Sang Kolonel Kiri Dalam Pemilu Peru

Ollanta Humala, seorang mantan Letnan Kolonel yang pernah ditugaskan menumpas gerilyawan marxist, Shining Path, berdiri di depan puluhan ribu pendukungnya saat kampanye terakhir pemilihan presiden putaran kedua, Rabu lalu (2/6).

Humala, yang dikenal sebagai tentara kiri oleh pendukungnya, berhasil memimpin perolehan suara pada pemilu Presiden putaran pertama. Ia mengalahkan dua rivalnya dari kelompok bisnis, Keiko Fujimori dan Pedro Pablo Kuczynski.

Sebelumnya, dalam pemilu 2006, Ollanta Humala dikalahkan oleh kandidat sayap kanan, Alan Garcia, dalam pertarungan putaran kedua. Saat itu, Humala yang hanya kalah 600 ribu suara, menjadi korban kelicikan dan manipulasi pemilu yang dikontrol kanan. “Ada 1,2 juta suara yang dibatalkan,” kenang Humala.

Bocoran Wikileaks menyebutkan, “kedutaan besar AS memainkan peranan penting untuk menutup pintu kemenangan bagi Humala, yaitu dengan menggambarkannya sebagai pemberontak dan menyatukan seluruh penentang Humala.”

Nasionalis Kiri

Humala adalah anak Isaac Humala, seorang pengacara progressif dan pernah menjadi anggota Partai Komunis Peru. Humala kecil tumbuh dalam tradisi keluarga yang sangat nasionalis.

Ia kemudian memasuki dinas militer pada tahun 1982. Pada tahun 1992, ia diperintahkan untuk menumpas pemberontak maois, Shining Path. Tiga tahun kemudian, ia juga terlibat dalam perang cenepa di perbatasan dengan Ekuador.

Pada tahun 2000, bersama saudara lakinya-lakinya, Antauro Humala, memimpin 300 orang untuk memberontak melawan diktator Peru, Alberto Fujimori. Meskipun menemui kegagalan, tetapi banyak rakyat Peru yang bersimpati kepada Humala.

“Gagah berani dan tegas, tidak seperti kebanyakan orang peru,” demikian koran oposisi ternama, La República, mengapresiasi keberanian Humala. Segera saja, ratusan tentara dikirim untuk menangkap para pemberontak. Beruntung, ketika itu Humala berada dalam persembunyian, Presiden Fujimori lengser dari kekuasannya.

Saudara laki-lakinya, Antauro Humala, kembali memimpin pemberontakan bersenjata pada tahun 2005. Antauro memimpin ratusan tentara untuk menyerbu markas polisi di daerah terpencil, sebagai bentuk perlawanan terhadap presiden Alejandro Toledo, Presiden Peru yang dianggap menjual negerinya kepada pihak asing.

Pada tahun 2005, setelah mundur dari militer, Humala mendirikan sebuah partai berhaluan nasionalis, yaitu Partai Nasionalis Peru. Setahun kemudian, ia maju sebagai kandidat Presiden, dengan dukungan Persatuan untuk Peru (UPP).

Sayang, meskipun memenangkan putaran pertama, ia akhirnya dikalahkan sayap kanan pada putaran kedua. Selain label sebagai “pemberontak”, pihak sayap kanan berusaha menyamakan Ollanta Humala dengan Chavez. Bahkan media-media kanan menyebut Humala sebagai kaki-tangan Chavez.

Seorang Moderat Pengagum Lula Da Silva

Pada kampanye pemilu 2006, Humala menggambarkan politiknya sebagai anti-neoliberal dan mendukung integrasi Amerika Latin. Tekanan pokok kampanyenya adalah distribusi kekayaan yang lebih adil kepada seluruh rakyat.

Selain itu, Humala menjanjikan akan menyusun konstitusi baru guna menjamin hak demokrasi rakyat, pendidikan dan kesehatan gratis, peran negara yang lebih besar dalam perekonomian, dan kontrol negara terhadap sumber daya alam.

Akan tetapi, meskipun dikenal dekat dengan Chavez, tetapi Humala berusaha mendefenisikan politiknya lebih moderat. Ia mengaku mengagumi gaya politik Lula Da Silva di Brazil. “model Venezuela tidak cocok untuk Peru,” katanya.

Pada pemilu 2006, untuk mengalahkan Humala yang sudah di ujung kemenangan, sayap kanan berusaha menakut-nakuti pemilih dengan menyebut kedekatan politik Humala dengan Chavez.

Karenanya, pada pemilu kali ini, Humala telah memboyong Lula Da Silva ke Peru dan menjadikan mantan presiden Brazil itu sebagai “mentor politiknya”.

Seperti juga Morales di Bolivia, sebagian besar pendukung Humala adalah petani coca dan masyarakat adat. Ia telah menikmati kenaikan popularitas setelah perlawanan rakyat meletus di Andes dan sekitarnya.

Selain itu, di belakang Humala, telah bersatu partai-partai kiri untuk mendukungnya, seperti Persatuan Kiri–dibentuk oleh Partai Komunis Peru, Partai Sosialis, Partai Sosialis Revolusioner, Suara Sosialis, Gerakan Politik Lima untuk Semua, pemimpin gerakan sosial, dan gerakan masyarakat adat.

Bersaing dengan Pendukung Pasar Bebas

Lawan Ollanta Humala pada pemilu putaran kedua mendatang adalah seorang perempuan muda. Ia adalah Keiko Fujimori, anak perempuan dari mantan diktator negeri itu, Alberto Fujimori.

Seperti juga ayahnya, Keiko juga banyak dibesarkan dalam iklim politik Amerika Serikat. Meski begitu, karena tertolong oleh kekuasaan orang tuanya, Keiko berhasil menjadi pengusaha dan rajin dalam kegiatan sosial.

Hal itu pula yang membuat Keiko cukup populer di kalangan orang miskin, sekaligus akan menjadi gangguan bagi basis dukungan Humala. Janji politik Keiko adalah sangat khas dengan politisi sayap kanan, yaitu memberantas kejahatan, membangun lebih banyak penjara, dan membolehkan hukuman mati bagi kejahatan tertentu.

Keiko berjanji, kalau dirinya berhasil memenangkan pemilu, ia akan segera membebaskan ayahnya dari penjara. Alberto Fujimori, saat ini berusaha 72 tahun, sedang menjalani hukuman penjara 25 tahun karena kejahatan kemanusiaan dan korupsi.

Lawan Ollanta Humala lainnya adalah Pedro Pablo Kuczynski, seorang bankir kaya dan pernah menjabat sebagai ekonom Bank Dunia. Ia dipanggil “El Gringo” karena keluarganya berlatar-belakang eropa.

Masa Depan Politik Peru

Peru adalah negara yang kaya dengan tembaga, perak, timah, minyak, dan emas.

Dengan kenaikan harga komoditas di pasar dunia, khususnya mineral, pertanian, dan industri, ekonomi Peru terus tumbuh rata-rata 7% setiap tahunnya.

“Kemajuan Peru sangat mengagumkan,” kata Michael Shifter, presiden dialog inter-amerika. “Tetapi belum disertai dengan distribusi yang lebih merata dan tata-kelola sumber daya yang jujur di pemerintahan.”

Meskipun negeri ini sangat kaya-raya, tetapi sepertiga penduduknya hidup dalam kemiskinan, seperlima anak-anaknya kurang gizi, dan satu dari lima keluarga kekurangan air. Negeri ini juga digerogoti oleh korupsi terutama karena negeri ini diperintah partai kanan tradisional tanpa jeda.

Pemukiman kumuh, yang tersebar di kota-kota besar Peru, menjadi lahan kampanye dan sekaligus basis pendukung utama Ollanta Humala. “Pertumbuhan ekonomi tidak pernah mencapai kaum miskin. Kita harus mengubah ini,” begitu janji Humala kepada pendukungnya.

Juan Urteaga, 18 tahun, seorang pemuda dari kota Andean Cajamarca, mengaku mendukung Humala karena janji redistribusi kekayaan.

“Bagaimana mungkin, kota saya berada di dekat tambang emas terbesar di dunia, Yanacocha, tetapi kota saya memiliki tingkat kemiskinan tertinggi di Peru,” kata pemuda itu.

Jika Humala terpilih sebagai presiden, maka ini merupakan pertama-kalinya kaum terpinggirkan di negeri ini punya kesempatan untuk berpartisipasi dan sekaligus mengubah politik yang selama ini dikuasai kanan-tradisional.

Selain itu, ekonomi negeri ini juga akan mengalami pergeseran, setidaknya dari ekonomi pro-pasar bebas menjadi lebih berorientasi nasional.

Dan secara regional, kendati Peru akan memilih bermain aman dengan Washington, tetapi jelas akan memilih bersekutu dengan Bolivia, Ekuador, Brazil, dan Venezuela.

Di Amerika latin, ada lelucon yang menggambarkan hysteria ketika orang tidak berdaya bisa mengalahkan kaum elit dan menemukan pemimpin yang mendistribusikan kekayaan lebih adil: “ketika mereka duduk makan malam, mereka melihat Hugo Chavez dalam sup mereka.”

Kita tunggu, apakah rakyat Peru akan melihat wajah Ollanta Humala dalam sup mereka?

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut