Rakyat Libya Dalam Perangkap Imperialis

Serangan NATO terhadap Libya, yang sempat dikhawatirkan Hugo Chavez dan Fidel Castro, akhirnya benar terjadi. Berkat legitimasi keputusan Dewan Keamanan PBB tentang Zona Larangan Terbang (No Fly Zone), Sabtu malam (18/3) waktu setempat, militer Prancis, Inggris, dan Amerika Serikat mulai memborbardir kota Tripoli dan sekitar Benghazi lewat pesawat tempur, serta kapal-kapal perang di laut Mediterania. Lebih dari seratus rudal Tomahawk telah diluncurkan menuju ‘sasaran’. Hanya dalam beberapa jam, dilaporkan puluhan warga sipil tewas dan lebih dari 150 orang terluka, termasuk anak-anak.

Bila maksud serangan ini dikatakan sebagai “intervensi kemanusiaan” untuk “melindungi warga sipil Libya” dari “keganasan rezim Khadaffi” maka, dengan kejadian ini, kita saksikan paradoks yang sungguh menyesakkan dan menyesatkan. Namun bila maksud serangan ini dikatakan untuk merebut kontrol atas 46,4 miliar barel cadangan minyak terbukti di Libya, maka kita dapat melihat sedikit cahaya kebenaran.

Sebagai pra kondisi, imperialis AS dan sekutunya telah berhasil mengkampanyekan “masalah kemanusiaan” di negeri ini. Berangkat dari gelombang kebangkitan rakyat yang menyapu Timur Tengah, aksi-aksi protes pun terjadi di Libya. Sebagaimana fungsi represif negara bekerja, tidak ada satupun di antara negara-negara itu yang memperlakukan demonstran dengan baik. Pemukulan, penangkapan, dan pembunuhan terjadi, baik di Tunisia, Mesir, Bahrain, Yaman, maupun Libya sendiri. Tapi kemudian muncul pertanyaan mengganjal, mengapa Libya mendapatkan perhatian dan perlakuan yang begitu ‘istimewa’ dari Barat, baik dalam skala pembahasan, pemberitaan, maupun tindakan. Tampak menggelikan, bahwa perasaan kemanusiaan (humanisme) terhadap oposisi Libya melebihi perasaan yang sama terhadap oposisi di negeri-negeri Timur Tengah lain yang sedang berlawan. Artinya, humanisme yang katanya berlaku universal kembali terbukti omongkosong belaka.

Sejarah pemerintahan Khadaffi memang berbeda dibanding pemerintahan lain di Timur Tengah, yang rata-rata merupakan “anak manis” (good boys) bagi Imperialis Barat. Sejak kelahirannya tahun 1969 hingga kini, pemerintahan Khadaffi selalu bersikap oposisi terhadap Imperialis Barat. Pengecualian sempat terjadi setelah tragedi 11 September 2001 serta menjelang agresi militer NATO terhadap Afghanistan dan Irak. Saat itu Khadaffi cenderung mengambil “pilihan taktis” mendekat pada Barat, turut mengecam “teroris Al Qaeda”, dan sedikit membuka tangan bagi kepentingan imperialis di negerinya, agar terhindar dari nasib serupa kedua negeri sebelumnya. Namun setelah itu ia kembali bersikap keras, di antaranya tampak dalam pidato selama satu jam di hadapan Majelis Umum PBB tahun 2009. Pada kesempatan itu Khadaffi mengecam PBB yang secara kolektif gagal menjaga perdamaian dunia, dan menyebut Dewan Keamanan PBB sebagai “Dewan Teroris”.

Namun kepribadian Moamar Khadaffi, yang sering disebut “megalomania dan narsistis”, rupanya menjadi sasaran empuk untuk mengompori kemarahan dunia. Berita tentang cara pemerintahannya menghadapi oposisi diekspos dalam rupa kekejaman yang luar biasa. Termasuk berita yang tidak terbukti kebenarannya tentang “serangan jet tempur Khadaffi terhadap demonstran sipil tak bersenjata.” Sementara kita belum juga memperoleh kejelasan mengenai anatomi oposisi di Libya, termasuk bagaimana “gerakan massa sipil” mendadak berubah jadi “gerakan bersenjata berat” hampir dalam sekejap mata. Di sisi lain kita tidak dapat menutup mata, bahwa kebijakan-kebijakan populer yang diterapkan pemerintah Libya, seperti pendidikan dan kesehatan gratis, serta distribusi hasil kekayaan minyak yang besar kepada rakyat, membuat Khadaffi memperoleh dukungan politik signifikan dari rakyat.

Eksploitasi rasa kemanusiaan yang menyelubungi maksud ekonomi-politik imperialis telah berlangsung sejak era perang dingin, dan banyak menuai hasil. Oleh karena itu, kiranya penting bagi kekuatan progresif manapun untuk memperhatikan fakta “jebakan humanisme” ini sebagai pertimbangan dalam menentukan sikap politik. Tidak berarti harus membunuh rasa kemanusiaan dalam diri setiap orang, tapi selalu penting untuk menempatkan ekonomi-politik sebagai motif utama dalam sistem kapitalisme imperialistik yang menguasai dunia kini. Berpijak dari sini, kita mengutuk keras serangan militer Imperialis terhadap Libya, dan mendukung penyelesaian masalah internal bangsa Libya lewat cara-cara damai dan demokratis.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • awit

    yah eamng begitu dunia barat…,!!pada YAHUDI cuek aja tuh udah brapa resulusi PBB yg di abaikan dah berapa pembantaian terjadi..,pada adem aja.., dan betapa bodohnya dunia arab..tetep jadi kacungnya amerika pun tanah jawa…, dah memng waktunya kali dunia barat dan yahudi berjaya…,pada akhirnya….