Soal Pangan, STN: Pemerintah Harus Berpikir Jangka Panjang

Serikat Tani Nasional (STN) menyambut positif langkah pemerintah membentuk Satuan Tugas (Satgas) pangan untuk mengatasi kelangkaan pangan jelang bulan Puasa dan Lebaran.

Namun, STN menyarankan persoalan ketersediaan dan harga pangan tidak hanya menjadi isu-isu menjelang Hari Lebaran.

“Pemerintah mesti berpikir jangka panjang untuk membenahi struktur pasar yang ideal sehingga persoalan serupa tidak perlu ditangani secara sporadis,” kata Ketua Umum STN Ahmad Rifai dalam keterangan tertulis, di Jakarta, Kamis (15/6/2017).

Menurut Rifai, selain membentuk Satgas Pangan, pemerintah juga mesti disadarkan dengan penyelesaian jangka panjang, seperti menghentikan keran impor dan memberdayakan produksi dalam negeri.

Dia menilai, ketergantungan terhadap impor merupakan penyebab utama kelangkaan dan ketidakstabilan harga pangan. Padahal potensi di dalam negeri masih bisa diberdayakan untuk menekan stabilitas harga.

“Setiap tahun kita impor daging, sekarang saja kita impor yang rencananya impor daging dari India belum lagi barang pokok lain seperti garam. Padahal kita sendiri mampu untuk memproduksinya,” ungkap Rifai.

Dia mengingatkan, selama pemerintah tidak membenahi produktifitas, maka laju impor dan kekurangan pangan akan terus meningkat dan dapat dipastikan Satgas Pangan hanya akan jadi pajangan saja.

Untuk itu, lanjut dia, reforma agraria yang sudah digaungkan oleh Presiden Joko Widodo harus mampu memberdayakan petani  agar bisa berproduksi. Selain memberi akses pada tanah, pemerintah juga memberi akses permodalan, teknologi, dan jaminan pasar.

“Dengan begitu, sektor pertanian dan peternakan mampu menghasilkan pangan yang melimpah dengan kualitas yang baik dan tidak tergantung impor semata,” jelasnya.

Rifai menegaskan, salah satu aspek penting dari Trisakti adalah berdikari di lapangan ekonomi. Dan itu hanya mungkin kalau Indonesia sudah berdikari dalam produksi pangannya.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut