Mengintip Sistim Transportasi Massal Di Venezuela

Banyak kota besar di dunia, termasuk Jakarta, gagal menyediakan sistim transportasi massal bagi rakyatnya. Akibatnya, bila tak punya kendaraan pribadi, warga harus siap gonta-ganti angkutan umum.

Soal transportasi massal, Jakarta boleh mengintip Caracas. Sejak tahun 1983, Ibukota Venezuela itu sudah punya sistim transportasi massal yang hebat, yaitu Metro Caracas.

Pada tahun 1983, Metro Caracas mengangkut 55 juta penumpang setahun. Kemudian, pada tahun 2009, Metro Caracas sudah mengangkut 500 juta orang per tahun. Saat ini Metro Caracas mengangkut 2,2 juta orang perhari. Padahal, total jumlah penduduk Caracas hanya berkisar 6 juta orang. Artinya, lebih dari 30% penduduk Caracas mengakses sistim transportasi massal ini.

Bandingkan dengan Jakarta. Kereta Rel Listrik (KRL) Jabodetabek, yang menjadi andalan warga DKI Jakarta dan sekitarnya, hanya mampu mengangkut 400.000 penumpang per hari—tidak sampai 5% dari total penduduk DKI Jakarta. Sedangkan Transjakarta Busway hanya sanggup mengangkut rata-rata 350.000 penumpang per hari. Tertinggal jauh kan?

Meski dibangun sejak 1983, ketika Venezuela masih di bawah neoliberalisme, tetapi pemerintahan Chavez punya kontribusi besar dalam mengembangkan Metro Caracas. Sebelum era Chavez, Metro Caracas hanya menjangkau pusat kota dan daerah-daerah kaya di Caracas. Sejak Chavez berkuasa, layanan Metro Caracas telah menjangkau daerah-daerah termiskin, seperti  San Agustin dan Mariche.

Harga tiketnya pun sangat murah. Untuk metro cukup mengeluarkan 0.5 bolivar ($ 0.12)—sama dengan harga karamel di Venezuela. Ini termasuk yang termurah di dunia: Medellin Metro (Kolombia) $ 0.95; Santiago (Chile) $ 1.33; Sao Paulo (Brazil) $ 1.79; Saint Petersburg (Rusia) $ 0,88; London (Inggris)  $ 3.07; Berlin (Jerman)  $ 3.28; New York (AS) $ 2.51; dan Madrid (Spanyol) $ 2.86.

Menurut Presiden Metro Caracas, Haiman El Troudi, jika biaya penyelenggaraan transportasi (termasuk pemeliharaan) di bebankan kepada penumpang, maka setiap penumpang seharusnya membayar 1.16 USD. Pada kenyataannya, penumpang hanya membar 0,12 USD. Artinya, pemerintah Venezuela mensubsidi hampir 95%.

Memang, sejak Chavez berkuasa, transportasi massal dibuat semurah mungkin agar bisa dijangkau seluruh rakyat. Hal itu menjadi mungkin dilakukan karena pemerintahan Chavez berhasil mengontrol perusahaan minyak nasional, PDVSA, dan menggunakan keuntungannya untuk mayoritas rakyat yang selama ini terabaikan.

Dan, selain diperkuat dengan Subway dan Metro Bus, Metro Caracas juga diperkuat oleh Cable Car (kereta gantung). Untuk wilayah Amerika Selatan, yang banyak memiliki bukit dan pegunungan, Cable Car menjadi alat transportasi yang cocok.

Di metro Caracas, para lansia digratiskan dan mendapat pelayanan khusus. Metro Caracas juga membuat pelatihan bagi mereka yang cacat, khususnya buta dan tuli, agar bisa menggunakan Metro Caracas. Semua langkah itu dimaksudkan untuk memasukkan seluruh rakyat, tanpa memandang usia, asal usul, kondisi fisik, dalam transportasi massal negara.

Di Venezuela, Cable Car dipergunakan untuk menjangkau pemukiman miskin yang tergeletak di atas perbukitan. Hampir 15.000 warga menggunakan Cable Car yang menghubungan San Agustin, kawasan termiskin di Caracas, dengan Metro Caracas. Cable Car ini beroperasi dari jam 6 pagi hingga 10 malam. Tarifnya hanya 10 sen.

Selain itu, semasa hidupnya, Chavez juga membuat proyek besar-besaran untuk memperluas jaringan kereta api di negeri itu. Baginya, kereta api bukan hanya soal transportasi, tetapi juga alat untuk menjahit negeri dalam satu kesatuan secara ekonomi, sosial, dan budaya.

Dengan proyek ini, Chavez yakin, kereta api akan mengangkut 210 juta penumpang dan 190 juta ton barang pertahun. Kenapa mendorong kereta api? Karena Chavez menganggap, kereta api adalah alat transportasi paling massal dan sesuai dengan prinsip sosialisme.

“Sistem kereta api Bolivarian bukanlah istimewa untuk segelintir orang, melainkan transportasi kolektif untuk semua, baik kaya maupun miskin, tua ataupun muda,” kata Chavez.

Untuk itu, Chavez memastikan harga tiket harus semurah mungkin. Sedangkan para lansia dan anak-anak harus gratis. Memang, sistim kereta api Bolivarian sengaja menjauh dari prinsip bisnis. Mereka tak mau berbisnis dengan menghisap rakyat sendiri.

Bandingkan dengan PT. Kereta Api Indonesia (KAI). Kendati PT. KAI hasil perjuangan rakyat, terutama kaum buruh dan pemuda, sekarang perusahaan kereta api milik negara itu makin menjauh dari rakyat. Untuk meraup untung besar, PT. KAI berencana menghapus KRL ekonomi, yang harga tiketnya paling terjangkau oleh kantong orang miskin.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Annie

    Demi kebaikan bersama, mohon Izin mencopy sebagian tulisan ini dan menulis ulang diblog, tentu saja sumber artikel dari berdikarionline ini saya tulis… makasih