Kita Dan Palestina

Israel kembali memulai serangan baru terhadap jalur Gaza, Palestina, sejak Rabu (14/11/2012) lalu. Serangan biadab itu telah menewaskan sedikitnya 109 orang Palestina dan melukai ratusan lainnya. Ironisnya lagi, 27 orang diantara korban tewas itu adalah anak-anak tak berdosa.

Intelektual progressif Noam Chomsky, yang beberapa minggu lalu mengunjungi Jalur Gaza, Palestina, mengatakan, “penyerbuan dan pengeboman di Gaza bukanlah tentang penghancuran Hamas. Bukan pula tentang penghentian serangan roket ke wilayah Israel…ini tahap akhir dari kampanye panjang untuk pembersihan etnis Palestina.”

Orang bisa menganggap pendapat Chomsky itu berlebihan. Akan tetapi, jika melihat ke belakang, serangan-serangan Israel itu memang banyak menyasar pemukiman penduduk, sekolah, tempat ibadah, dan lain-lain. Juga, kalau melihat agresi yang disebut “Cast Lead”, yang dilancarkan pada tahun 2008-09 lalu, sebagian besar korbannya adalah warga sipil: 1400 korban sipil dan 330-an diantaranya adalah anak-anak.

Sejak tahun 1948, rakyat Palestina hidup dalam penderitaan. Mereka telah kehilangan negara, tanah, kemerdekaan, dan kebebasan. Mereka bahkan tidak punya hak untuk memilih pemerintahan sendiri. Ketika orang-orang Palestina memilih Hamas, sebuah faksi politik yang bergaris agak keras di Palestina, Israel dan Barat segera menghukum rakyat Palestina.

Setiap Israel menyerbu Palestina, pemimpin mereka selalu berdalih, bahwa serbuan tersebut tak lebih dari upaya “membela diri” dari roket-roket pejuang Palestina. Dan, ironisnya, dalih Israel itu dibenarkan oleh Presiden AS Barack Obama dan pemimpin-pemimpin di barat.

Akan tetapi, bersaman dengan berbagai agresi biadab itu, sebagian besar tanah Palestina sudah ditelan oleh Israel. Maka betul apa yang dikatakan Chomsky, “anda tidak bisa dikatakan mempertahankan diri, sementara anda menduduki tanah orang lain.” Dan, seperti anda ketahui, Palestina tidak punya pertahanan udara, tidak punya pertahanan laut, tidak punya senjata berat, dan tidak punya militer efektif. Yang terjadi di Palestina adalah seperti dikatakan intelektual Uruguay Eduardo Galeano: satu nyawa Israel dibayar dengan 100 nyawa Palestina.

Agresi Israel ke Palestina bukanlah karena motif agama. Bagi kami, agresi tersebut lebih banyak dimotivasi oleh faktor ekonomi-politik. Agresi tersebut adalah bentuk kolonialisme modern. Seperti dicatat Efraim Davidi, seorang anggota Partai Komunis Israel, jalur Gaza—seperti juga sisa-sisa wilayah Palestina lainnya—adalah “captive market” bagi barang-barang produk Israel. Penjajah Israel, dengan mengandalkan kekuatan militernya, mencegah Palestina mengembangkan kekuatan ekonominya, khususnya industri semen, yang potensial menyaingi industri Isrel. Pada saat yang sama, Gaza menjadi pasar tenaga kerja murah bagi perekonomian Israel.

Kita, bangsa Indonesia, wajib mengutuk serangan Israel itu. Itu merupakan perintah dari pembukaan konstitusi kita: “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Dengan demikian, peran Indonesia mestinya lebih jauh dari sekedar mengutuk. Indonesia seharusnya berperan aktif untuk memperjuangkan penghapusan penjajahan di Palestina. Indonesia harus berada di garda depan untuk kemerdekaan bangsa Palestina. Inilah realiasi dari perintah pembukaan UUD 1945.

Lagi pula, nasionalisme Indonesia menolak segala bentuk tindakan yang merendahkan martabat dan nilai-nilai kemanusiaan. Bung Karno, bapak pendiri bangsa kita, berulangkali menyitir ucapan Mahatma Gandhi: nasionalismeku adalah perikemanusiaan. Bung Karno sendiri kuat-kuat berpesan, “kita harus mencari hubungan dengan bangsa-bangsa lain di atas dasar persamaan, daulat sama daulat, dan saling-menguntungkan.”

Dengan demikian, nasionalisme Indonesia seharusnya tidak mentolerir kebrutalan dan kebiadaban Israel terhadap Palestina. Kita membela Palestina karena kemanusiaan dan jiwa anti-kolonialisme bangsa kita.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut