Puisi: Elegi Tiga Bulan

elegi tiga bulan

oleh: Percik

katanya baru tiga bulan
kekuasaan tiran merawat kebebasan
modal

jadi kami tak boleh mengeluh apalagi menuduh
apa yang bisa dilakukan di rentang waktu tiga bulan, serunya

bensin naik,
listrik naik,
gas naik,
sembako naik,
kereta naik,
bus naik,
pesawat naik, lalu jatuh secara harfiah
pasien miskin diusir dari rumah sakit,
buruh diphk sewenang-wenang,
penghasilan diperas defisit apbn,
gubuk miskin digusur tanpa hati demi taman yang nyaman,
ojek-ojek disingkir demi mobil yang aman,
petani diusir demi pabrik semen,
darah orang papua pun bersimbah murah

itu semua kurang dari tiga bulan,
ada manusia dan manusia yang melakukan

lalu sabda bijak mengalun dari parit-parit kepahitan
kemiskinan adalah ujian kesabaran
kesakitan adalah ujian keimanan
kematian adalah ujian kealamiahan
tapi dimiskinkan adalah ujian untuk berpikir
disakiti adalah ujian untuk berhimpun
mau dibunuh adalah batu uji untuk berani berlawan

katanya baru tiga bulan

jadi kami harus mengunduh perih peluh bercampur darah sampai rubuh ini tubuh
sambil dihibur tontonan pilu di televisi,
gelak petinggi diamini lagak intelek
galak pejabat bergandeng gertak si modal
dihampiri pelawak yang kecut melucu sendu
harapan-harapan dipaksa mekar dalam ketiadaan

jadi kami harus baik-baik menghitung,
enam ratus kali bulan menampak dan menghilang
cukup sudah harapan bergantung
pada satu atau tiga orang
ini waktu berkumpul, mengerubung kabung seumpama lebah menyemai madu
sadar, bergerak ‘tuk ubah keadaan

Negeri Gemah Ripah Loh Jinawi, 10/01/15

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut