“Female Agents” Dan Kisah Perempuan Melawan Fasisme

FEMALE AGENT (Les Femmes de l’ombre)
Sutradara : Jean-Paul Salomé
Penulis Naskah : Agnes Claverie
Tahun Produksi : 2008 (Perancis)
Pemain : Sophie Marceau, Julie Depardieu, Marie Gillain, Déborah François, Moritz Bleibtreu.

Akhir Mei tahun 1944, sebuah pesawat Mustang P-51 buatan Amerika Serikat menerjunkan empat perempuan di sebuah hutan di Perancis. Keempat perempuan itu adalah Louise Desfontaines (Sophie Marceau), Gaelle Lemenech (Deborah Francois), Jeanne (Julie Depardieu), dan Suzy Depres (Marie Gillain).

Mereka sedang menjalankan sebuah misi khusus: menyelamatkan seorang ahli geologi Inggris di Rumah Sakit milik Jerman. Sang ahli geologi telah mempelajari pantai Normandia, tempat yang direncanakan untuk pendaratan pasukan sekutu.

Dalam operasi ini, telah bergabung pula seorang perempuan Italia keturunan Yahudi, Maria (Maya Sansa), yang diketahui sangat ahli dalam mengoperasikan sistim telekomunikasi kabel. Maria berpura-pura bekerja sebagai suster di Rumah Sakit tempat sang ahli geologi disekap.

Pada hari H, Louise dan Maria menyamar menjadi perawat, Jeanne dan Suzy menjadi penari telanjang, sedangkan Gaelle merancang pengeboman. Saudara Louise, Pierre Desfontaines (Julien Boisselier), menjadi pimpinan misi ini.

Demikian sekilas adegan dalam film “Female Agent” (judul aslinya; Les Femmes de l’ombre – “women of the shadows”), yang disutradarai oleh seorang Perancis, Jean-Paul Salomé. Film ini diangkat dari kisah nyata perjuangan seorang perempuan Perancis saat melawan fasisme, yaitu Lise Villameur. Suatu hari, pada tahun 2004, Paul Salome membaca obituri Lise Villemeur di majalah “The Times”.

Lise Villameur aktif dalam perlawanan melawan fasisme Jerman. Pada tahun 1944, ia bergabung dengan sebuah agen operasi khusus bernama Special Operations Executive-SOE, yang sengaja dibentuk oleh perdana menteri Inggris, Winston Churchill. SOE dibagi menjadi dua bagian: seksi F, dijalankan oleh Inggris, dan seksi RF, dijalankan oleh jenderal de Gaulle di Perancis.

Dari data yang ada, dari 400 agen dari seksi F yang dikirim ke perancis antara tahun 1941-1944, 39 orang adalah perempuan, dan 13 diantaranya tidak pernah kembali. Para perempuan ini ditugasi macam-macam, diantaranya, kurir, pelatih senjata, sabotase, dan kadang terlibat dalam perjuangan.

Usaha Jean-Paul Salome tidak sia-sia. Film ini berhasil mengangkat kisah-kisah perempuan dalam perjuangan melawan fasisme, terutama mereka yang bertindak sebagai agen rahasia. Selama 116 menit, Jean-Paul Salome juga membawa kita pada ketegangan. Meskipun ada beberapa adegan yang memperlihatkan ketelanjangan, tetapi film ini sangat jauh dari unsur pornografi.

Kalaupun ada kekurangan, mungkin yang paling nampak adalah kurangnya penjelasan mengenai siapa ahli geologi ini, seberapa penting dia sehingga harus diselamatkan, dan bagaimana orang perancis bisa berada dalam kesatuan militer Inggris.

Selain itu, film ini seolah-olah menggambarkan bahwa sebagian perempuan yang direkrut oleh Louise dalam misi khusus, khususnya Suzy dan Jeanne, dilakukan dengan pemaksaan. Jeanne adalah seorang pelacur yang terancam hukuman mati karena membunuh mucikarinya. Dia menerima tawaran untuk bergabung dalam misi ini demi menghindari hukuman mati.

Sedang Suzy adalah bekas kekasih kolonel Oberst Heindrich, kepala kontra-intelijen jerman yang menjadi target operasi karena dianggap tahu rencana pendaratan D-day. Suzy sangat mencintai kolonel Jerman tersebut, tetapi tidak menyukai ideologi fasisnya. Dalam film itu, Suzy yang ditugaskan untuk membunuh Heindrich di sebuah kamar hotel, malah tewas ditembak kekasihnya itu.

Bagaimana dengan Indonesia? Film “Female Agent” seharusnya menjadi salah satu inspirasi bagi sineas Indonesia untuk menciptakan karya tentang perjuangan kaum perempuan. Pada tahun yang sama, tahun 1944, kaum perempuan Indonesia pun terlibat dalam perjuangan bawah tanah melawan fasisme. SK Trimurti, menteri perburuhan pertama Indonesia, adalah salah satu dari perempuan itu.

Bahkan, ketika rakyat Indonesia sedang berjuang melawan kolonialisme, kaum perempuan juga tampil di garis depan. Anda tentu pernah mendengar nama Laskar Wanita Indonesia (LASWI) dan Barisan Buruh Wanita. Selain itu, sejarah juga mencatat bahwa banyak kaum perempuan Indonesia yang bergabung dalam laskar-laskar bersenjata.

Timur Subangun

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Blog copo aja di posting…by1 sini

  • agung widyatmoko

    saya hobi nonton, dimana saya dapatkan film-film ini? tolong info. terima kasih