan di Institusi Filsafat dan Teologi Sancti Pauli-Yogyakarta pada tahun 1959, Departemen Tekhnik Arsitektur ITB-Bandung pada tahun 1959, dan Sekolah Tekhnik Tinggi Rheinland-Westfahlen, Aachen, Republik Federasi Jerman pada tahun 1966. Romo Mangun menulis lebih dari 20 buku baik fiksi maupun non-fiksi. Opus magnum-nya, ‘Burung-burung Manyar’ telah diterjemahkan ke dalam edisi bahasa Jepang berjudul Arasi no Naka no Manyar (1987), bahasa Belanda dengan judul Het boek van de Wevervogel (1987), dan bahasa Inggris, The Weaverbirds (1989). Roman ini meraih penghargaan South East Asia Writer Award di Thailand pada tahun 1984 dan penghargaan sastra se-Asia Tenggara, Ramon Magsaysay Award, tahun 1996. 10 Februari 1999, kabut duka merundung dan langit menampakkan duka, Romo Mangun wafat di Jakarta. (Bagian ini diolah dari Y.B. Mangunwijaya, Burung-burung Manyar, Kompas, 2014:406).

Pantaskah Ia Dikenang? 

Selain menelurkan banyak buku, Romo Mangun dalam bidang arsitektur, dijuluki juga sebagai bapak arsitektur modern Indonesia. Entahlah, sepertinya gema dari gelar ini kurang bergaung. Namun, penghargaan Aga Khan untuk arsitektur yang ia terima merupakan penghargaan tertinggi dalam karya arsitektural di dunia berkembang, untuk rancangan pemukiman di tepi Kali Code, Yogyakarta. Sekalipun kurang bergaung, Romo Mangun telah sungguh-sungguh berlipat ganda dan berlimpah-limpah dalam talenta-talentanya.

Meraih banyak gelar, bukan lagi suatu hal yang luar biasa. Artinya, sudah banyak figur yang menerima berkah semacam itu. Namun, Romo Mangun,  pantaskah ia dikenang? Dalam Kompas, 11 Februari 1999, sehari setelah ia wafat, Gus Dur menulis (rupanya Gus Dur menjadi orang pertama yang menulis tentang Romo pasca-wafat), “Ketika saya berpindah dari Jombang ke Jakarta, segera saya melihat betapa dalamnya rasa cinta kasih Romo Mangun pada umat manusia. Hal itu tampak dalam sikapnya terhadap mereka yang nasibnya malang, pendidikannya kurang, dan mereka yang tingkat ekonominya rendah…”

Romo Mangun, sebagaimana kita kenal, memang merevelasikan fenomena baru sebagai sosok pastor/imam dalam Gereja Katolik Indonesia. Romo Mangun, melalui totalitas hidup dan pemberian dirinya, sekurang-kurangnya meninggalkan rasa bangga. Panggilan dan kiblat imam/pastor seturut desakan teologi kontekstual yang sekarang makin tekun di-daratbumi-kan, telah dengan setia dihidupi Romo Mangun. Untuk itu, sekalipun selama menjadi Presiden Indonesia, B.J. Habibie tidak sempat mengadakan visitasi ke Vatikan dan bertemu Paus, ia tetap memiliki hati dan perhatian begitu besar kepada sahabatnya, Romo Mangun. Oleh Habibie, Romo dikenal sebagai ‘Paus’-nya umat Kali Code dan Kedung Ombo. Bahkan keesokan harinya, Habibie mengirimkan pesawat Hercules, untuk menerbangkan jenazah sahabatnya itu ke Yogyakarta, sebelum dimakamkan di pemakaman imam-imam Projo Seminari Tinggi Kentungan. Untuk semuanya ini, jawaban atas pertanyaan ‘pantaskah Romo dikenang?’, tentu dengan tegas, ‘ya..!’.

‘Supererogatory Man’ dan Spiritualitas Kepemimpinannya 

Term ‘supererogatory’ pertama-tama dikaitkan dengan sebuah tindakan moral. Oleh karena itu, lahirlah istilah ‘supererogatory acts’ yang mengindikasikan tindakan-tindakan yang dilakukan melampaui batasan kewajiban (trans-limit). Kewajiban itu mengikat hingga batas-batas tertentu, selebihnya disebut ‘supererogatory acts’ yang secara lebih reflektif dipahami sebagai tindakan yang mulia, yang baik, yang mana tidak semua orang dapat melakukannya. Meminjam pengertian ini dan menjawabi lebih lanjut pertanyaan ‘pantaskah Romo Mangun  dikenang?’, saya dengan berani dan bangga menyebutnya sebagai ‘Supererogatory Man’. Meminjam Gus Dur, “Sosok Romo Mangun adalah pribadi yang mampu memancarkan sinar kasih keimanan dalam kehidupan umat manusia. Dalam dirinya, keimanan tidak sekadar terbelenggu dalam sekat-sekat ritual agama atau simbol-simbol semata. Lebih dari itu, cinta kasih keimanan Romo mampu menembus sekat-sekat formalisme dan simbolisme. Dia kasihi dan dia sentuh setiap manusia dengan ketulusan cinta. Inilah yang menyebabkan Romo Mangun mampu hadir dalam hati setiap manusia, karena dia telah menyentuh dan menyapa setiap manusia.” Selain Orang Kudus, ‘Supererogatory Man’ menunjuk juga pada pahlawan. Mereka yang semasa hidupnya banyak bergiat dalam karya-karya kemanusiaan, menyerahkan diri bagi banyak orang kecil yang menderita, tidak hanya karitatif, tetapi juga advokasi struktural.

Dalam kritiknya terhadap wacana penetapan Presiden Soeharto sebagai pahlawan nasional, Dr. Otto Gusti berpendapat, “Untuk mengetahui apakah memang secara yuridis formal sungguh tanpa cacat, itu perlu diuji pada produk-produk yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan universal” (Kompas, 18 Januari 2010). Dalam konteks Romo Mangun, secara yuridis formal dan di hadapan nilai-nilai kemanusiaan universal, apakah gelar pahlawan nasional sudah layak disematkan padanya? Pelbagai syarat memang harus dilalui. Namun, beberapa catatan penting ini patut menjadi bahan pertimbangan. Ketika agama diruncingkan dalam perbedaan, pemikiran Romo Mangun yang tidak lain merupakan penjabaran dari politik diferensiasi atau pengakuan, kiranya dapat menumpulkannya kembali. Ketika otoritas jabatan dalam sebuah institusi agama tengah diemban, kegiatan sosial-karitatif Romo Mangun yang mendesain daerah Kali Code menjadi pemukiman yang layak serta perlawanannya terhadap pembangunan waduk Kedung Ombo, kiranya menjadi kritik terbuka bagi agen-agen pastoral lainnya yang masih nyaman dalam menara gading institusional. Sungguh ‘Supererogatory Man’..!

Dalam konteks Spiritualitas Kepemimpinan, ideal-ideal setiap pemimpin seperti misalnya sebagai alat Allah, sebagai pelayan, atau sebagai gembala, telah dengan tekun dihidupi Romo Mangun. Pelbagai contoh dan aneka pengakuan yang telah dijabarkan sebelumnya amatlah cukup untuk menyebut Romo Mangun sebagai teladan. Spiritualitas Kepemimpinannya ia pupuk dan jaga dengan setia selama hidupnya, lalu ia tebarkan kepada kita sekalian sebagai inspirasi tanpa batas, ketika kini ia telah tiada. Kesaksian demi kesaksian yang ia pancarkan tak akan lapuk digigit ngengat zaman.

Akhirnya, dengan menyebut Romo Mangun sebagai Romo yang Bijak, Gus Dur tak henti-hentinya menulis, “Kini, Romo Mangun telah tiada. Kita kehilangan salah seorang tokoh humanis, seorang kritikus sosial yang andal sekaligus seorang pejuang agama yang gigih. Dunia terasa kosong tanpa kehadirannya. Akan tetapi, kita yakin akan datangnya seorang yang memperjuangkan cita-citanya. Kita semakin kaya dengan pengabdian dan karya-karyanya, semoga kita akan semakin bertambah kaya dengan pengganti-penggantinya. Terima kasih Romo yang Bijak dan selamat jalan. Cita-cita dan perjuanganmu menjadi lentera dan cambuk bagi kita di sini.”

Romo Mangun yang tengah menolong orang susah di surga,
doakan agar semangat kami tidak lapuk…! (_er el em_)

Semoga teladan dan spirit kepemimpinan ‘Supererogatory Man’ ini senantiasa membaharui perjuangan dan laku hidup kita. Semoga kita tak henti-hentinya menggali dari sumur kelimpahannya. *** 

___________________

*Reinard L. Meo, mahasiswa aktif jurusan filsafat pada STFK Ledalero Maumere, Flores-NTT; Pengagum Romo Mangun ini terlibat aktif dalam pelbagai diskusi dan menulis di sejumlah media cetak maupun online. Dapat dihubungi via e-mail: [email protected].

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut