Seniman Bicara Bhineka Tunggal Ika

Puluhan seniman berkumpul di kedai Tempo, jalan Utan Kayu nomor 68, Jakarta Timur, Jumat (9/2) malam, dalam acara bernama “Ngobrol Bareng Seniman”.

Acara yang digagas oleh Jaringan Lintas Seni Bhineka Tunggal Ika (Jalan Kita) ini disemarakkan dengan pentas musik, orasi kebudayaan, puisi dan teater.

Roso Suroso, penggagas acara ini, mengatakan, seninam berkumpul untuk bicara Bhineka Tunggal Ika karena menguatnya bahaya intolerasi.

Intoleransi ditandai dengan hadirnya kelompok yang tidak menenggang pendirian, keyakinan atau kebiasaan pihak lain, entah berbasis agama, politik maupun rasistis.

“Seniman harus membuat garis pemisah, pembatas yang tegas, dengan kelompok intoleran,” kata Roso dalam sambutannya di pembukaan acara ini.

Hal senada disampaikan Sekretaris Jenderal Fornas Bhineka Tunggal Ika, Taufan Hunneman. Menurutnya, kelompok seniman harus bisa melakukan counter narasi terhadap politisasi agama dan identitas.

Sementara itu, Antun Joko Susmana dalam orasinya budayanya menyinggung meluasnya kampanye kebencian terhadap  lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).

“Padahal, UUD 1945 yang menjadi acuan berbangsa dan bernegara, justru tidak membedakan jenis kelamin dalam soal kewajiban dan hak konstitusional warga negara,” katanya.

Ironisnya, lanjut dia, setelah demokrasi menjadi pilihan politik negara, terutama pasca reformasi, kampanye kebencian terhadap LGBT dan kelompok minoritas justru meningkat.

Menurut Wakil Ketua Umum Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD) ini, kampanye kebencian terhadap golongan minoritas, baik LGBT, ahmadiyah, dan lain-lain, akan mengganggu persatuan.

“Omong kosong kita mencintai persatuan Indonesia bila tak bisa menghargai kebhinekaan, suku, agama, kepercayaan, ras dan golongan,” tegasnya.

Acara yang berlangsung sederhana ini disemangati oleh pembacaan puisi oleh Yoko Cakrawala (Kalimantan Tengah), Tisa (UBK), Apuet Saartje (UBK), dan Ragil Biru (Sanggar Teater Biru).

Ada juga penampilan musik reggae dari Summerday (Bekasi), musik blus oleh Cangkemblues, dan suguhan teater dari sanggar Karat Jakarta Barat.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut