Sebuah Siklus Kehidupan dan Kerja yang Belum Selesai….

Oleh: Indarti

Judul : Ibu Maaf Aku Nakal
Penulis : Yanti Irawan
Penerbit : Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat-JAKER
Cetakan : Pertama, Februari 2010
Jumlah Halaman : xiii + 78 halaman, 12×19,5 cm

Seni  puisi telah lama dikenal sebagai sebuah media ekspresi, perjuangan dan perlawanan yang tidak mempan direpresi oleh zaman, media melawan lupa serta saksi sejarah yang dibalut oleh estetika. Lihatlah bagaimana Bangsa ini menjadi saksi di tahun ’45, saat kata-kata besutan Chairil Anwar, “Bung, Ayo Bung!”, tercontreng di gerbong sepur Djakarta-Soerabaja atau di tahun’66 saat puisi-puisi Tirani dan Benteng-nya Taufik Ismail beredar stensilan di jalanan Jakarta ataupun era 90an ketika Wiji Tukul dibungkam karena puisi-puisi kritisnya yang  menggugat pemerintahan Orba. Lalu bagaimana dengan era Reformasi? Adakah penyair sekarang yang sekiranya bisa menerjemahkan era kebebasan berekspresi ini? Jawabannya mungkin bisa kita cari dalam buku Kumpulan Puisi “Ibu Maaf Aku Nakal” karya Yanti Irawan.

Seorang penyair Romawi Kuno, Horace, pernah mengatakan bahwa “Sastra memiliki fungsi dulce et utilte, yakni fungsi menyenangkan dan berguna. Menyenangkan artinya mengibur (menyegarkan) dan berguna (mendidik) artinya memberikan pencerahan pemikiran bagi pembaca.” Maka memelototi 62 judul puisi dalam buku ini, tidak hanya merasakan itu semua tapi juga bisa menikmati perpaduan spesial dari isu sosial, politik, perburuhan, idealisme, feminisme, nasionalisme, dan sosialisme yang dibumbui satire, humor, dan juga faktor yang terunik : romantika!

Latar belakang penulis sebagai seorang aktivis mahasiswa, ia tuturkan lewat flashback peristiwa Reformasi 1998 yang dikolaborasikannya dengan kekaguman terhadap sang Ayah, bacalah puisi “Bapak”, “Aku Bangga Jadi Anak TNI” dan juga “Kawanku Mati Tertembak”. Tidak hanya Ayah, kerinduan akan sosok Ibu, juga ditorehkannya lewat “Sistem Harus Teratur”, “Hampir Bolos”  dan “Ibu Maaf Aku Nakal” yang menjadi ide dari pemilihan judul buku ini.

Secara garis besar, Yanti terlihat memfokuskan diri untuk menyentil isu kemiskinan dan perburuhan yang memang menjadi concern profesinya sebagai Staff di sebuah Serikat Buruh. Maka tengoklah “Tak Sudi Ku Berunding”, “Haruskah PHK Ada,”, “Negosiasi Upah”, “Sensitif”, “Keberanian Tiada Batas, Perjuangan Tiada Akhir” “Sudah Berakhirkah”, “Tak Ada Lagi Koin”,  “Jakarta”, “Miskin Terselubung”, dan juga “Biasa”:

Di sini sudah biasa
ketika kemiskinan semakin banyak…biasa katanya
perampok harta rakyat…biasa
bahkan memanipulasi apapun…biasa
jutaan pemuda pengangguran…biasa

Tentang politik, demokrasi dan pemilu pun tak luput ia tuangkan lewat “He…He…He”, “Telur ½ Matang”, serta “Koalisi Minimalis Hasilnya Maksimalis”. Baca juga “Kami Tampung”, bertutur tentang aspirasi rakyat yang ditelantarkan para wakilnya di DPR, serta “Selamat Datang dech Kuucapkan”, sebuah nada satire untuk para mantan aktivis yang mulai lupa cita-cita karena terbuai kemewahan di Gedung rakyat, serta “Kampus…Mahasiswa…” yang menelanjangi kejamnya sistem outsourcing dan kontrak yang mengancam para lulusan Universitas.

Banyaknya problematika sosial dan politik lainnya juga ditorehkan Yanti dalam “Tuhan Turunlah Ke sini”, “Malam Jalan Sudirman”, “Pulanglah Mer Selagi Bisa” “Penggusuran” serta Perjuangan Tiada Akhir”. Empatinya kepada kawan-kawan seperjuangan bisa kita rasakan melalui “Surat Untuk Sahabatku Perempuan Baja” dan juga “Untuk Mimi”. Yanti bahkan ikut tertarik menjelajahi dunia ketokohan Gus Dur lewat puisinya “Sang Pendobrak”.

Tidak melulu asyik bicara isu sosial atau politik, Yanti ternyata juga mahir menyitir romantisme pribadinya melalui pertanyaan-pertanyaan kritis khas wanita kepada sang kekasih. Tengoklah “Aku dan Senyap”, “Galau”, “Perawan” dan “Perempuan Single” serta “Jakarta-Sacramento-Nagoya”:

empat tahun bercengkerama
masih saja sulit kumengerti
mengapa aku tak mau kau kawini

Kehidupan berkeluarga dan menjadi seorang Ibu juga ia jelmakannya dalam “Nikah”, “Puteri”, “Putri Kecilku”, “Nak”, “Tak Pernah Selingkuh Hanya Tertarik Saja”, “Bung Tomo”, serta “Maunya Apa Sich”.

Menyelami bait-bait syair Yanti, memang ibarat melihat manusia sebagai objek dari produk politik yang dikemas melalui sebuah cerita siklus kehidupan dimana Reformasi menjadi turning point atau titik balik dari siklus tersebut. Tak lupa terselip pula sebuah pesan essensial di buku ini, yang seakan ingin mengingatkan kita akan perkataan Chairil Anwar dalam puisinya Krawang-Bekasi :

 kerja belum selesai
belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa.

Begitupun Reformasi, masih banyak problematika sosial yang masih harus dibenahi, Reformasi belum selesai, kerja belum selesai!!!

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut