Pemilu 2014 dan Kedaulatan Nasional

Dalam waktu mendekat, 2014, rakyat  Indonesia akan memilih wakil rakyat-wakil rakyat terhormat dan Juru Mudi utama nahkoda Republik: Presiden dan Wakil Presiden. Ini adalah pemilu langsung ketiga di era reformasi. Tentu bukan waktu yang pendek setelah gegap-gempita menyerukan perubahan 15 tahun yang lalu.

Mengapa era reformasi penting ditandai? Karena mau tidak mau, era reformasi adalah harapan akan perubahan sebagai anti thesis dari pemerintahan model Orde Baru Soeharto yang terbukti gagal menyejahterakan rakyat dan memperjuangkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan 1945 seperti memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.

Akan tetapi sudah terlihat bila perubahan yang digadang untuk kesejahteraan rakyat di era reformasi ini juga terbukti gagal dan arah reformasi justru makin mengkhawatirkan bila kita melihat kondisi saat ini, yaitu semakin menguatnya modal asing daripada modal nasional dalam berbagai kegiatan perekonomian. Itu berarti cita-cita Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 untuk melikwidasi kuasa ekonomi kolonial-imperial sebagai syarat memajukan kesejahteraan rakyat tak tercapai. Lihatlah bagaimana kemampuan kreatif rakyat Indonesia semakin dikalahkan oleh berbagai produk impor baik itu di bidang pertanian maupun kebudayaan. Di bidang pertanian,  yang begitu mengejutkan tentu saja adalah berita bahwa Republik inipun sudah mengimport singkong yang oleh rakyat dikenal begitu mudah ditanam dan tumbuh. Bila kondisi ini terus-menerus berjalan, kita akan semakin jauh dari cita-cita proklamasi kemerdekaan 1945. Yang terjadi justru proses rekolonialisasi yaitu proses kembalinya penjajahan dengan cara-cara baru dan metode baru, yang aksesnya semakin dibuka dengan berbagai undang-undang yang memudahkan modal asing menguasai dan mengeruk sumber daya alam nasional; yang memudahkan modal asing mengendalikan cabang-cabang produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak demi keuntungan semata.

Kondisi ini tentu tak boleh dibiarkan. Pada pemilu-pemilu yang lalu di era reformasi yaitu, 1999, 2004 dan 2009, kekuatan nasional begitu terlena pada  gebyar-gebyar dan pernak-pernik demokrasi liberal sehingga lupa dan tak sanggup mengonsolidasikan hasil-hasil kemenangan reformasi untuk memajukan dan memenangkan cita-cita nasional. Ketaksanggupan dan kegagalan pada pemilu-pemilu yang lalu itu tak boleh berulang pada ajang pemilu 2014. Semua kekuatan nasional seharusnya mulai menyadari bahwa problem pokok rakyat Indonesia saat ini adalah pemiskinan akibat penjajahan baru: kaum imperialis, yang semakin nyata dengan penguasaan sumber daya alam dan liberalisasi di berbagai bidang  terutama ekonomi, sosial dan budaya. Cara kerja kaum imperialis ini adalah melemahkan persatuan nasional dengan berbagai cara sehingga kemandirian, kedaulatan dan kepribadian di bidang budaya sebagai syarat mewujudkan cita-cita nasional tak terwujud.

Karena itu pertama-tama yang harus dimenangkan rakyat dalam pemilu 2014 adalah tetap menjaga Persatuan Nasional dalam menghadapi   berbagai program yang melemahkan persatuan nasional serta mendukung calon wakil rakyat atau Partai-Partai yang memiliki program nyata untuk kedaulatan politik, kemandirian ekonomi dan berkepribadian di bidang budaya. Kedua, Rakyat harus  mengisolasi atau tak memilih calon wakil rakyat  atau Partai-Partai yang jelas-jelas mendukung proyek-proyek neoliberal di Indonesia.  Untuk mempertegas posisi ini, lingkaran-lingkaran konstituen bisa dibentuk agar komunikasi program antara calon wakil rakyat dengan konstituen bisa diperjelas dan dipertajam.

Lingkaran-lingkaran konstituen ini tentu tak hanya digunakan dalam lapangan parlementer saja tetapi tentu saja menjadi basis nyata dalam membangun kembali kedaulatan nasional. Bersama setiap kekuatan patriotik, lingkaran-lingkaran konstituen mendidik diri dan menjadi alat perjuangan yang teguh untuk berbagai advokasi problem rakyat sehari-hari, termasuk membangun dan mempraktekkan koperasi sebagai wujud praktek gotong royong yang nyata dalam bidang ekonomi.

AJ Susmana, Pengurus Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Pemilu 2014 merupakan suatu hal yg sangat penting bagi rakyat Indonesia, yaitu memilih
    pinpinan negara yg dengan sadar mengemban amanat rakyat untuk menuju masyarakat
    adil dan makmur, tetapi sampai kini walaupun sudah diadakan reformasi, yg berkuasa
    masih dipimpin oleh pejabat2 kepanjangan tangan ORBA Suharto. Apa yg diseboyankan
    demokrasi, hanya bagi cukong2 modal asing, sehingga utang Indonesia semakin ber-
    tupuk dan korupsi merajalela. Apakah ini membuat kehidupan rakyat adil makmur?