Sejarah Hendak Ditutup-tutupi, Puluhan Ribu Orang Gelar Protes

Himpunan dari 118 serikat buruh dan kelompok-kelompok sipil melancarkan aksi protes besar-besaran di ibukota Sabtu (05/11) ini. Aksi protes ini mengabaikan larangan dari pihak kepolisian menyusul aksi yang berujung bentrokan pada 14 November lalu.

Demonstrasi ini sebagai kelanjutan dari dari aksi puluhan ribu orang pada 14 November di pusat Seoul melawan keputusan pemerintah Korea Selatan untuk mengubah versi buku sejarah di sekolah. Sebuah sumber mengatakan bahwa pengubahan buku sejarah tersebut akan menutup-nutupi sejarah kediktatoran militer yang pernah ada di negara tersebut hingga pertengahan 1980-an. Selain itu aksi ini juga untuk memprotes reformasi hukum perburuhan dan impor hasil pertanian.

Pada tanggal 14 November, protes serupa mengakibatkan ratusan orang terluka dan seorang petani berusia 69 tahun menderita koma, dan hingga sekarang masih dalam kondisi kritis.

Karena persoalan ini, pemerintah yang dipimpin oleh presiden Park Geun-hye, memutuskan “nol toleransi” terhadap deklarasi anti-pemerintah, meskipun pengadilan setempat mengatakan bahwa larangan seperti itu tidak adil.

“Panitia aksi telah berjanji berulang kali bahwa itu akan menjadi aksi pasifis”, ujar hakim PTUN Seoul, mengatakan bahwa mereka tidak perlu mengulangi insiden kekerasan.

Polisi mengatakan bahwa kali ini mereka tidak ingin menggunakan meriam air atau barikade untuk menghentikan protes, kecuali para demonstran melanggar hukum atau mencoba untuk pergi, misalnya, ke arah Cheong Wa Dae (kediaman presiden).

Aksi kali ini mengambil tempat di dekat sebuah rumah sakit di kota Soul, tempat dirawatnya seorang petani yang menjadi korban aksi 14 November lalu. Aksi sebelumnya diorganisir oleh Konfederasi Serikat Buruh Korea (KCTU) dan Federasi Perhimpunan Petani.

Mardika Putera

(Diolah dari Prensa Latina/DW)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut