PRP: Pembunuhan Di LP Cebongan Bukan Pemberantasan Preman

Partai Rakyat Pekerja (PRP) menilai, setelah terkuaknya pelaku pembunuhan terhadap 4 orang tahanan titipan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas II-B Cebongan, Sleman, Yogyakarta, telah terjadi pergeseran isu dari pembunuhan terhadap para tersangka di LP Cebongan menjadi pemberantasan preman.

“Pergeseran isu dari pembunuhan menjadi pemberantasan preman hingga pujian kepada para anggota Kopassus seperti menjadi pembenaran atas tindakan pembunuhan para tahanan titipan di LP Cebongan,” kata Ketua Nasional PRP, Anwar Ma’ruf, di Jakarta, Selasa (9/4).

Padahal, menurut Ma’ruf, yang terjadi di LP Cebongan adalah pembunuhan tahanan kepolisian oleh anggota Kopassus dengan menggunakan senjata yang dibeli dari pajak rakyat.

Ma,ruf menegaskan, tidak ada alasan apapun yang dapat membenarkan suatu pembunuhan, apalagi pembunuhan tersebut dilakukan oleh aparat keamanan terhadap rakyatnya.

“Para tahanan tetap memiliki hak untuk dilindungi oleh negara serta dijamin haknya di dalam konstitusi. Apalagi mereka, para tahanan titipan itu, belum divonis bersalah oleh pengadilan,” tegasnya.

Ironisnya, tutur Ma’ruf, sementara tindakan anggota Kopassus tersebut dianggap sebagai pemberantasan preman, praktek kriminalisasi terhadap rakyat terus berlangsung hingga hari ini.

“Para petani yang mempertahankan lahannya dari serbuan pemilik modal pada akhirnya dikriminalisasi oleh rezim neoliberal. Begitu juga para buruh yang dianggap melawan kebijakan pengusaha atau pemerintah yang tidak pro terhadap nasib buruh, akhirnya juga banyak yang dikriminalisasi,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan, jika premanisme tidak bisa diberantas oleh para aparat keamanan, hal itu menunjukkan bahwa rezim neoliberal saat ini tidak bisa dan tidak mampu untuk memberantas premanisme yang telah meresahkan masyarakat.

“Artinya, rezim neoliberal telah gagal untuk melindungi rakyatnya agar mendapatkan rasa aman dan terbebas dari rasa takut,” tegasnya.

Namun, kata Ma’ruf, hal tersebut tidaklah aneh, mengingat rezim neoliberal memang selalu melindungi berbagai bentuk premanisme demi kepentingannya maupun kepentingan para pemilik modal.

“Rezim neoliberal dengan sengaja memelihara pasukan preman untuk meredam aksi-aksi gerakan buruh, gerakan tani, dan gerakan rakyat lainnya, atau bahkan menghambat kebebasan rakyat untuk melakukan ibadah sesuai dengan keyakinannya,” katanya.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut