Seputar Rapor Merah dan Reshuffle Kabinet?

Ketika seorang anak didik mendapatkan rapor merah, maka jangan harap dia punya peluang untuk naik kelas. Demikian pula dalam politik, istilah “rapor merah” telah dialamatkan pada pejabat negara yang kurang berhasil menjalankan program kerja-nya. Akhir-akhir ini, rapor merah para menteri telah dihubung-hubungkan dengan “reshuffle kabinet”.

Kita dibuat semakin bingun, ibarat petir yang muncul tiba-tiba menyambar, tidak ada penjelasan yang konkret soal kenapa rapor-nya bernilai merah dan apa hubungannya dengan reshuffle kabinet?

Pergantian Pemain

Untuk memudahkan pengertian rakyat kecil mengenai istilah reshuffle, maka kita pun mengibaratkan peristilahan ini dengan “pergantian pemain” dalam permainan sepak bola, olahraga yang sangat populer di mata rakyat.

Jika seorang pelatih memutuskan untuk melakukan pergantian pemain, maka tentunya ada standar penilaian atau evaluasi terhadap penampilan pemain tersebut, sehingga pantas untuk diganti dan penggantinya itu jauh lebih tepat. “Jika anda bermain buruk di dalam tim, maka tempat anda adalah di luar lapangan,” demikian kira-kira penggambarannya. Jadi, ukurannya bukan sekedar bermain “indah” secara individual, tetapi juga sanggup bekerjasama dengan baik dalam suatu tim.

Dalam dunia politik, bila pandangan itu hendak diterjemahkan, maka reshuffle kabinet terkait dua hal; pertama, Si pejabat menteri tidak sanggup bekerjasama dengan presiden dan menteri-menteri lainnya. Kedua, pejabat menteri ini memang memperlihatkan kinerja yang buruk, sehingga berpotensi menurunkan popularitas pemerintahan secara keseluruhan.

Menariknya lagi, isu reshuffle dalam perpolitikan kita terkadang tidak berdasarkan kedua skenario itu, melainkan berdasarkan imbangan kekuatan dalam politik transaksional, yaitu, siapa yang kuat dan loyal, maka dia yang mendapat porsi lebih besar.

Maksud Rapor Merahnya Kuntoro?

Isu rapor merah segera melejit setelah Kepala Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4), Kuntoro Mangkusubroto mengeluarkan laporan evaluasi mengenai kinerja menteri KIB II.

Aneh sekali, tanpa diduga-duga sebelumnya, lembaga seperti UKP4 tiba-tiba mengeluarkan penilaian, sesuatu yang seharusnya menjadi kewenangan presiden selaku kepala pemerintahan. Kita tidak akan terlalu membahas soal siapa Kuntoro Mangkusubroto dan sepak terjangnnya selama di BRR-Aceh dan Nias, namun lebih akan memeriksa soal rapor merah yang dimaksudkan.

Rapor merah versi Kuntoro Mangkusubroto tidak dapat dijadikan ukuran, sebab kriteria yang dipergunakan sangatlah sempit, yakni sebatas  inpres Nomor 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Prioritas Pembangunan Nasional. UKP4 bersama Bappenas kemudian menyusun penjabaran inpres itu dalam 14 program prioritas, yang terbagi lagi dalam 70 program, 155 rencana aksi, dan 369 sub-rencana aksi. Nah, penanggung jawab dari 369 sub-rencana aksi ini adalah ke-45 kementrian dan lembaga di KIB II.

Dari 369 sub-rencana aksi, hanya 58 sub-rencana aksi yang dinilai sangat memuaskan. Sisanya, 235 berkategori memuaskan, 15 kurang memuaskan, dan 49 berkategori mengecewakan. Kategori itu dibuat berdasarkan laporan-laporan yang masuk ke UKP4 per akhir Juni lalu.

Kuntoro menyebutkan, beberapa kementerian mendapat “rapor merah” karena beberapa sub-programnya berkategori mengecewakan. Antara lain Menko Polhukkam, Menko Perekonomian, Menko Kesra, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Hukum dan HAM, serta Kementerian Pekerjaan Umum.

Nah, apa yang disampaikan Kuntoro di atas, sama sekali tidak menjawab soal evaluasi umum dan mendetail mengenai kinerja KIB II. Laporan tersebut sangat tidak pantas untuk dijadikan bahan pertimbangan untuk reshuffle, selain karena kriterianya terlampau sempit, juga karena tidak menjelaskan kinerja secara umum para menteri.

Evaluasi Kuntoro sama sekali tidak menyentuh ke persoalan rakyat, misalnya ledakan kompor gas (Menteri ESDM), kenaikan harga sembako (menteri perdagangan dan Menko Perekonomian), PHK massal (Menteri Perindustrian dan Menaker-trans), kehancuran sektor pertanian (menteri pertanian), keterpurukan sektor pendidikan (mendiknas), dan masih banyak sekali yang lainnya. Pendek kata, belum satupun dari kabinet Indonesia bersatu yang punya kinerja yang baik, yang terasa dalam kehidupan riil rakyat Indonesia.

Dengan mengada-ngada Kuntoro telah menunjukkan rapor palsu, namun dengan mengada-ngada pula Golkar telah mengajukan tuntutan reshuffle kabinet, sambil menghibur bahwa ini demi perbaikan kinerja KIB II.

Lantas, apa maksud rapor merah Kuntoro tersebut? Jelas sekali, bahwa presiden sangat mengetahui keberadaan UKP4, dan karenanya sangat mengetahui rencana dan manuver politik Kuntoro untuk mengumumkan rapor merah ini. Adalah sangat naif untuk menyatakan bahwa Presiden SBY tidak mengetahui hal ini.

Segera setelah Kuntoro mengumumkan rapor merah ini, salah satu pentolan Partai Golkar, sekutu paling penting pemerintahan SBY, Priyo Budi Santoso melontarkan statemen mengenai ‘reshuffle kabinet”. Kuntoro yang melepaskan tembakan, namun Golkar yang segera mengambil untung. Dua korban “peluru” rapor merah adalah politisi dari PAN dan PKS, dua partai yang seringkali tidak penuh dalam mendukung kebijakan pemerintah.

Pemancing di Air keruh

Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa Golkar merupakan partai yang paling berisik menyuarakan reshuffle kabinet, sebagai jalan untuk menambah jatah menteri dari pihak mereka di KIB II. Ini pun sangat sejalan dengan keinginan politik di Setgab.

Setgab menginginkan pemerintahan benar-benar diisi oleh faksi-faksi politik yang sehati dan sejalan dengan pemerintah, tidak dengan mereka yang suka meninggalkan pemerintah ketika sedang diterjang hujan kritik. Namun menjadikan ini sebagai alasan untuk reshuffle tentu sangat kurang elegan, sebab Golkar sendiri merupakan penumpang baru di koalisi partai pendukung pemerintah.

SBY sendiri, meskipun tidak secara terang-terangan, sangat menginginkan reshuffle kabinet sebagai cara pendisiplinan terhadap partai koalisi pendukungnya. Ia telah mengambil pelajaran sangat penting saat drama Century di parlemen, dimana partai-partai pendukungnya telah terbelah dan sebagian masuk barisan oposisi.

Dengan menumpangi suara Kuntoro dan UKP4-nya, baik Golkar maupun SBY, dalam batas-batas kepentingan masing-masing, memiliki kepentingan yang sama untuk memastikan terjadinya reshuffle kabinet. Ini merupakan cara bermain paling aman dalam politik yang sangat transaksional.

Namun, kendati begitu, keduanya sebenarnya adalah pemancing air keruh, karena reshuffle kabinet tidak berbasiskan pada kinerja yang dapat dievaluasi pula oleh publik, melainkan evaluasi sepihak dari keduanya. Dengan demikian pula, reshuffle menjadi sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan perbaikan kinerja pemerintahan secara umum.

Namun, apakah orang-orang yang direshuffle dari kabinet merupakan orang-orang bersih, itu pun tidak ada jaminan. Reshuffle kabinet hanya imbas dari persaingan politik, pertarungan kepentingan untuk mendapatkan jatah kekuasaan yang lebih besar.

Ganti Haluan dan Pergantian Total

Kriteria penilaian seperti Kuntoro di atas tidak memiliki persamaan sama sekali dengan kenyataan-kenyataan riil yang dihadapi rakyat. Kemendesakan saat ini, ialah tidak sekedar mengganti satu-dua orang menteri, namun mengganti secara keseluruhan dan merubah haluan ekonomi dan politik yang menjadi kiblat pemerintah sekarang.

Letak persoalannya ada di haluan dan kemudi jalannya pemerintahan saat ini, yang selalu saja mengambil kiblat pada Washington, atau sering disebut imperialisme barat. Hampir semua tindak-tanduknya, gerak-geriknya, dan sikap politiknya dituntun dan didikte dari luar, yaitu oleh triumvirat imperialisme neoliberal—korporasi raksasa, negeri imperialis, dan lembaga internasional pendukungnya.

Kita sudah seringkali menyaksikan reshuffle kabinet, tetapi tidak perbedaan yang signifikan dalam hal kebijakan dan keberpihakan dengan masa sebelumnya, karena yang berganti hanya rupa orangnya, sementara cara berfikir dan pola kerjanya tetap sama. Untuk mengobat sakit tumor tidak cukup dengan menggaruknya, tapi harus berani untuk mengangkat tumornya.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut