Solidaritas Global Untuk Aksi Mogok Makan Tapol Palestina

Dua hari yang lalu, tepatnya 17 Desember 2012, ada seruan global untuk memberikan dukungan terhadap aksi mogok makan yang digelar oleh tahanan politik (Tapol) Palestina di dalam penjara Israel.

Gerakan ini dinamai “Hari Elektronik Untuk Tahanan Palestina”. Di sini, para aktivis menyebarkan kampanye melalui jejaring sosial, radio independen, aksi protes, dan media-media progressif. Di Twitter, kampanye tersebut dilakukan melalui Hashtags #PalHunger.

Dua tahanan Palestina, Ayman Sharawna dan Samer Issawi, masing-masing telah mogok makan selama 171 dan 140 hari. Sedangkan tiga tahanan lainnya, yakni Yousef Yassin, Jafar Azzidine dan Tarek Qa’adan, baru melakukan mogok makan selama 21 hari.

Sharawna, 36 tahun, dan Issawi, 33 tahun, masuk dalam kelompok pertama tahanan Palestina yang dibebaskan pada Oktober 2011 sebagai bagian dari program pertukaran tahanan—1 orang Israel untuk 1.027 Palestina.

Sharawna, yang menjalani 10 tahun dari 38 tahun hukumannya, hanya merasakan kebebasan tiga bulan setengah. Dia ditangkap lagi oleh Israel pada Januari 2012. Sedangkan Issawi, yang juga menjalani 10 tahun dari 28 tahun hukumannya, juga ditahan kembali setelah 10 bulan kebebasannya.

Namun, tidak satupun dari lima tahanan Palestina itu yang diberi alasan mengapa mereka ditangkap dan ditahan. Ironisnya, meski tidak jelas alasan untuk penahanan kelima orang itu, pihak penuntut berusaha memperbarui hukuman para tahanan sebelumnya.

Bagi Sharawna dan Issawi, aksi mogok makan merupakan bentuk perlawanan non-kekerasan satu-satunya yang bisa dilakukan tahanan-tahanan Palestina di dalam penjara Israel.

Dengan begitu, mereka berharap bisa menyingkap kejahatan Israel yang menahan mereka tanpa alasan dan putusan pengadilan. Selain itu, mereka juga mendapat perlakuan sangat buruk di dalam penjara.

Khader Adnan adalah tahanan pertama yang melakukan mogok makan. Dan aksinya saat itu, yang berlangsung 66 hari, disebut terlama. Ketika aksi Khader Adnan hendak berakhir, Hana Shalabi melanjutkannya. Itu berlangsung selama 42 hari. Aksi keduanya ini berakhir setelah ada tawaran bebas.

Sepanjang tahun ini, beberapa tahanan politik Palestina menggelar aksi mogok makan. Mei lalu, 2000 tahanan Palestina menggelar aksi mogok makan massal di dalam penjara Israel.

Mereka menuntut diakhirinya pengasingan, perawatan medis yang tidak memadai, perlakuan buruk saat interogasi, dan penahanan administratif. Mereka menuntut perbaikan kondisi tahanan dan kebebasan bagi keluarga untuk menjenguk para tahanan.

Aksi mogok makan itu berakhir dengan kesepakatan. Belakangan, Israel mengingkari kesepakatan itu. Beberapa tahanan yang sudah dibebaskan, ditangkap lagi. Menurutu Amnesti Internasional, hanya 30 hari setelah kesepakatan dibuat, 30 perintah penahanan administratif diperpabaharui dan tiga perintah baru dikeluarkan.

Penahanan administratif ini adalah penahanan tanpa keputusan pengadilan. Akibatnya, orang dapat ditangkap tanpa tahu kesalahannya, mendapat perlakuan tidak manusiawi saat interogasi, dan dijebloskan ke penjara.

Sejak tahun 1967, sekitar 778.000 orang pria dan 10.000-an perempuan Palestina sudah dipenjara. Laporan Addameer menyebutkan, sejak 1 Desember 2012, ada 4.656 tahanan politik Palestina di dalam penjara Israel. Dari jumlah itu, ada 178 diantaranya adalah tahanan administratif, yang masa penahanannya tidak pernah mereka ketahui.

Katanya, kalau seseorang tidak makan selama 6 minggu, maka konsentrasinya menjadi sulit, kehilangan pendengaran dan penglihatan. Bahkan, katanya, kalau orang sudah 45 hari tidak pernah makan, maka potensi kematian bisa muncul kapan saja.

Kondisi Sharawna dan Issawi saat ini sudah sangat memburuk. Kondisi kedua tahanan Palestina ini makin memprihatinkan. Lebih dari 350 halaman Facebook dan 20 juta orang dari seluruh dunia telah menyatakan dukungan terhadap pembebasan tahanan Palestina ini.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut