Babak Baru Skandal Bank Century

Skandal Bank Century mulai menemui secercah harapan. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyimpulkan adanya indikasi korupsi dalam pengucuran dana talangan (bailout) kepada Bank Century. Akhirnya, setelah melalui proses penyidikan, KPK menetapkan dua tersangka, yakni Siti Fajriah dan Budi Mulya.

Ketua KPK Abraham Samad mengungkapkan, indikasi korupsi dalam kasus Bank Century bisa terbaca dari penetapan bank yang bisa berdampak sistemik hingga pengucuran Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek (FPJP). Bahkan, menurut Abraham Samad, ada indikasi keterlibatan Wapres Boediono, yang saat itu menjabat Gubernur Bank Indonesia (BI), dalam pemberian fasilitas FPJP kepada Bank Century.

Sayang, terkait dugaan keterlibatan Wapres Boediono, Ketua KPK Abraham Samad buru-buru mengangkat “bendera putih”. Ia berpendapat, KPK tidak bisa melakukan penyelidikan maupun penyidikan terhadap Boediono lantaran berstatus Wakil Presiden. Ia merujuk pada pasal 7B UUD 1945.

Abraham Samad juga merujuk pada pendapat para pakar, bahwa penyelidikan terhadap warga negara istimewa, seperti Wakil Presiden, hanya bisa dilakukan oleh DPR. Kemudian, kasus tersebut diserahkan ke Mahkamah Konstitusi (MK) untuk memeriksa, mengadili dan mengambil keputusan.

Jauh-jauh hari mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla sudah mengingatkan, kasus Bank Century adalah kejahatan ekonomi yang dilakukan oleh pemiliknya sendiri. Dan, kata JK, hal itu sudah diketahui sudah lama oleh pihak Bank Indonesia.

Selain itu, JK juga kukuh berpendapat, persoalan bank century bukan disebabkan oleh krisis finansial, melainkan sebuah tindakan kejahatan murni. “Bank Century itu dirampok sendiri oleh pemiliknya, kok diselamatkan? Ini kejahatan perbankan,” kata JK. Dengan demikian, pemberian dana talangan justru memfasilitasi kejahatan itu.

Di samping itu, ada beberapa gugatan terkait penetapan kesulitan likuiditas Bank Century bisa berdampak sistemik. Bank Century adalah bank kecil: jumlah nasabanya cuma 65 ribu orang. Selain itu, keseluruhan asset bank century tidak melebihi 0,075% dari total asset perbankan Indonesia. Lagi pula, Bank century hanya punya 7 kantor cabang.

Selain itu, rasio kecukupan modal (CAR) perbankan saat itu masih 17%. Jauh di atas patokan Bank Sentral, yaitu 8%. Artinya, dengan rasio kecukupan modal di level 17%, kondisi perbankan Indonesia sebetulnya masih aman.

Sebaliknya, terkait keputusan membailout bank Century, ada kecenderungan kebijakan tersebut diambil secara tidak transparan. Bahkan, bailout itu dikucurkan dengan mengabaikan pertimbangan, seperti meneliti character (kejujuran pemilik bank), collateral (jaminan utang bank), capital (modal bank), capacity (kemampuan mengelola bank), dan lain-lain.

Bahkan, JK menuding pengucuran dana talangan Bank Century sebagai “operasi senyap”. Pasalnya, dirinya selaku ad interim presiden—saat itu Presiden Susilo Bambang Yudhono sedang berada di luar negeri (13-25 Oktober 2008)—tidak mengetahui adanya pembahasan bailout Bank Century.

Nah, sekarang dengan adanya secercah harapan dari penyelidikan dan penyidikan KPK, kita berharap skandal ini segera terbongkar. Rakyat Indonesia perlu mengetahui siapa dalang dari kejahatan yang telah merampok uang negara sebesar Rp 6,7 Triliun itu. Kita berharap, penetapan status tersangka dua mantan pejabat BI, Siti Fajriah dan Budi Mulya, bisa menjadi pintu masuk untuk meringkus dalang utamanya.

Hanya saja, dengan berlindung pada pasal 7B UUD 1945, KPK seakan hendak menghindar dari tugas tersebut. Ini sama saja dengan melabrak azas “semua orang sama di hadapan hukum”. Akibatnya, ada kesan bahwa “pejabat tertentu” bisa kebal terhadap proses penegakan hukum di negeri ini.

Lagi pula, jika kasus Bank Century dikembalikan ke DPR, boleh jadi kasus itu kembali menjadi bola panas yang menggelinding tanpa tujuan. Sangat mungkin kasus Bank Century hanya menjadi komoditas politik belaka. Selain itu, dengan perimbangan kekuatan di parlemen saat ini, bisa saja koalisi partai pendukung pemerintah memblokir upaya pengungkapan skandal ini.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut