Situs Gunung Padang Dan Gotong Royong

Situs Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat, terus di-ekskavasi. Meski proses ekskavasi belum usai, para arkeolog sudah menyimpulkan bahwa ada bangunan megah di bawah situs ini.

Arkeolog muda dari Universitas Indonesia, Ali Akbar, mengungkapkan,  pembuat bangunan Gunung Padang adalah masyarakat yang sudah memiliki peradaban tinggi.

“Meski tidak ada sumber tertulis, tapi pasti dibuat oleh masyarakat yang sudah berkehidupan teratur, sudah ada organisasi sosial. Namun, tidak harus organisasi sosial berbentuk kerajaan,” tegasnya.

Dr. Ir. Budianto Ontowirjo, pakar teknik sipil konstruksi bangunan modern dan ourbakala dari BPPT, berusaha menghitung jumlah batu dan tenaga yang terlibat dalam pembangunan situs.

Dari hitungan kasarnya, Dr Ir Budianto menyimpulkan, bangunan megah berbentuk punden berundak 5 teras di gunung Padang tersebut dibangun oleh sedikitnya 6.000 orang warga. Ia menduga warga itu berasal dari 3 desa, yakni desa Cikuta, Cipanggulaan, dan Karyamukti. Dan proses pembangunannya memakan waktu kurang lebih 5 tahun.

Yang lebih menarik lagi, dari hasil penelitian Ali Akbar, proses penyusunan batu di bangunan Gunung Padang itu sudah mengenal semacam adonan perekat. “Kemungkinan mereka sudah mengenal ‘semen’. Cerdasnya lagi, mereka tahu di mana harus menempatkan perekat,” ujarnya.

Situs Gunung Padang merupakan peninggalan kebudayaan megalitikum terbesar di Asia Tenggara. Situs itu diperkirakan dibangun pada rentang waktu 2.500 – 1.500 Sebelum Masehi.

Menanggapi temuan para arkeolog itu, Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD) Agus Jabo Priyono mengatakan, situs Gunung Padang, termasuk bangunan megah di bawahnya, merupakan mahakarya bangsa Indonesia di masa lampau.

“Ini menandakan bahwa, pada masa yang lampau, bangsa Indonesia sudah memiliki peradaban yang sangat maju,” ujarnya.

Agus Jabo juga mengatakan, pelajaran berharga dari penemuan bangunan megah di bawah situs Gunung Padang adalah bahwa bangunan itu dibangun secara gotong-royong. “Artinya, dengan gotong-royong, bangsa Indonesia membangun peradaban besar,” paparnya.

Dalam konteks saat ini, ujar Agus Jabo, bangsa Indonesia perlu menghidupkan kembali tradisi gotong-royong itu. Terlebih lagi, tambah dia, bangsa Indonesia saat ini makin terpuruk akibat penjajahan asing.

“Inilah pelajaran berharganya. Di masa lampau, dengan bergotong-royong, bangsa kita melahirkan peradaban besar. Lalu, ketika bangsa Indonesia bersatu dan bergotong-royong menghadapi penjajah, kemerdekaan pun berhasil diraih,” tegasnya.

Agus Jabo berharap, di tengah keterpurukan bangsa saat ini, rakyat Indonesia bisa membangkitkan kembali tradisi gotong-royong untuk mengusir penjajahan gaya baru (neokolonialisme) dan mendatangkan masyarakat adil dan makmur.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut