Militer Mesir Ultimatum Mursi Untuk Akhiri Krisis Politik

Pimpinan Angkatan Bersenjata Mesir, Senin (1/7/2013)  telah memberikan waktu 48 jam kepada Presiden Mesir Muhamad Mursi untuk memenuhi tuntutan rakyat terkait pengunduran dirinya.

Pimpinan militer juga menyatakan, jika Mursi tidak bisa melakukannya, maka pihak militer akan menggunakan peta jalan sendiri atau melakukan intervensi untuk mengatasi krisis politik.

Militer mengaku sudah memberikan kesempatan seminggu kepada semua pimpinan faksi politik untuk mencapai konsensus dan mengakhiri krisis. Namun, seminggu berlalu, para pemimpin politik justru memilih jalanan untuk mengekspresikan kepentingan masing-masing.

Menanggapi ultimatum itu, Presiden Mursi menyatakan tidak akan menyerah di bawah ancaman kudeta militer. Ia menganggap pernyataan militer sebagai kudeta. Namun, ia menegaskan bahwa posisinya aman selama pemerintahannya didudukung oleh AS.

“Jelas kami merasa ini adalah kudeta militer, “kata salah seorang pembantu Presiden. “Tetapi keyakinan kami di dalam pemerintahan bahwa (kudeta) tidak mungkin bergerak maju tanpa dukungan AS,” tambahnya.

Hanya beberapa jam setelah pernyataan militer, helikopter berputar-putar di atas lapangan Tahrir, tempat berkumpulnya ratusan ribu massa, sembari membawa bendera Mesir.

Tamarod, salah satu kelompok yang mengorganisir protes, menyatakan bahwa statemen militer menunjukkan bahwa mereka mengambil posisi di rakyat. Namun, mereka tetap menginstruksikan kepada para pendukungnya untuk tetap di jalan dan di lapangan hingga pemerintahan Mursi benar-benar berakhir.

Pernyataan militer itu hanya beberapa jam setelah 5 menteri Mursi menyatakan pengunduran diri. Mereka adalah Menteri Pariwisata Hisham Zaazou, Menteri IT dan komunikasi Atef Helmi, Menteri untk Urusan Hukum dan Parlemen Hatem Bagato, Menteri Pengairan Abdel Qawy Khalifa, dan Menteri Lingkungan Khaled Abdel-Aal.

Sementara jalanan Mesir masih dipenuhi dengan gelombang aksi protes, baik penentang maupun pendukung Mursi. Di Kairo, kantor Partai Ikhawanul Muslimin dibakar dan dijarah. Kejadian itu menyebabkan 8 orang tewas.

Banyak pengamat menilai, ultimatum militer hanya memberikan beberapa pilihan kepada Presiden Mursi, yakni mengundurkan diri dari jabatannya atau menggelar pemilu lebih cepat dari jadwal; berbagi kekuasaan dengan para penentangnya, seperti menempatkan mereka di posisi perdana menteri; dan atau menyerukan kepada pendukungnya, yakni islam fundamentalis, untuk memukul mundur demonstrasi anti-Mursi.

Raymond Samuel 

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut