SGMI: Kembali Ke Pancasila Dan UUD 1945

studentrevolt

Organisasi pergerakan mahasiswa yang tergabung dalam Solidaritas Gerakan Mahasiswa Indonesia (SGMI) menyerukan agar penyelenggara negara segera kembali pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Seruan tersebut dikeluarkan sebagai reaksi terhadap kondisi penyelenggaraan negara saat ini yang makin melenceng dari nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.

“Bangsa Indonesia saat ini makin menjauh dari cita-cita masyarakat adil dan makmur. Itu lantaran bangsa ini sudah terlalu lama meninggalkan Pancasila dan UUD 1945,” ujar salah satu juru bicara SGMI, Lidya Natalia Sartono, dalam siaran pers, Senin (13/7/2017).

Menurut Ketua Umum Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) ini, Pancasila kini diperhadapkan dengan neoliberalisme yang kian massif diterapkan oleh pemerintahan RI pasca reformasi.

Serangan neoliberalisme itu, lanjut dia, menyebabkan  memudarkan rasa toleransi dalam berke-Tuhanan, hilangnya rasa kemanusiaan antar-sesama, hilangnya rasa kebangsaan, dan hilangnya demokrasi yang berbasiskan kesejahteraan sosial.

“Nilai-nilai pancasila selanjutnya tidak mempunyai peran besar dalam kehidupan masyarakat yang akhirnya berakibat pada jauhnya bangsa Indonesia dari kemakmuran,” tandasnya.

Pendapat hampir senada juga disampaikan oleh Ketua Umum Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Vivin Sriwahyuni. Menurut dia, amandemen terhadap UUD 1945 pasca reformasi telah menyebabkan konstitusi Republik Indonesia itu menjadi liberal dan kehilangan semangat anti-kolonialismenya.

Karena itu, Vivin menegaskan, bangsa Indonesia perlu kembali pada semangat UUD 1945 yang asli, yaitu UUD 1945 yang dilahirkan oleh Proklamasi 17 Agustus 1945, lalu disempurnakan sesuai tuntutan dan kebutuhan rakyat Indonesia saat ini.

SGMI merupakan gabungan dari Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (HIKMAHBUDI), Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI), dan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND).

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Martin D. Sumiadi

    Reformasi kita memang reformasi yang didasarkan pada kejenuhan terhadap Pemerintahan Presiden Suharto padawaktu itu. Dan kita tidak mempersiapkan diri untuk mengisi dengan baik Pemerintahan selanjutnya.Ketika kita membongkar rumah tua ORBA…Kita tidak pernah mempersiapkan untuk membangun rumah baru yang lebih baik…yang terjadi Maling seng…maling besi beton maling kayu maling sisa-sisa bangunan. Merekalah yang menguasai negara ini. Mengamandemen UUD 45…adalah pintu masuk Neolibralisme. Orang bodoh kalau ngaku pinter jadinya ya keblinger.
    Hanya satu jalan untuk jadi baik kembali ke UUD 45. Soekarna pernah melakukan ketika Negara kehilangan pijaka..Khusus untuk rekan PRD…persiapkan kader kalian…jangan bongkar rumah dikerubutin maling..Salam TISAKTI.