BRICS Dan Harapan Tatanan Dunia Baru

Minggu ini, tepatnya tanggal 26-28 Maret 2013, lima kepala negara akan bertemu di Durban, Afrika Selatan. Lima negara yang tergabung dalam BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan) sedang menggelar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-IV.

Pertemuan BRICS ini menjadi penting karena bertepatan dengan beberapa momen penting. Pertama, AS dan Eropa, yang identik sebagai sumbu kemajuan dunia, sedang mengalami kejatuhan. Mereka kini masih tertatih-tatih untuk keluar dari krisis. AS bukan lagi kekuatan tunggal dalam sistem dunia saat ini.

Kedua, sistim kapitalisme global sedang digugat keras, baik oleh rakyat di AS dan Eropa maupun di dunia ketiga. Pengangguran sangat tinggi. Krisis hutang menyandera banyak negara, termasuk di Eropa. Sementara kebijakan penghematan sebagai upaya mengatasi krisis memicu kemarahan hebat dari rakyat di AS dan Eropa.

Ketiga, menguatnya seruan mengakhiri ketidakadilan global akibat sistim kapitalisme”, yang banyak disuarakan oleh gerakan rakyat, baik di negara-negara kapitalis utama maupun negara-negara pinggiran. Kapitalisme sedang memasuki fase multi-krisis: keuangan, pangan, ekologi, energi, dan krisis demokrasi liberal.

Bersamaan dengan pertemuan BRICS, sebuah pertemuan gerakan sosial dan partai-partai progressif berlangsung di Tunisia. Itulah pertemuan World Social Forum (WSF). Lebih dari 3500 organisasi dan puluhan ribu peserta hadir di pertemuan ini. Mereka mewakili sektor-sektor yang terhisap dan terpinggirkan oleh kapitalisme, seperti buruh, petani, masyarakat adat, aktivis HAM, perempuan, kelompok anti utang, ekologis, dan lain-lain. Seruan mereka lebih lantang: tatanan dunia baru yang lebih demokratis, berkeadilan ekonomi, dan melindungi lingkungan.

Korban paling mengenaskan dari sistim kapitalisme global adalah negara-negara dunia ketiga. Disinilah arti penting kehandiran BRICS. BRICS mewakili lima negara yang pernah dikoyak-koyak oleh neokolonialisme dan imperialisme. Dalam pembagian sistem kapitalisme global, negara-negara BRICS ini menempati posisi negara pinggiran (peripheri). BRICS juga mewakili 42 % penduduk dunia, menyumbang 18% PDB dunia, 15% perdagangan dunia, dan 40 % arus kapital global.

Memang, sejak di gagas tahun 2001 lalu, BRICS diperhadapkan hanya pada dua pilihan: pertama, mendaur ulang sistem neoliberal yang sudah usang dengan serangkaian perubahan, seperti pengaturan pada lembaga finansial dan perhatian pada masalah sosial. kedua, bergerak maju meninggalkan neoliberalisme menuju model lain.

Sayang, BRICS belum bisa diharapkan memikul beban itu. Politik negara-negara yang tergabung dalam BRICS terlalu moderat untuk diharapkan berhadapan secara frontal dengan sistem kapitalisme global. Brazil, kendati diperintah Presiden berhaluan kiri, sangat moderat terhadap Washington dan lembaga-lembaga keuangan global. China punya ambisi sendiri untuk menjadi kekuatan baru. Sedangkan India dan Afrika sangat bergantung pada kapital asing, termasuk dari negara kapitalis maju dan lembaga keuangan internasional.

Sebelumnya, termasuk di Pertemuan Di New Delhi, India, negara-negara BRICS berkeinginan membangun Bank baru, yang berfungsi sebagai alat pembangunan infrastruktur di masing-masing negara. Gagasan ini kembali menguat di pertemuan di Durban. Konon, Bank baru ini akan menjadi alternatif terhadap Bank Dunia dan IMF. Sayang, menurut perkembangan terakhir, para pemimpin BRICS gagal mencapai kesepakatan untuk mendirikan Bank alternatif itu.

Yang menarik untuk dikritisi adalah respon pemerintah Indonesia ketika mendengar ide negara-negara BRICS membangun bank alternatif itu. Gubernur Bank Indonesia, Darmin Nasution, menyatakan keengganan bergabung dalam ide tersebut. “Biar mereka saja lah,” kata Darmin Nasution. Ini menjelaskan betapa konservatifnya pemerintah Indonesia dalam merespon dinamika baru dalam sistim global. Pernyataan Darmin itu membuktikan bahwa Indonesia masih sangat loyal sebagai budak IMF dan Bank Dunia. Padahal, dua lembaga imperialis itu telah menciptakan kerusakan sangat parah dalam perekonomian Indonesia.

Padahal, 52 tahun yang lalu, di hadapan Sidang Umum PBB XV, Bung Karno pernah berseru-seru tentang perlunya membangun dunia baru. Berikut petikan pidato Bung Karno: Kami tidak berusaha mempertahankan dunia yang kami kenal, kami berusaha membangun suatu dunia yang baru, yang lebih baik! Kami berusaha membangun suatu dunia yang sehat dan aman. Kami berusaha membangun suatu dunia, di mana setiap orang dapat hidup dalam suasana damai. Kami berusaha membangun suatu dunia, di mana terdapat keadilan dan kemakmuran untuk semua orang. Kami berusaha membangun suatu dunia, di mana kemanusiaan dapat mencapai kejayaannya yang penuh.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut