Politik Lokal Kiri dalam Wilayah Yang Mengalami Demokratisasi

    Selama dua dekade terakhir Amerika Latin mengalami transformasi ekonomi dan politik yang mendalam, termasuk perubahan fundamental dalam komposisi dan kedalaman masyarakat sipil serta dalam ciri dan peran negara.

Bagian terbesar dari transformasi tersebut dipicu oleh reformasi-reformasi yang terinsipirasikan oleh dogma neoliberal. Yakni apa yang disebut dengan pensée unique [pemikiran unik], “sejenis doktrin yang lentur dan tanpa disadari menyelubungi segala pemikiran pemberontakan, menghambatnya, menganggunya, melumpuhkannya dan akhirnya mencekiknya” (Ramonet, 1995:1) tampak menguasai pemikiran kritis dan pembuatan-kebijakan di penjuru hemisfer dengan mantra resep-resep ekonomi dan politik yang bersahabat dengan pasar.

Meski demikian, sebagaimana dikatakan oleh Galileo, eppur si muove!3 Di seluruh wilayah ini partai-partai politik kiri secara perlahan mulai bergerak maju mencari alternatif terhadap neoliberalisme dan memenangkan pemilihan di wilayah-wilayah yang baru mengalami demokratisasi, terutama di area perkotaan besar. Pada awal 1980an, kota besar pertama yang diperintah oleh kiri adalah ibu kota Peru, Lima. Kaum kiri memenangkan kota-kota kunci di Brasil tak lama sesudahnya, termasuk ibu kota negara bagian, Fortaleza, pada 1985. Tahun yang menjadi titik peralihan adalah 1988, ketika Partido dos Trabalhadores (PT, Partai Pekerja) memenangkan 36 kota di Brasil, termasuk Sao Paulo, kota kedua terbesar di Amerika Latin. Sejak itu, tidak hanya PT, tapi partai-partai kiri penting lainnya telah mencatat daftar kemenangan elektoral yang mengesankan di lusinan kota-kota penting di penjuru wilayah itu, termasuk Montevideo, Mexico City, Caracas, Porto Alegre, Brasilia, San Salvador, Belo Horizonte, Belem, dan Rosaria antara lainnya. Tambahan terbaru dan paling mengejutkan dalam daftar ini adalah Bogota, di mana mantan aktivis serikat buruh Luis Eduardo ‘Lucho’ Garzon memenangkan pemilihan walikota pada akhir 2003. Di Brasil, Meksiko, Kolombia, dan Venezuela, partai-partai kiri juga mulai memenangkan pemillihan tingkat negara bagian.

Beberapa faktor mempengaruhi pertumbuhan eksplosif kaum kiri di kota-kota besar pada akhir 1980an dan 1990an. Yang paling jelas, di banyak negara, pemilihan untuk posisi walikota belum pernah ada sebelumnya di ibukota negara, seperti di Meksiko, atau di seluruh negeri, sebagaimana di Venezuela, atau pemilu kotapraja dihentikan selama pemerintahan militer, seperti di Peru, Uruguay, dan semua kota-kota yang dinilai strategis oleh para diktator Brasil. Reformasi desentralisasi baru-baru ini di penjuru Amerika Latin telah menciptakan atau menghidupkan kembali arena elektoral di mana kaum Kiri dapat berkompetisi. Reformasi-reformasi ini sering bersamaan dengan kinerja ekonomi yang buruk atau kebijakan pengetatan neoliberal yang diterapkan pada tingkat nasional, yang mendorong pemilih untuk menghukum partai-partai di posisi nasional dengan memilih kaum kiri di tingkat lokal. Apa yang disebut dengan voto de castigo (suara penghukuman) jelas penting bagi kemenangan awal kaum kiri di kota-kota yang dimuat dalam volume ini. Sebagai tambahan terhadap dinamika yang lebih berjangka pendek ini, kebanyakan pusat-pusat perkotaan telah mengalami periode penurunan kualitas layanan publik sejak lama, yakni sejak 1970an dan bahkan lebih awal lagi dalam beberapa kasus, dikarenakan kombinasi antara pertumbuhan penduduk yang menekan infrastruktur yang ada dan mundurnya negara dari pelayanan kebutuhan dasar seiring ia menarik dari dari strategi substitusi-import di hadapan utang yang menggunung. Menurunnya pelayanan ini memantik gelombang gerakan sosial yang mengorganisir kota-kota besar, seringkali dengan beraliansi dengan aktivis partai kiri, sehingga memberikan kaum kiri basis dukungan politik potensial yang baru. Pertemuan faktor-faktor ini memberikan kaum kiri peluang yang tak bernah ada sebelumnya untuk mendapatkan kekuasaan lokal.

Proses pertumbuhan elektoral yang sedang berjalan dan konsolidasi pemerintahan kiri dalamberagam lapisan pemerintahan tentunya tidak memberikan hasil yang sama dalam tiap kasus. Kami pun tidak mengaharpkan perkembangan yang merata ke depannya. Kemajuan-kemajuan yang dibuat oleh kaum kiri Brasil, walau begitu, telah menjadi dinamika besar dalam sejarah politik hemisfer tersebut. Pada oktober 2002, Luis Inacio ‘Lula’ da Silva, mantan aktivis serikat buruh yang hanya berpendidikan dasar, dipilih sebagai presiden Brasil. Suara yang hampir berjumlah 56 juta untuk kandidat petista, dalam pemilu yang benar-benar demokratik dan adil, mewakili dukungan elektoral terbesar yang pernah diberikan kepada partai kiri di mana pun di dunia.

Meluasnya pemerintahan kiri di Amerika Latin berlangsung pada masa yang sangat unik, ketika arti tradisional ‘politik progresif’ tampak berubah di seluruh dunia. Pada saat ini, membedakan alternatif politik riil dari pemikiran hegemonik tidak semudah dulu. Baru dua dekade lalu, siapa pun dapat mengenali dengan jelas perbedaan diskursif dalam manifesto dan pidato politik kaum kiri dan kaum kanan. Sejak itu, para pembela pasar telah membajak bahasa politik kiri baru. Istilah-istilah seperti ‘pemberdayaan komunitas’, ‘masyarakat sipil’ dan ‘partisipasi’ kini mendekorasi diskursus politikus di seluruh dunia, dari perdana menteri Inggris Tony Blair hingga perdana menteri Afrika Selatan, Thabo Mbeki, dan presiden Bank Dunia, James Wolfensohn. Pada saat yang sama, ada berlimpah-limpah gerakan sosial dan politik di penjuru dunia yang berupaya mengklaim kembali bahasa tersebut dengan memperbaharui praktek-pratkek demokratik akar-rumput.

Dalam konteks ini, menulis tentang kiri – dan terutama tentang kiri Amerika Latin – bukanlah tugas mudah. Diskursus global yang sedang populer cenderung membuat perbedaan historis antara ‘kiri’ dan ‘kanan’ menjadi tak berarti lagi. Di bawah kepura-puraan ‘modernisasi’ program kiri, terlalu banyak teoretikus dan politikus yang telah meninggalkan ide-ide kokoh yang selalu menjadi inti dari identitas kaum Kiri dalam semua variasinya.

Terlepas dari kebingungan semantik yang menggawat, semakin berkembangnya budaya politik kontra-hegemonik dapat diidentifikasi di Amerika Latin dalam relasinya dengan beberapa pengalaman pemerintahan kotapraja yang partisipatoris dan terdesentralisasi yang dijalankan oleh kaum kiri. Sejak awal 1980an, politik lokal telah menjadi wilayah istimewa yang digunakan kaum kiri untuk bereksperimen dengan reformasi-reformasi sosial dan belajar menjalankan pemerintahan, baik dengan kesuksesan maupun kegagalan. Kaum kiri baru paska-otoriter di Amerika Latin mengusulkan ‘pendalaman’ dan ‘radikalisasi’ demokrasi di tingkat kotapraja sebagai tujuan akhir, dan bukan sebagai sekedar pijakan menuju kekuasaan di tingkat nasional.

Ini adalah proses yang sangat berakar pada pengalaman nasional dan lokal, bukannya transisi ideologi global. Kontribusi utama wilayah ini terhadap perkembangan pemikiran politik dan tata-kelola pemerintahan, berevolusi secara paralel dengan kemunduran dari apa yang disebut dengan sosialisme yang benar-benar ada. Terlepas dari ketidak-relevanannya secara relatif terhadap Amerika Latin, baik dari perspektif politik maupun ekonomi – dengan satu-satunya pengecualian yang terkenal, yakni Kuba dan beberapa partai Leninis ortodox – hilangnya Uni Soviet sedemikian rupa memberikan dampak positif bagi konfigurasi organisasional dan ideologis dari hampir tiap partai kiri di wilayah itu, dengan mendorong pengembangan proyek-proyek politik yang lebih segar, mandiri dan pragmatik di penjuru wilayah. Sebagaimana diamati oleh seorang pemikir Gramscian yang telah almarhum, Jose Arico (1992), Amerika Latin memasuki pertengahan 1980an sebagai periode perjuangan budaya di mana tidak lagi mungkin memikirkan ‘revolusi’ sebagai pengantar menuju suatu tujuan ideal. Ke depannya, agenda kaum kiri akan dipahami sebagai proyek kontra-budaya yang luas, bukannya suatu manifesto yang mencatat tujuan-tujuan politik tertentu yang didefinisikan dari atas. Dalam beberapa kasus secara eksplisit dan dalam kasus lainnya secara tak disengaja, pemikiran Gramsci, dikunjungi kembali oleh kaum kiri ‘baru’ dengan mengusulkan pembentukan budaya politik kontra-hegemonik yang tak terikat oleh logika negara atau logika pasar. Ini berarti ‘menciptakan kembali demokrasi,’ bukannya menepis karakteristiknya yang ‘formal’ atau ‘borjuis’ – sebagaimana biasa di antara kiri ‘lama’ – tapi menyempurnakan dan memperluas dimensi politik, ekonomi dan sosial dari demokrasi dalam suatu proyek emansipatoris yang terintegrasi (lihat Roberts, 1998).

Kemunculan dari apa yang disebut sebagai kiri paska-otoriter dapat diamati dari evolusi diskursus politik yang segar dan program politik yang diperbaharui di penjuru negeri-negeri Amerika Latin. Hukum-hukum lamai, terutama yang berhubungan dengan peran partai sebagai “pelopor massa” dan negara sebagai agen perubahan yang paling prinsipil dan hampir satu-satunya, telah kehilangan makna dan kekuatan orisinilnya. Tanpa meremehkan peran penting negara, kaum kiri paska-otoriter memberikan masyarakat sipil peran politik yang lebih besar. Sebagaimana Susana Mallo (1998) menuliskannya: di hadapankan pada pilihan antara privatisasi negara atau negara-isasi masyarakat, kekuatan kiri baru Amerika Latin memilih demokratisasi negara maupun masyarakat.

Secara konkrit, yang kami maksud paska-otoriter adalah dua fenomena yang saling berhubungan. Yang pertama sehubungan dengan transisi dari pemerintahan diktator ke demokrasi liberal – dengan tingkat bobot dan stabilitas yang berbeda-beda – di seluruh wilayah tersebut. Kebanyakan dari perubahan relevan dalam ideologi, programatik dan institusional sebagaimana diproses oleh kaum kiri di wilayah itu berlangsung setelah mengalami penderitaan(dalam pengertian yang sangat langsung) dan represi oleh rejim otoriter. Kedua, ini juga mengacu, sebagaimana kami telah indikasikan …, pada perubahan intrinsik dalam partai-partai kiri, menuju proposal politik yang lebih horizontal dan partisipatoris, serta struktur dan praktek internal yang lebih demokratik.

Karakteristik kiri paska-otoriter merupakan suatu perdebatan politik tersendiri yang berlangsung dalam partai-partai politik progresif. Tak seperti masa lalu, perdebatan ini ditempa oleh pengalaman terlibat dalam – bukannya menjadi korban dari – kekuasaan, yang menyebabkan ketertarikan baru dalam hal etika, nilai dan ‘tata pemerintahan yang baik’ (good governance). Interaksi yang lebih dekat dengan akar rumput dengan menjabat suatu posisi di pemerintahan telah menghasilkan opsi-opsi yang cenderung ‘rasional’ – ini yang biasa ditolak keras oleh para aktivis kiri di masa lalu. Dalam konteks ini, politik lokal mendapat makna strategis baru yang penting. Terdapat argumen bahwa demokrasi kotapraja merupakan andalan utama agenda demokratik kiri, bukan sekedar karena problem-problem dalam wilayah itu dapat diselesaikan dalam tingkat ini, tapi “karena itu merupakan contoh dari sejenis perubahan yang masuk akal, signifikan dan menjadi batu-loncatan untuk masa depan” (Castaneda, 1994:366).

Terlepas dari masih jelasnya hegemoni dogma neoliberal di antara pemerintahan nasional di wilayah itu, beberapa analis dari berbagai horizon ideologis dan nasional tampaknya menyepakati bahwa kiri di Amerika Latin menunjukkan kebangkitan yang besar. Namun, sebagaimana diperingatkan oleh James Petras (1999) dalam sebuah buku kontroversial yang diterbitkan setengah dekade lalu, membicarakan dan menulis tentang kiri di wilayah ini bisa menyesatkan, dikarenakan kepluralan dan keberagaman identitasnya. Dari perspektif kami, kebangkitan kembali kekuatan kiri tidak hanya teramati dalam gerakan radikal berbasiskan pedesaan seperti Zapatista di Meksiko atau Gerakan Pekerja Tak Bertanah di Brasil, tapi juga dalam praktek-praktek orisinil pemerintahan partisipatoris yang dipimpin oleh partai-partai kiri di berbagai latar perkotaan. Praktek-praktek semacam itu tidak sepenuhnya sesuai dengan jenis proses “revolusioner” yang diyakini Petras, tapi mereka dapat dipastikan berkontribusi, bahkan bila mana mereka gagal, dalam menentang struktur-struktur ketersingkiran politik dan sosial yang berakar di wilayah itu.

Sebagaimana ditekankan dengan tepat oleh Erik olin Wright (2002:3), problem analitik utama bagi kritik sosialis kontemporer terhadap kapitalisme adalah “berpikir melalui cara-cara di mana elemen-elemen sosialis dapat dileburkan ke dalam relasi kapitalis dengan cara-cara yang menetralisir ketimpangan kekuasaan dalam kapitalisme.” Apakah proses ini berujung pada keseimbangan institusional yang optimal secara lebih sosialis atau lebih kapitalistik bukanlah sesuatu yang dapat diketahui sejak awal, karena cukup beragamnya hasil dari semua eksperimen dalam dunia-nyata oleh pemerintahan progresif…

Aktivis-akademisi Amerika Latin telah menolak analisa semacam ‘hitam dan putih’ yang ditemui di antara pemikir maupun aktivis kiri sejak tidak begitu lama lalu. Marta Harnecker (2000) telah mengritik posisi fundamentalis di dalam kiri Amerika Latin yang cenderung melihat pemerintahan kotapraja yang progresif sebagai sekedar ‘semata-mata mengelola kapitalisme’ yang menghalangi perlawanan riil terhadap kebijakan neoliberal. Penulis Chile yang sangat mempengaruhi identitas politik tiga generasi militantes Amerika Latin ini telah menentang posisi itu dengan berpendapat bahwa dalam periode ultrakonservatif seperti sekarang, satu-satunya cara merubah ‘korelasi kekuasaan’ adalah melalui ”akumulasi pengalaman politik dan organisasional” dalam kerangka hubungan yuridistik dan institutsional ‘borjuis’. Maka, pengalaman pemerintahan kotapraja kiri di wilayah ini merupakan ‘sebuah ruang yang memungkinkan penciptaan situasi-situasi budaya dan politik untuk melangkah menuju organisasi masyarakat yang mandiri” (Harnecker, 2000:357)

*) Pengantar dalam buku “The Left in The City; Participatory local governments in Latin America” diedit oleh Daniel Chavez dan Benjamin Goldfrank
*) Peneliti dari Transnational Institute di Amsterdam. Memegang gelar doktor dalam Studi Pembangunan dari Insttitue of Social Studies (The Hague). Menjadi Asisten Profesor dalam Sosiologi Perkotaan di Universidad de la Republica, Uruguay, dan Koordinator Teknis untuk Federasi Koperasi Perumahan Uruguay (FUCVAM).
*) Diterjemahkan oleh Data Brainanta, Deputi Pendidikan Dan Kaderisasi KPP PRD.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut