Menjawab Ajakan Xi Jinping

Tujuan dari perdagangan internasional adalah meningkatkan kemakmuran tiap-tiap bangsa; yang pada akhirnya adalah juga meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat di masing-masing negeri. Bila tujuan ini tidak tercapai, perdagangan internasional menjadi sia-sia; terlebih lagi bila perdagangan internasional itu justru menguntungkan salah satu bangsa dan menjerumuskan bangsa lainnya menjadi semakin miskin.

Hubungan seperti ini bukanlah tujuan perdagangan internasional tetapi justru bentuk penjajahan.  Tetapi jelas bagi kita bahwa perdagangan internasional tidak mungkin dihindari: apakah ia setara atau tidak, itu tergantung dari sudut masing-masing bangsa atau negeri yang terlibat.

Sejak dahulu di masa purbakala, perdagangan internasional pun sudah terjadi walau bentuknya tidak serumit sekaligus secanggih sekarang. Sriwijaya sebagaimana kita ketahui begitu makmur karena terlibat dalam perdagangan internasional di samping memang juga menguasai jalur perdagangan internasional terutama di Selat Malaka yang merupakan jalur utama perdagangan dari Tiongkok ke India dan sebaliknya. Dengan demikian, berkuasa memungut cukai dan bea sebagai pemasukan negeri. Kita bisa membayangkan: seandainya Sriwijaya tidak terlibat dalam perdagangan internasional waktu itu, tentu tak ada keuntungan lebih yang masuk ke Sriwijaya. Dengan demikian, Sriwijaya tidak bisa mengambil keuntungan dari posisi geografi, yaitu letak wilayahnya yang strategis dalam jalur alami perdagangan dunia baik dari barat ke timur maupun selatan ke utara.  Itulah sebabnya mengapa Singasari yang melihat kemerosotan Sriwijaya tidak tinggal diam saja tetapi ngotot untuk mengambil dan mengamankan jalur perdagangan alami tersebut daripada dikuasai oleh kekuatan baru yang tumbuh di Tiongkok: Dinasti Yuan.

Jelas bahwa perdagangan internasional adalah alat untuk meningkatkan kemakmuran. Tetapi jelas juga bahwa kekuatan politik, dalam hal ini juga kekuatan militer, bisa menjadi faktor penentu dalam memajukan perdagangan dunia. Dunia yang kacau tanpa keamanan yang pasti tentu mengakibatkan perdagangan internasional tidak akan terjadi. Hubungan yang tidak adil atau setara juga bisa menjadi penghalang bagi kelanjutan perdagangan internasional sebagaimana ditunjukkan oleh sikap Singsari terhadap permintaan tunduk kepada Dinasti Yuan. Sebaliknya Majapahit bisa menjalin hubungan dengan Dinasti Yuan dan sama-sama mengambil keuntungan dalam perdagangan internasional barangkali tercapai saling pengertian dan kesepahaman.

Tampaknya situasi perdagangan internasional hari ini pun memerlukan saling pengertian dan kesepahaman agar saling menguntungkan dan tidak membuat bangsa lain semakin kaya sementara bangsa satunya justru semakin miskin. Partisipasi sukarela masing-masing negara dalam perdagangan internasional akan terjadi bila masing-masing negara itu dapat melihat peluang untuk meningkatkan kemakmuran. Negara-negara maju dengan industri besar tentu memerlukan pasar dunia agar industri besarnya itu tidak macet. Tidak lancarnya arus barang ke pasar dunia tentu saja akan mematikan roda perekonomian yang bisa meledak menjadi perang dunia yang dalam hal tertentu berarti untuk mendobrak pintu-pintu tertutup atas nama ekonomi nasional atau kepentingan nasional.

Situasi menggelisahkan inilah yang bisa berarti juga sebuah ancaman  yang disampaikan Xi Jinping  pada Pertemuan Tingkat Tinggi G-20 di Hangzhou, China agar  Negara-negara G-20 melawan proteksionisme. (Kompas.com,Senin, 5 September 2016 | 10:11 WIB).  Presiden AS Barack Obama setidaknya menyetujui pentingnya kerja sama internasional dalam perdagangan untuk menyelamatkan perdamaian dunia.

Dengan begitu, proteksionisme dianggap sebagai penghalang kemajuan ekonomi dan usaha  meningkatkan kemakmuran, sebab proteksionisme menghambat jalannya kerja sama perdagangan internasional. Dalam situasi sekarang, negara-negara Industri maju, termasuk juga China, tentu menginginkan dibukanya lebar-lebar arus perdagangan dunia sebab secara kasat mata akan menguntungkan mereka, sementara bagi negeri-negeri  yang tidak mempunyai industri nasional yang tangguh  seperti Indonesia merasa kuatir akan kebanjiran barang impor.

Dalam situasi ini apakah kita akan mengamini ajakan Xi Jinping atau justru sebaliknya menjalankan proteksionisme?

Presiden Jokowi telah mencanangkan perlunya menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Makna dari pernyataan ini jelas bahwa sebagai poros maritim dunia Indonesia haruslah terlibat dan terhubung dengan jalur perdagangan internasional sebagaimana dikatakan Xi Jinping: membawa perekonomian dunia yang inovatif, terbarui, terinterkoneksi, dan inklusif, serta putaran pertumbuhan yang solid.

Tetapi tentu saja sebagai poros maritim dunia itu Indonesia haruslah berdaulat di laut dan pantainya sendiri; tidak seperti kehendak Dinasti Yuan kepada Singasari yang menuntut ketundukan dan upeti.

AJ Susmana, Wakil Ketua Umum Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP PRD)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut