Selamatkan Monas Dari Aksi Gantung Diri Koruptor!

Siapa yang tidak tahu Monas? Sejak berdirinya hingga sekarang, Monas telah menjadi simbol. Bila menginjakkan kaki di Jakarta, rasanya tak lengkap bila tidak punya foto berlatar Monas. Monumen setinggi 132 meter terkenal seantero nusantara.

Mungkin, saking terkenalnya, Anas Urbaningrum menjadikan Monas sebagai simbol untuk sumpahnya. Dengan menyebut “siap digantung di Monas”, orang tentu sudah tahu, bahwa ia siap digantung di sebuah monumen yang tinggi.

Namun, ucapan Anas melukai sejarah. Monas dibangun atas keinginan Bung Karno. Saat itu ia berambisi menciptakan sebuah monumen untuk menggambarkan kebesaran bangsa Indonesia.

“Kita membangun Tugu Nasional untuk kebesaran Bangsa. Saya harap, seluruh Bangsa Indonesia membantu pembangunan Tugu Nasional ini,” kata Bung Karno.

Di puncak Monas ada pahatan lidah api sebagai perjuangan rakyat yang menyala-nyala. Tak hanya itu, sebegitu pentingnya mengenang perjuangan rakyat itu, pahatan lidah api itu dilapisi emas. Pembangunan Monas diarsiteki oleh Friedrich Silaban dan R. M. Soedarsono.

Konon, biaya pembangunan Monas hanya Rp 7 milyar. Konon, kalau dihitung dengan nilai uang sekarang, biaya Monas itu berkisar Rp 42 trilyun. Pada masa Soekarno, biaya pembangunan Monas digalang dari rakyat banyak. Sempat terinterupsi ketika meletus peristiwa G/30/S, pembangunan Monas berlanjut tahun 1969 hingga 1976.

Dengan makna historis itu, tak pantas seorang koruptor digantung di Monas. Masak monumen perjuangan dikotori oleh koruptor. Lagi pula, itu menghina rakyat Indonesia, yang telah menyumbang uang dan tenaga untuk membangun Monas. Masak pencuri uang rakyat digantung di monumen hasil donasi rakyat!

Lapangan tempat Monas menancap juga sangat bersejarah. Boleh dikatakan, lapangan tersebut telah manjadi saksi perjalanan bangsa dari jaman kolonialisme hingga kemerdekaan.

Dulunya lapangan Monas itu disebut Lapangan Buffelsveld (‘Buffalo Field’) alias lapangan kerbau. Namun, di era pemerintahan gubernur jenderal Willem Herman Daendels (1808-1811), lapangan itu diberinama “Champ de Mars”, untuk mengenang keberhasilan Perancis menaklukkan Belanda.

Namun, begitu Napoleon runtuh dan Deandels kembali ke Perancis, nama lapangan itu kembali berubah. Kali ini penguasa Belanda menyebutnya Koningsplein (Lapangan Raja). Nama itu bertahan hingga Belanda ditaklukkan oleh Jepang tahun 1942.

Berbeda dengan penyebutan orang Belanda, masyarakat Jakarta sendiri menyebut lapangan ini sebagai Lapangan Gambir. Soal nama itu, tak ada keterangan yang jelas. Mungkin karena nama di daerah itu. Maklum, di dekat lapangan itu ada stasiun Gambir.

Begitu jepang berkuasa, nama Koningsplein diganti menjadi lapangan IKADA (Ikatan Atletik Djakarta). Pada masa Jepang, lapangan ini menjadi tempat olahraga, khususnya atletit dan sepakbola.

Ketika Proklamasi Kemerdekaan sedang dipersiapkan, ada niatan agar pembacaan Proklamasi dilakukan di Lapangan Ikada. Namun, karena lapangan Ikada sudah dijaga ketat oleh tentara Jepang, pembacaan Proklamasi dipindah ke halaman Rumah Bung Karno di Pegangsaan Timur 56 Jakarta.

Namun sebulan kemudian, tepatnya 19 September 1945, Lapangan Ikada menjadi saksi peristiwa penting dalam sejarah perjuangan rakyat Indonesia, yakni Rapat Umum di Lapangan Ikada. Tujuannya untuk mengkonsolidasikan dukungan rakyat terhadap Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945. Meskipun acara itu dikawal ketat oleh tentara Jepang, ratusan ribu rakyat Jakarta tetap membanjiri tempat itu. Bung Karno hanya menyampaikan pidato tak lebih dari 10 menit.

Tahun 1950, setelah penyerahan kedaulatan, Bung Karno mengganti nama lapangan Ikada menjadi lapangan Merdeka. Lapangan ini telah menjadi simbol perjuangan rakyat Indonesia untuk kemerdekaan.

Sayang, lapangan ini dinodai peristiwa kontra-revolusioner. Pada 17 Oktober 1952, ada upaya kudeta terhadap Bung Karno. Upaya kudeta itu digerakkan oleh Angkatan Darat di bawah pimpinan Nasution. Hanya saja, kepada Bung Karno, Nasution menyangkal. “Upaya kudeta tersebut bukan ditujukan kepada Bung Karno, melainkan kepada sistim pemerintahan,” kata Nasution kepada Bung Karno.

Pada hari itu, tank dan panser diparkir di lapangan Monas dengan moncong menghadap istana. Tidak ketinggalan empat meriam yang juga diarahkan tepat ke arah istana. Sementara puluhan ribu massa, yang digerakkan oleh tentara, sudah merengsek masuk ke Istana.

Tetapi Bung Karno tidak gentar.  “Hatiku tidak gentar melihat sekitar itu (istana) dikuasai oleh meriam-meriam lapangan. Bahkan, sebaliknya, aku menantang langsung kedalam mulut senjata itu dan kulepaskan kemarahanku kepada mereka yang hendak mencoba mematikan sistim demokrasi dengan pasukan bersenjata,” kata Bung Karno.

Peristiwa kontra-revolusioner kedua terjadi tanggal 1 Juni 2008. Saat itu, ratusan aktivis Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) sedang menggelar aksi damai di Monas. Mereka menyuarakan keberagaman dan Bhineka Tunggal Ika. Sayang, aksi mereka tiba-tiba diserbu oleh ratusan massa Front Pembela Islam (FPI).

Nah, kita tidak mau aksi gantung diri Anas Urbaningrum menambah noda di lapangan Merdeka (Monas). Lapangan Monas merupakan simbol perjuangan anti kolonial. Kita tidak mau generasi mendatang hanya mengenang lapangan Monas sebagai tempat gantung diri koruptor.

Kalau memang serius mau gantung diri, ada baiknya Anas Urbaningrum gantung diri di Cikeas. Setuju kan?

Herman Sanjaya, penulis lepas yang tinggal nomaden di Jakarta.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut