SRMI Peringati Hari Anti-Pemiskinan Se-Dunia Di Surabaya Dan Berbagai Daerah

SURABAYA: Peringatan Hari Anti-pemiskinan se-dunia turut diperingati oleh ratusan aktivis Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) di Surabaya, Jawa Timur (18/10). Aksi ini juga mendapat dukungan dari Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Partai Rakyat Demokratik (PRD), dan Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI).

Menurut Ketua SRMI Surabaya Agustinus, aksi mereka membawa sejumlah tuntutan pokok, seperti penolakan terhadap MDGs, peningkatan anggaran untuk pendidikan dan kesehatan, dan tututan mengubah kriteria miskin versi Biro Pusat Statistik (BPS).

Selain itu, dikatakannya, bahwa aksi ini juga membawa tuntutan warga Stren Kali, Kampung Baru, Surabaya, yang sudah lama menentang rencana penggusuran paksa oleh pihak Walikota Surabaya.

Namun, niat demonstran untuk membawa tuntutan secara langsung kepada Walikota Surabaya mengalami kegagalan. Sebaliknya, delegasi SRMI hanya diterima oleh pejabat Kesbang di Walikota Surabaya.

Aksi Serupa Di Tempat Lain

Aksi memperingati Hari anti-pemiskinan juga terjadi di beberapa kota lainnya, seperti Lampung, Mataram, Garut, Cianjur, Tasikmalaya, dan Purwekerto.

Di Bandar lampung, sekitar 50-an massa SRMI berjalan dari tugu adipura menuju kantor Pemerintah Kota setempat. Mereka mendesak agar walikota yang baru terpilih untuk merealisasikan janji-janji politiknya semasa kampanye, terutama dalam pemberantasan kemiskinan.

Atas desakan tersebut, walikota Bandar Lampung Herman HN bersedia menerima dan berdialog dengan perwakilan aktivis SRMI. Pihak Walikota menjanjikan akan menuntaskan sejumlah persoalan yang dituntut SRMI, diantaranya, persoalan pendidikan, kesehatan, dan dokumen warga (KTP/KK/akta kelahiran), akan diwujudkan pada tahun 2011.

Di Tasikmalaya, Jawa Barat, puluhan aktivis SRMI menggelar aksinya di kantor pemerintah kabupaten, dan menuntut pengesahan Ranperda mengenai perlindungan Pedagang Kaki Lima (PKL).

Massa juga mempersoalkan minimnya anggaran kesehatan, yang sebagian besarnya merupakan bantuan Pemprov Jabar.

Aksi juga dilakukan di kabupaten Garut, Jawa Barat, dimana puluhan demonstran menolak pembanunan Alfamart yang dianggap akan menyingkirkan ekonomi rakyat, khususnya pedagang kecil.

Di Cianjur, Jawa Barat, massa yang berjumlah 300 orang anggota SRMI mendatangi kantor DPRD setempat. Massa mempersoalkan minimnya anggaran untuk pendidikan dan kesehatan, sementara biaya untuk kendaraan dinas Pemda terus membengkak.

Disamping itu, ratusan massa itu juga mendesak agar Pemkab Cianjur segera menaikkan jumlah anggaran untuk pendidikan dan kesehatan serta perlindungan terhadap Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri.

Demo anti kemiskinan juga berlangsung di kota Mataram, NTB. Massa yang berjumlah 70-an orang mengeritik kegagalan SBY dalam mengurangi angka kemiskinan. Tidak hanya itu, aksi yang berbentuk mimbar bebas ini juga mengecam maraknya perampasan tanah milik rakyat dengan dalih kepentingan pariwisata.

Massa ini merupakan gabungan dari berbagai organisasi pergerakan di Mataram, diantaranya, LMND, PRD, STN, SRMI, AMSI, FKPPMS, dan FPM2SD.

Di Bogor, Jabar, demonstrasi dilakukan oleh 50-an anggota SRMI dengan mendatangi kantor Walikota dan DPRD. Dalam tuntutannya, SRMI Bogor menuntut pemerintah membangun perumahan gratis untuk rakyat.

Massa juga menentang usaha untuk mengkomersialkan air minum di Gunung Salak dan Pangrango oleh sebuah perusahaan multinasional, yakni perusahaan Aqua.

Di Purwekerto, Jawa Tengah, puluhan demonstran juga menggelar aksi untuk memperingati Hari anti-pemiskinan se-dunia. Mereka menuntut agar pemerintah segera menaikkan anggaran pendidikan dan kesehatan untuk rakyat, mengubah kriteria miskin versi BPS, dan menolak proyek penghapusan kemiskinan ala MDGs. (Ulfa)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut