Sudah 6 Malam Warga SAD Menginap Di Komnas HAM

Hujan lebat yang mengguyur wilayah Jakarta dan sekitarnya tidak menyurutkan semangat ratusan warga Suku Anak Dalam (SAD) yang sedang berjuang di Jakarta.

Sejak tanggal 10 Desember lalu, sebanyak 160-an warga Suku Anak Dalam (SAD) datang ke Jakarta. Mereka menuntut agar pemerintah segera memenuhi janjinya memaksa PT. Asiatic Persada mengembalikan tanah adat (hak ulayat) warga SAD.

Saat menggelar aksi di kantor BPN RI, warga SAD dijanjikan akan dilakukan penyelesaian secepatnya. Pihak BPN berjanji akan menggelar ‘gelar perkara” begitu Kepala BPN RI, Hendarman Supandji, kembali dari Jepang.

Karena itu, sejak tanggal 10 Desember lalu, sembari menunggu proses penyelesaian yang dijanjikan oleh BPN RI, ratusan warga SAD ini menginap di kantor KOMNAS HAM di Jalan Latuharhari Jakarta Pusat.

Warga SAD ini menempati teras depan ruang Asmara Nababan Komnas HAM. Di sana warga hanya menggelar terpal sebagai alas tidur. Jumlah selimut bisa dihitung jari. Padahal udara malam hari, yang kadang-kadang disertai hujan lebat, sangat dingin.

“Tiap malam kami tidur hanya beralaskan terpal, tanpa bantal, kedinginan. Ya, inilah resiko bagi kami yang berjuang untuk hak-hak kami dan masa depan anak kami,” kata Kasmaboti, seorang ibu berusia 43 tahun asal desa Bungku, Bajubang, Batanghari.

Menurut Ibu Kasmaboti, selain berhadapan dengan kondisi cuaca yang sering hujan lebat, warga SAD juga harus berjuang melawan rasa lapar. “Logistik kami sangat terbatas. Sebab, harta benda di kampung dijarah dan dihancurkan oleh pihak PT. Asiatic Persada. Jadinya, kami hanya makan sekali sehari bersama kawan-kawan,” ujarnya.

Kasmaboti menuturkan, saat para penggusur merobohkan rumahnya di kampung, tak satupun harta-bendanya yang diselamatkan. Anak-anaknya hanya menangis menyaksikan kejadian itu.

“Kami dilarang masuk menyelamatkan barang kami. Lalu, setelah pondok kami roboh, eskavator itu menindisnya. Jadi semua barang-barang kami hancur,” jelasnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Muharram, petani karet dari dusun Pinang Tinggi, desa Bungku, Batanghari. “Saat saya mau ke Jakarta, pondok saya digusur. Lahan saya juga dihancurkan. Saya ke Jakarta ini untuk menuntut keadilan,” ujarnya.

Muharram menyesalkan keterlibatan TNI/Polri saat PT. Asiatic Persada mengusir paksa dan menghancurkan pemukiman warga SAD. “Seharusnya TNI dan Polisi itu membela rakyat, tetapi ini malah menindas rakyatnya sendiri. Kami menganggap mereka menghianati rakyat,” tegasnya.

Selama menginap di Komnas HAM, Muharram bersama warga SAD lainnya berusaha mensiasati kesulitan dengan membangun solidaritas, kolektivitas, dan gotong-royong. “Saya ke Jakarta dengan uang saku yang tipis. Jadi, kami di sini hidup berkolektif dan bergotong-royong. Yang penting semua bisa makan,” katanya.

Ares (19 tahun), warga SAD lainnya, juga merasakan kepedihan akibat pengusiran paksa oleh PT Asiatic Persada. Menurutnya, sejak pengusiran paksa itu, istri dan anaknya kehilangan tempat bernaung dan hidup terlunta-lunta.

Menurut Andi Saputra, koordinator aksi warga SAD, pihaknya kesulitan membawa peralatan dan perlengkapan aksi yang memadai. Sebab, kata dia, ketika warga SAD sudah bersiap-siap ke Jakarta, kampung dan rumah-rumah mereka dihancurkan oleh PT. Asiatic Persada.

“Barang-barang warga SAD dihancurkan semua. Beras dan bahan makanan seperti ubi pun dijarah oleh aparat keamanan. Jadi, warga SAD ke Jakarta nyaris tidak membawa apa-apa,” katanya.

Untuk kebutuhan makan dan minum, warga SAD ini membangun dapur umum di halaman kantor KOMNAS HAM. Selain itu, mereka juga membentuk regu jaga malam secara bergantian, yang tugasnya menjaga keamanan warga saat terlelap tidur.

Sehari-harinya warga mengisi waktu luang dengan berdiskusi atau bercengkerama. Kadang-kadang, seperti Minggu (15/12) malam, ada pementasan musik-musik kerakyatan. Dua musisi kerakyatan, Tari Adinda dan Sahat Tarida, menyanyi untuk menyemangati dan membakar semangat juang warga SAD.

Andi Nursal

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut