Selamat Jalan, Bung Agus Januraka…

Hari ini, pagi-pagi sekali, kabar duka datang menyapa. “Telah meninggal kawan seperjuangan Wayan “agus” Januraka (Mao), salah satu pendiri PRD di bali..,” demikian kabar duka itu masuk ke ponsel saya.

Wayan Januraka, atau sering disapa Agus Januraka oleh kawan-kawan seperjuangannya, menghembuskan nafas terakhir pada Minggu, 4 Maret 2018, pukul 04.00 WITA, di RSUP Sanglah Denpasar.

“Beliau terkena serangan jantung, sempat dilarikan ke RSUP Sanglah Denpasar dan opname. Beliau menghembuskan nafas terakhir pukul 04.00 WITA,” kata salah seorang anggota keluarganya.

Agus lahir Denpasar, pada 9 Januari 1961, di tengah keluarga Sukarnois. Karena itu, ketika peristiwa 1965 memicu pembantaian massal pendukung Sukarno di pulau Dewata, keluarga Agus juga terkena dampaknya.

“Saya disembunyikan di lemari,” kenang Agus menceritakan kejadian pilu itu suatu ketika.

Akibat peristiwa itu, Agus kehilangan bapaknya. Dia juga hidup terpisah dengan adik-adiknya. Saat kelas IV SD, Agus sempat diasuh pamannya. Namun, setelah menginjak SMA, dia bisa kembali ke asuhan sang Ibu.

Terlahir dari keluarga aktivis, lalu pernah mengalami pahit-getirnya menjadi korban diskriminasi politik, membuat Agus sangat peka terhadap persoalan ketidakadilan.

Itu juga yang menyeretnya ke gelanggang pergerakan. Dia banyak mengadvokasi persoalan-persoalan rakyat kecil. Salah satunya mengadvokasi rakyat kecil menentang pungutan Kartu Identitas Penduduk Sementara (KIPEM).

Tahun 1999, Agus turut mendirikan Partai Rakyat Demokratik (PRD) di Bali. Sejak itu dia menjabat Ketua Komite Pimpinan Wilayah (KPW) PRD hingga tahun 2007.

Tahun 2004, dalam sebuah aksi menentang capres-cawapres berlatar Orde Baru dan militeristik, Agus jadi korban pengeroyokan oleh sejumlah pria bertubuh kekar.

“Ketua PRD Bali Agus Januraka ditangkap seorang pria kekar. Pamflet berisi kecaman terhadap militer yang digenggam Agus dirampas dan dibanting di jalanan,” tulis detik.com dalam mewartakan kejadian itu.

Setelah tidak menjabat Ketua, Agus yang dikerap disapa “Mao” ini tetap menjadi anggota PRD. Dia tetap terlibat pengorganisiran dan berbagai kegiatan PRD.

Di Kongres ke-VIII PRD di Jakarta, Maret 2015, Agus menjadi perwakilan dari Bali. “Pak Agus punya harapan besar agar PRD bisa berpartisipasi dalam pemilu 2019,” kenang Ketua PRD Sulawesi Selatan, Anshar Manrulu.

Ketika rakyat Bali turun ke jalan menolak reklamasi Telok Benoa, Agus menjadi salah satu pelopornya. “Terimakasih sudah bersama-sama memelopori gerakan BTR ini. Terimakasih sudah bersama-sama menjaga api perlawanan ini dalam suka dan duka,” tulis Koordinator Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBali), Gendo Suardana, dalam ucapan belasungkawanya.

Selain aktivitas politik, Agus juga menjalani kehidupan spritualitas dan pekerjaan sebagai pemandu wisata. Selain itu, dia juga aktif mengembangkan pertanian organik.

Ihsan Tantowi

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut