Penjual Buku Bekas Sesalkan Penggunaan Istilah “Teror Bom Buku”

Para penjual buku bekas di Kampung Ilmu, Jalan Semarang, Surabaya, menyesalkan penggunaan istilah “teror bom buku” untuk menamai maraknya pengiriman paket bom di berbagai tempat di Jakarta.

“Buku diidentikkan dengan sarana berbahaya, padahal hanya kebetulan sekali media buku dipergunakan oleh pelaku teror untuk mencapai tujuannya,” kata Budi Santoso, koordinator dari para pedagang buku bekas di Kampung Ilmu.

Kalau pake istilah “teror bom buku”, kata Budi Santoso, seolah-olah ada bahan peledak atau bom yang bernama buku. “Akhirnya, semua orang yang menerima kiriman paket buku akan curiga dengan paket itu, dan menelpon gegana,” katanya.

Menurut pemuda berusia 34 tahun ini, ada baiknya media lebih kritis dan cerdas dalam penggunaan istilah, apalagi jika hal tersebut berhubungan dengan kepentingan masyarakat luas.

“Buku adalah sumber pengetahuan. Coba anda bayangkan jika buku dianggap sebagai sesuatu yang berbahaya, mau jadi apa bangsa ini,” tegasnya.

Dari skenario pengalihan isu hingga pembredelan buku kritis

Karena teror bom itu terjadi di tengah maraknya persoalan bangsa, maka Budi Santoso pun mencurigai adanya upaya pengalihan isu di balik kejadian ini.

“Ini hanya skenario pengalihan wacana di masyarakat. Jika sebelumnya ramai memperbicangkan SBY yang menyalah-gunakan kekuasaannya, maka sekarang orang diarahkan untuk berbicara soal teror bom,” katanya.

Supaya benar-benar bisa mengalihkan isu, maka pengemasan isunya pun dibuat seheboh dan se-bombastis mungkin. Misalnya, dengan menggunakan istilah “teror bom buku”.

Selain untuk tujuan pengalihan isu, Budi Santoso juga mencurigai adanya usaha untuk membredel buku-buku kritis terhadap rejim berkuasa. “Nantinya, jika semakin banyak ketakutan dengan teror bom buku, maka aparat pun akan secara membabi-buta meledakkan setiap paket buku yang diduga bom. Sehingga buku-buku kritis pun turut diledakkan.”

Meskipun belum ada tanda-tanda ke arah sana, tetapi Budi Santoso sudah mewanti-wanti untuk mewaspadai skenario semacam ini. “Segala cara bisa dipergunakan oleh rejim untuk mempertahankan kekuasannya,” tegasnya.

Penjualan buku bekas tidak terpengaruh

Meskipun isu “teror bom buku” sudah terlanjur menyebar, tetapi pengunjung atau pembeli buku di Kampung Ilmu bukannya berkurang, malah semakin bertambah.

“Pasar penjualan buku tidak terkena imbas, malahan para pengunjungnya bertambah di banding hari-hari sebelumnya,” kata Budi Santoso menjelaskan.

Tina, salah seorang pengunjung Kampung Ilmu sore itu, mengaku tidak merasa cemas dengan adanya isu teror bom melalui buku. “Kenapa saya harus takut, buku itu kan sumber pengetahuan,” katanya sambil mengulum senyum tipis.

Tina bahkan mengajak anaknya untuk berbelanja buku murah di Kampung Ilmu. Ia sering kali mengunjungi toko buku bekas, termasuk di kampung ilmu, karena harganya sangat murah dan koleksinya pun terbilang lengkap.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Kalau buku sih yang jadi bekas adalah kertasnya kalau isinya sih ga bakalan basi. Memang ada tema tema tertentu yang jadi basi juga, tapi namanya juga ilmu tetep saja penting. Karena itulah buku bekas dicari, jadi bukan karena murahnya saja yang jadi pertimbangan, isi juga jadi pertimbangan.