SPI: Rakyat Desa Tidak Sebahagia Rakyat Kota

Menjelang berakhirnya masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Badan Pusat Statistika (BPS) mengumumkan hasil survey Indeks Kebahagiaan (IK) Indonesia tahun 2013.

Di situ disebukan bahwa rumah tangga perdesaan tidak cukup bahagia dibandingkan dengan rumah tangga perkotaan selama tahun 2013. Hasil survei menyebutkan indeks kebahagiaan penduduk desa adalah 64,32, sedangkan penduduk kota adalah 65,92.

Menanggapi hasil survei BPS tersebut, Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih menilai, ada yang salah dalam program pembangunan saat ini, sehingga rakyat di desa tidak sebahagia rakyat di kota.

Menurutnya, hasil indeks kebahagiaan untuk aspek desa dan kota ini menunjukkan adanya pola pembangunan yang berorientasi ke kota. “Ini dicirikan oleh kota sebagai pusat bisnis, industri, hiburan, dan pemerintahan, sehingga putaran uang praktis akan lebih banyak di kota ketimbang di desa,” kata Henry.

Belum lagi, kata Henry, uang atau keuntungan dari nilai tambah bisnis pengolahan dan distribusi hasil-hasil pertanian yang diproduksi oleh kaum tani pedesaan di tengah ketidakpastian dan kekurangan lahan, ketidakpastian iklim, harga, pasar, dukungan modal, infrastruktur terbatas dan ketidakonsistennya kebijakan pemerintah, serta ketidakpastian hukum atas konflik agraria.

“Muara dan dampak dari semua problem tersebut adalah kemiskinan agraria pedesaan, realita kemiskinan pedesaan selalu di depan daripada kemiskinan perkotaan. Ini berarti kemuliaan rumah tangga desa penghasil pangan tidak diimbangi dengan kemuliaan ekonomi pertanian,” terangnya.

Selama kurun waktu Maret-September 2013 terjadi peningkatan jumlah orang miskin baik di kota dan di desa. Dengan demikian, terjadi transformasi semu dari pertanian ke non pertanian, yang ditandai dengan hilangnya lima juta rumah tangga pertanian dalam kurun waktu 10 tahun atau 500 ribu keluarga petani per tahun. Dari orang-orang pedesaan tersebut, diantaranya terdapat pemuda-pemudi, sehingga hanya petani-petani tua yang masih tinggal di pedesaan.

Selanjutnya, pertambahan orang miskin di perkotaan sangat diduga setara dengan pindahnya rumah tangga miskin tersebut ke kota, entah di gang-gang sempit di belakang gedung atau apartemen mewah, atau di pinggiran sungai (river side) dan pinggiran rel kereta api (rel estate). Meski demikian,menurut Indeks Kebahagiaan, mereka cukup berbahagia dibandingkan keluarganya di pedesaan.

Henry Saragih menegaskan, ini merupakan tantangan yang tidak ringan untuk mengatasi warisan pemerintah SBY, dimana desa tidak sebahagia kota. Menurut Henry, resolusi SPI tentang Pembangunan Pedesaan yang dikeluarkan dalam Kongres IV SPI Maret 2014 tentunya bisa menjadi salah satu acuan untuk menindaklanjuti Laporan Indeks Kebahagiaan Juni 2014 tersebut.

“Bahwa pembangunan perdesaan dilakukan melalui mekanisme partispasi masyarakat secara aktif; bahwa pemerintahan desa dapat melaksanakan pendataan penguasaan dan kepemilikan sumber agraria sebagai basis dilaksanakannya pembaruan agraria; bahwa pembangunan perdesaan juga berarti memperluas dan memperkuat peran dan akses masyarakat desa terutama kaum perempuan; bahwa diperlukan strategi pemberdayaan dan perlindungan masyarakat perdesaan melalui peningkatan kualitas penduduk desa secara insan (didalamnya terdapat ketrampilan dan marwah), penguatan kelembagaan perdesaan dan jaringan ekonomi politik yang kuat; bahwa perlunya praktek-praktek agroekologi baik dalam usaha budidaya pertanian maupun usaha non budidaya pertanian (off farm); bahwa pembangunan perdesaan mengedepankan semangat kebersamaan, kekeluargaan (brotherhood) dan kegotong royongan guna mewujudkan kedaulatan pangan, kemakmuran dan keadilan sosial,” papar Henry.

Hadiedi Prasaja, Departemen Komunikasi Nasional Dewan Pengurus Pusat (DPP) Serikat Petani Indonesia (SPI)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut