Ratusan Petani Jambi Tagih Janji Menteri Kehutanan

Sedikitnya 250-an petani dari tiga tempat di Jambi, yakni Suku Anak Dalam (SAD) 113, Kunangan Jaya II (Batanghari), dan Mekar Jaya (Sorolangun), menggelar aksi massa di depan Kantor Kementerian Kehutanan, di Jakarta, Senin (19/11).

Dalam aksinya, para petani menagih janji Menteri Kehutan RI, Zulkifli Hasan, terkait kesepakatan tanggal 16 Desember 2011, yakni proses enclave lahan seluas 8000 ha milik petani Kunangan Jaya II (Batanghari) dan lahan seluas 3550 ha milik petani Mekar Jaya (Sorolangun).

Dalam aksinya, massa petani melantunkan lagu-lagu perjuangan dan diselingi dengan doa-doa. “Anda harus tahu, bapak Menteri, kami adalah petani-petani yang terampas haknya di kampung di Jambi sana. Dengarkanlah suara kami, pak Menteri, bukan suara perusahaan perampas tanah,” teriak ibu Nurlela, aktivis Serikat Tani Nasional (STN) Jambi.

Setelah menggelar orasi beberapa jam, sejumlah perwakilan petani bertemu dengan pihak Humas Kemenhut RI. Sayang, pertemuan itu tidak membuahkan hasil. “Pihak Kemenhut mengingkari kesepakatan yang sudah dibuat sendiri,” kata Mawardi, ketua Partai Rakyat Demokratik (PRD) Jambi yang memimpin delegasi petani.

Lebih parah lagi, kata Mawardi, pihak Kemenhut menganggap keputusan yang dibuat tanggal 16 Desember 2011 adalah illegal dan sudah disalah-gunakan. Padahal, kata Mawardi, keputusan itu dibuat bersama antara petani dan Sekjen Kemenhut.

“Argumentasi Kemenhut sangat tidak masuk akal. Mereka bilang keputusan tanggal 16 Desember 2011 itu illegal. Padahal, keputusan itu dibuat oleh Sekjen Kemenhut dan disaksikan Dirjen-Dirjen. Artinya, Sekjen Kemenhut dan Dirjen-Dirjen illegal juga,” kata Mawardi.

Mawardi mengingatkan, pihak Kemenhut jangan coba-coba mempermaikan nasib petani. Jika hal itu terjadi, petani berjanji akan melakukan perlawanan sehebat-hebatnya, baik di Jambi maupun di Jakarta.

Aksi pendudukan

Menjelang sore hari, 50-an aktivis Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) bergabung dengan aksi petani. “Kami datang ke sini untuk menunjukkan dukungan terhadap perjuangan kaum tani,” kata Sekjend LMND, Edi Susilo.

Tak lama berorasi, massa aksi LMND dan petani pun mulai menggebrak pintu gerbang Kemenhut. Akhirnya, setelah digoyang berulang-kali, pintu gerbang Kemenhut pun berhasil dijebol. “Hidup Rakyat! Hidup Mahasiswa!” teriak massa aksi.

Aksi massa ini dijaga oleh puluhan petugas Kepolisian. Akhirnya, karena diguyur hujan, massa aksi pun merengsek masuk. Ratusan petani berlindung di bawa atap pintu gerbang Kemenhut.

Menjelang pukul 21.00 WIB, di tengah guyuran hujan deras, petani mulai membangun tenda di depan kantor Kemenhut RI. “Kami akan bertahan di sini sampai pihak Menteri Kehutanan memenuhi tuntutan petani,” kata Utut Adianto, koordinator aksi petani Jambi.

Dari lapangan kami bisa menyampaikan, kondisi ratusan petani yang bertahan di depan Kemenhut ini cukup memprihatinkan. Ada sekitar 30-an ibu dan 7 anak kecil yang membutuhkan bantuan alas tidur dan selimut.

Kondisi tenda juga memprihatinkan. Sebab, sebagian besar terpal petani dirampas oleh petugas Satpol PP. “Jumlah tenda sangat terbatas, sehingga tak bisa menampung keseluruhan petani. Padahal, hujan deras terus berlangsung,” kata Utut Adianto.

Petani membutuhkan bantuan tenda, alas tidur, selimut untuk anak-anak, air bersih, dan bahan makanan.

Rusdianto Alit Amoersetya

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut