Setahun ‘Venezuela Tanpa Chavez’

Hugo Chavez.jpg

Ketika Hugo Chavez meninggal dunia setahun yang lalu, tepatnya 5 Maret 2013, banyak orang berimajinasi tentang ‘masa depan Venezuela tanpa Chavez’.

Di tahun 2011, ketika kesehatan Chavez mulai digerogoti oleh kanker, oposisi kanan Venezuela mulai mengidam-idamkan ‘Venezuela tanpa Chavez’.  Sebagian besar berkeyakinan, ketika Chavez sudah hilang secara fisik, maka revolusi Bolivarian akan menemui ajalnya.

Moises Naim, seorang oposisi yang pernah menjadi Menteri Perindustrian di era pra-Chavez, menulis di The Washingtong Post tentang ‘Venezuela tanpa Chavez’ itu. Menurutnya, tanpa kehadiran sosok Chavez, perselisihan internal menjadi tak terelakkan, terutama di kalangan pro-Chavez.

Sejumlah media internasional mengulas tentang adanya faksi-faksi di tubuh “Chavistas” [pendukung Chavez]. Ada dua faksi yang sangat dominan, kata mereka, yakni: gerakan sosial/sipil dan militer. Dua sosok yang disebut-sebut penerus Chavez, yakni Nicolas Maduro dan Diosdado Cabello, dihubungkan dengan kedua faksi itu. Maduro mewakili gerakan sosial/sipil, sedangkan Cabello punya pengaruh kuat di kalangan militer.

Dengan analisa di atas, mereka kemudian menyimpulkan bahwa akan terjadi rivalitas antara dua faksi tersebut. Hal itu, tentu saja, akan melemahkan kesatuan di tubuh chavistas, baik di kubu koalisi partai dan organisasi penyokong pemerintah (Polo Patriotico) maupun di tubuh Partai Sosialis Venezuela (PSUV).

Singkat cerita, dengan berpegang pada analisa di atas, oposisi dan pendukung internasionalnya sudah tidak sabar membayangkan berakhirnya revolusi Bolivarian. Bahkan, Presiden Barack Obama sangat percaya diri menyatakan akan memperbaiki hubungan dengan rezim pasca-Chavez di Venezuela.

Tetapi analisa segera terbantahkan saat itu juga. Saat itu Chavistas satu suara dalam mendukung Maduro sebagai kandidat Presiden untuk menggantikan Chavez. Friksi antara sipil dan militer tidak terjadi.  Bahkan, dalam pemilu Presiden pada April 2013, yang mempertarungkan Nicolas Maduro (Chavistas) dengan Henrique Capriles Radonski (oposisi), Chavistas menang.

Kemenangan itu menampar wajah oposisi, juga kekuatan barat di belakangnya, yang sudah terlanjur bermimpi tentang akhir Revolusi Bolivarian. Tak mengherakan, oposisi dan pendukung internasionalnya—terutama Amerika Serikat—bersikeras menolak hasil pemilu demokratis tersebut.

Kekalahan itu juga membuat oposisi habis kesabaran. Mereka kemudian mendorong aksi kekerasan di seantero Venezuela: blokade jalan, merusak klinik kesehatan,  pembakaran kantor PSUV, pengrusakan toko-toko sembako rakyat, dan lain-lain. Mereka juga menggalang kampanye internasional untuk menolak hasil pemilu presiden Venezuela.

Aksi kekerasan punya tujuan: mendorong konflik berdarah di Venezuela, sehingga ada dalih bagi sekutu internasional (AS dan sejumlah negara Eropa) untuk melakukan intervensi. Beruntung, Chavistas tidak meladeni provokasi kekerasan tersebut.

Namun, serangan oposisi tidak berhenti. Kali ini mereka melancarkan sabotase ekonomi, seperti sabotase listrik [sepanjang April hingga Desember 2013], penyelundupan sembako, dan infrastruktur layanan publik lainnya. Tujuannya jelas: mendorong ketidakpuasan sosial terhadap kinerja pemerintah.

Malahan, dalam sebuah dokumen yang disebut “Strategic Venezuelan Plan”, sebagaimana diungkap Eva Golinger, penulis buku “Chavez Code”, pihak oposisi mencoba menghubungi sejumlah pemimpin militer aktif dan pensiunan untuk menghasut Angkatan Bersenjata agar menentang revolusi.

Semua strategi oposisi di atas, dari aksi kekerasan hingga sabotase ekonomi, diarahkan untuk mengalahkan kubu Chavistas dalam pemilu Kotamadya pada Desember 2013. Pada kenyatannya, angan-angan oposisi itu kembali kandas. Justru koalisi Chavistas yang menang besar: dari 337 walikota yang terpilih, sebanyak 256 walikota (76%) adalah pendukung Chavistas.

Kenyataan itu membuat oposisi memikirkan ulang strategi mereka. Dinamika internal di kalangan oposisi membawa mereka pada dua taktik berbeda: kekerasan dan damai. Taktik kekerasan dijalankan oleh tokoh bernama Leopoldo Lopez. Sementara taktik aksi damai, dengan mengangkat isu spesifik seperti kelangkaan sembako, kriminalitas, dan inflasi, di pimpin oleh Capriles Radonski. Kendati berbeda taktik, tetapi kedua kelompok oposisi ini punya muara yang sama: melengserkan Presiden Maduro dan mengakhiri revolusi Bolivarian.

Namun, berbagai fakta di atas menggugurkan anggapan banyak pengamat kanan dan media mainstream bahwa hidup-matinya revolusi Bolivarian sangat bergantung pada sosok Chavez. Pada kenyataannya, kendati tanpa kehadiran Chavez secara fisik, revolusi Bolivarian masih terus berjalan.

Chavez punya karisma yang besar. Ia tahu rakyat sangat mencintainya dan loyal padanya. Namun, Chavez tidak memanfaatkan kecintaan rakyat itu untuk ‘loyalitas buta’ dan pengkultusan. Sebaliknya, ia mengubah kecintaan rakyat itu menjadi “organisasi” dan “partisipasi” rakyat dalam proses Revolusi.

Ia kemudian menginisiasi pembentukan organisasi rakyat. Ia menyerukan pembangunan kembali Gerakan Bolivarian Revolusioner-200. Tak hanya itu, ia menyerukan rakyat miskin mengorganisir diri dalam lingkaran Bolivarian. Belakangan, ia mendorong pembentukan partai revolusioner: Partai Sosialis Venezuela (PSUV).

Chavez mengeritik sosialisme Soviet di abad ke-20, yang terperosok ke dalam penyimpangan Stalinisme: birokratisme partai dan penyingkiran protagonisme massa-rakyat. Sebagai antitesanya, Chavez mengusung proyek Sosialisme abad  21, yang berkomitmen kuat pada kesetaraan, kemerdekaan, pembangunan manusia, dan demokrasi sejati.

Chavez menegaskan, kunci utama untuk membangun sosialisme abad-21 ini adalah partisipasi rakyat atau menempatkan rakyat sebagai protagonis dalam proyek sosialisme. Dan, tak hanya sebatas retorika, Chavez membukakan ruang untuk partisipasi rakyat itu: dewan komunal, dewan buruh, dewan mahasiswa, dan dewan petani.

Inilah yang membuat revolusi Bolivarian sangat kokoh. Dengan partisipasi rakyat, Revolusi Bolivarian berhasil menghalau kudeta dan berbagai upaya destabilisasi: kudeta terhadap Chavez tahun 2002, upaya oposisi menghentikan produksi minyak di tahun 2002-2003, upaya destabilisasi (guarimba) di tahun 2004, dan lain-lain. Ini pula yang membuat Chavistas memenangkan 18 pemilihan (pemilu dan referendum) dari 19 kali pemilihan sejak tahun 1998.

Selain itu, sampai hari ini, militer Venezuela masih berada di sisi konstitusi. Memang, militer Venezuela–terutama perwira muda dan prajurit rendahan–cukup loyal terhadap revolusi Bolivarian. Kharisma personal dan daya juang Chavez juga memikat prajurit-prajurit militer. Tak hanya itu, seperti ditegaskan oleh Marta Harnecker dalam artikel bertajuk “The Venezuelan Military: Making An Anomaly?”, militer Venezuela sangat berkomitmen dalam membela konstitusi dan demokrasi.

Beberapa kejadian terakhir menguji hal tersebut. Pada April tahun lalu, ketika oposisi menolak mengakui hasil pemilu [kemenangan Chavistas], militer tidak terseret. Selain itu, militer juga ambil bagian dalam menggagalkan sejumlah aksi sabotase ekonomi—terutama sabotase infrasruktur listrik dan penyelundupan bahan pokok—dan menangkap sejumlah ‘tentara bayaran’ yang sengaja dimasukkan untuk memprovokasi kekacauan di Venezuela.

Revolusi Bolivarian memang menarik. Revolusi ini menempatkan kekuasaan rakyat melalui pemilu. Tak hanya itu, revolusi ini juga mendorong transformasi sosial melalui jalan institusional dan konstitusi. Kendati demikian, revolusi ini tidak pernah meninggalkan mobilisasi kekuatan popular sebagai nyawanya.

Namun, sejarah juga mengajarkan, banyak perubahan yang digagas melalui jalur konstitusional, dengan pemimpin yang dipilih melalui pemilu demokratis, tetap berakhir dengan kudeta atau perang sipil berkepanjangan. Di Guatemala, antara 1944-1950, United Fruit (perusahaan AS) mendanai 32 upaya kudeta terhadap rezim yang terpilih secara demokratis, Jose Arevalo. Di Chile, tahun 1973, militer yang disokong CIA melancarkan kudeta terhadap presiden yang terpilih secara demokratis dan mendorong perubahan secara konstitusional, Salvador Allende.

Revolusi Bolivarian juga mengalami rintangan serupa. Dua bulan terakhir ini, ada kecenderungan yang menunjukkan bahwa oposisi sayap kanan Venezuela, dengan dukungan kekuatan internasionalnya, akan menggunakan segala cara untuk melemahkan revolusi Bolivarian: kekerasan, sabotase ekonomi, menggunakan media dominan untuk memanipulasi kenyataan, dan lain-lain. Dan ingat, pemerintahan Obama menggelontorkan dana 5 juta US dollar untuk oposisi Venezuela tahun ini.

Di samping itu, revolusi Bolivarian juga menghadapi masalah ekonomi yang tidak ringan, seperti inflasi dan kelangkaan sembako. Revolusi Bolivarian juga mewarisi struktur ekonomi—meminjam istilah para ekonom—“penyakit Belanda”, yakni ekonomi yang bertumpu pada sektor tertentu, yakni minyak, tetapi menyebabkan masalah atau mengorbankan sektor ekonomi yang lain. Memang, sejak beberapa tahun terakhir, ada upaya Chavez—dan dilanjutkan oleh Maduro– untuk membangun kembali sektor pertanian dan sektor industri non-migas.

Di samping masalah ekonomi, revolusi Bolivarian juga berhadapan dengan persoalan korupsi dan kriminalitas. Sejak terpilih April 2013 lalu, Maduro aktif berkampanye melawan korupsi. Ia juga tengah memperjuangkan UU yang memungkinkan pemerintahannya punya keleluasaan menghadapi korupsi. “Saya menyerukan kepada rakyat untuk tidak mentolerir korupsi, baik dari kerah kuning [kaum oposisi] maupun kerah merah [pendukung pemerintah,” kata Maduro.

Untuk soal kejahatan, pemerintahan Maduro juga bukan tanpa upaya yang serius. Selain mengefektifkan aparat keamanan dan partisipasi komunitas, pemerintah sedang merancang National Pacification Plan, yang mengakomodir 150.000 usulan warga dan berbagai organisasi, untuk memerangi kejahatan. Baru-baru ini, pemerintah Venezuela memasang kamera pemantau di sejumlah tempat dan melarang pengendara motor di malam hari.

Tapi, jangan lupakan pula capaian revolusi Bolivarian. Dalam satu dekade terakhir, penangguran berkurang separuh, kemiskinan turun 70%, dan ketimpangan ekonomi berkurang drastis (koefisien GINI Venezuela turun dari 0,46 pada tahun 1999 menjadi 0,39 pada tahun 2011). Sektor pendidikan dan kesehatan berkembang pesat dan bisa diakses gratis oleh seluruh rakyat. Para lansia juga tidak perlu khawatir dengan masa depan mereka karena mendapat jaminan hidup dari negara.

Jadi, gejolak atau demonstrasi yang muncul di Venezuela belakangan ini bukanlah karena kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan ekonomi (sebagaimana terjadi di Yunani, Spanyol, Portugal, Mesir, Tunisia, Turki, dan lain-lain). Juga bukan karena persoalan ruang demokrasi dan kebebasan. Sebab, hak rakyat Venezuela untuk menyatakan pendapat berlangsung bebas dan reguler, baik lewat aksi massa, pemilu, referendum, media massa dan lain-lain. Kelompok oposisi yang menggelar demonstrasi di Venezuela adalah kelompok oligarki dan klas menengah—sebagian besar mahasiswa. Mereka ingin mengembalikan Venezuela seperti sebelum Chavez: ke alam neoliberalisme.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut