Ratusan Warga SAD Duduki Kantor Gubernur Jambi

Sejak 11 Desember lalu, warga Suku Anak Dalam (SAD) menggelar aksi pendudukan di kantor Gubernur Jambi. Mereka menuntut Pemerintah Provinsi Jambi turun tangan menyelamatkan warga SAD yang saat ini diusir paksa oleh PT. Asiatic Persada.

Hari ini (16/12), sedikitnya 500-an warga SAD sudah berkumpul di pendopo kantor Gubernur Jambi. Rencananya, mereka akan menggelar doa bersama dan dzikir di halaman kantor Gubernur.

Menurut Nurlela, aktivis Serikat Tani Nasional yang menjadi koordinator aksi itu, sebagian besar warga SAD yang turut dalam aksi pendudukan sudah kehilangan tempat tinggalnya pasca pengusiran paksa oleh PT. Asiatic Persada.

Tak hanya itu, kata Nurlela, sebagian besar sumber penghidupan warga itu, seperti lahan, ternak, dan harta benda, sudah dihancurkan oleh pasukan penggusur yang terdiri dari TNI, Brimob, dan security PT. Asiatic Persada.

“Di sini mereka sudah tidak punya apa-apa. Mereka berharap Gubernur Jambi turun tangan menghentikan aksi PT. Asiatic Persada mengusir paksa warga SAD dari tanahnya sendiri,” ujar Nurlela.

Selain itu, Nurlela menambahkan, sebagian besar warga SAD saat ini mengalami ketakutan dan trauma yang mendalam akibat teror dan intimidasi dari aparat keamanan (TNI/Polri) dan security PT. Asiatic Persada.

“Warga dilarang kembali rumah dan pemukimannya. Kalau mereka berani kembali, diancam mau dibunuh. Jadi sebagian besar warga SAD melarikan diri ke hutan,” katanya.

Karena itu, dalam aksi di kantor Gubernur, warga SAD meminta perlindungan dari negara. Mereka juga mendesak agar Gubernur Jambi Hasan Basri Agus segera mempercepat pencabutan izin Hak Guna Usaha (HGU) PT. Asiatic Persada.

“Usir PT. Asiatic Persada dari tanah kami. Mereka bukan mau berbisnis, tetapi merampok dengan membantai dan menyingkirkan kami,” ujar seorang warga SAD.

Dalam aksinya, warga SAD juga menuntut penarikan aparat TNI/Polri dari lokasi pemukiman warga. Tak hanya itu, warga juga mendesak pihak PT. Asiatic Persada bertanggung-jawab atas pengrusakan dan penghancuran rumah, fasilitas umum, pengrusakan lahan pertanian, pembantaian ternak, dan pencurian harta benda milik SAD.

Untuk diketahui, hingga hari ini belum ada respon dari pihak Gubernur Jambi terkait aksi warga SAD ini. Pihak Gubernur Jambi juga belum mengambil tindakan apapun untuk menghentikan aksi brutal PT. Asiatic Persada mengusir paksa warga SAD.

Hingga hari ini, warga SAD yang terpencar-pencar pasca pengusiran paksa mulai berdatangan ke kantor Gubernur. Mereka menyatakan tidak akan pulang sebelum tuntutan mereka dipenuhi.

Warga SAD ini berasal dari tiga dusun, yakni Padang Salak, Pinang Tinggi, dan Tanah Menang. Keseluruhan warga SAD ini sudah kehilangan rumah dan harta benda. Karenanya, banyak diantara mereka hanya punya satu pakaian yang melekat di badan.

Kondisi mereka juga memprihatinkan. Sebagian besar warga SAD ini hanya makan sekali sehari. Itupun berkat “urunan” sesama warga yang masih punya uang saku.

Untuk diketahui juga, sejak tanggal 7 Desember lalu, PT. Asiatic Persada melakukan pengusiran paksa terhadap warga SAD di tiga dusun, yakni Padang Salak, Pinang Tinggi, dan Tanah Menang.

Para penggusur, yang melibatkan 1500-an pasukan gabungan TNI, Brimob, dan security PT. Asiatic Persada, tidak hanya menghancurkan rumah milik warga SAD, tetapi juga menghancurkan lahan pertanian, membantai ternak, dan menjarah barang-barang milik warga.

Andi Nursal

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut