Women’s March Jakarta 2018: Perempuan Bangkit Melawan Kekerasan dan Diskriminasi

Hari Sabtu (03/03/2018), lebih dari 2.000 orang ikut serta dalam aksi Women’s March 2018 di Jakarta. Mereka menyoroti persoalan kekerasan terhadap perempuan, perbudakan, perkawinan anak, dan nasib pekerja rumah tangga.

Peserta aksi Women’s March mewakili berbagai lapisan sosial, seperti aktivis, pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, buruh, pekerja rumah tangga, pemerhati LGBT, pekerja seni, dan selebriti.

Mereka memulai aksinya dari depan Hotel Sari Pacific, di jalan M.H Thamrin, lalu berjalan menuju Taman Aspirasi di depan Istana Negara. Selain spanduk dan poster, beberapa peserta aksi mengenakan kostum unik.

Ketua Komnas Perempuan Azriana Manalu mengatakan, aksi Women’s March 2018 bertepatan dengan momentum 20 tahun reformasi.

“Reformasi kita masih menyisakan banyak pekerjaan rumah, salah satunya adalah kebijakan diskriminatif,” ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, masih banyak perempuan Indonesia yang belum terlindungi dari kekerasan, termasuk kekerasan seksual.

“Kekerasan seksual meningkat, terutama di ranah privat yang pelakunya adalah orang dekat korban. Di ranah publik, perkosaan dan pelecehan seksual masih terus terjadi,” tuturnya.

Komnas Perempuan mencatat, selama tahun 2017 ada 173 perempuan meninggal akibat kekerasan seksual dan pembunuhan yang dilakukan oleh suami, pacar, paman, atau ayah sendiri.

Sementara Anis Hidayah dari Migrant Care menyoroti nasib buruh migran di luar negeri. Kasus Adelina di Malaysia, ujar dia, menandai rendahnya perlindungan terhadap buruh migran.

“Ini adalah panggilan darurat bagi pemerintah untuk member perlindungan kepada buruh migran,” tegasnya.

Di Taman Aspirasi, aksi Women’s March 2018 dimeriahkan dengan pertunjukan musik, puisi, dan tari-tarian. Beberapa selebriti yang peduli dengan isu perempuan, seperti Melanie Subono, Hannah al-Rashid, Nia Dinata, Lala Karmela dan Saras Dewi.

Presiden Joko Widodo melalui akun twitternya menyampaikan ucapan selamat. “Membangun Indonesia, kita butuh perempuan2 yg tangguh. Perempuan tangguh dalam hidupku adalah Ibu Iriana. Selamat mengikuti Women’s March, dalam rangka Hari Perempuan Dunia tgl 8 Maret,” tulis Presiden di akun twitternya.

Cuitan Presiden tersebut langsung direspon oleh sejumlah aktivis perempuan. “Mari prioritaskan pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual Bapak @Jokowi,” tulis Saras Dewi, pengajar di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia.

Women’s March mengangkat persoalan kolektif, bukan hanya perayaan perempuan sebagai individu. Mendukung gerakan ini juga berarti berkomitmen melindungi warga negara dari diskriminasi & kriminalisasi berdasarkan gender dan orientasi seksual,” demikian tanggapan penulis Intan Paramaditha di akun twitternya.

Aksi Women’s March 2018 diadakan di Jakarta dan 12 kota lainnya di Indonesia, seperti Bandung, Bali, Surabaya, Yogyakarta, Lampung, Malang, Pontianak, Salatiga, Kupang, dan lain-lain.

Aksi Women’s March 2018 mengusung 8 isu utama:

Pertama, menghapus hukum dan kebijakan yang diskriminatif dan melanggengkan kekerasan berbasis gender.

Kedua, mengesahkan hukum dan kebijakan yang melindungi perempuan, anak, masyarakat adat, kelompok difabel, kelompok minoritas gender dan seksual dari diskriminasi dan kekerasan berbasis gender.

Ketiga, menyediakan akses keadilan dan pemulihan terhadap korban kekerasan berbasis gender.

Keempat, menghentikan intervensi negara dan masyarakat terhadap tubuh dan seksualitas warga negara.

Kelima, menghapus stigma dan diskriminasi berbasis gender, seksualitas, dan status kesehatan.

Keenam, menghapus praktik dan budaya kekerasan berbasis gender di lingkungan hukum, kesehatan, lingkungan hidup, pendidikan dan pekerjaan.

Ketujuh, menyelesaikan akar kekerasan, yaitu pemiskinan perempuan, khususnya perempuan buruh industri, konflik SDA, transpuan, pekerja migran, pekerja seks, dan pekerja domestik.

Kedelapan, mengajak masyarakat untuk berpartisipasi aktif menghapus praktik dan budaya kekerasan berbasis gender di lingkungan hukum, lingkungan hidup, pendidikan dan pekerjaan.

Siti Rubaida

Keterangan foto: aksi ribuan orang yang tergabung dalam Women’s March Jakarta 2018 (foto: )

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut