Radio Untuk Petani Di Bangladesh

Inilah cerita tentang bagaimana petani menggunakan teknologi, yakni radio, untuk kehidupan mereka. Ini terjadi di Chapainawabganj, yang terletak 300 km dari Dhaka, Ibukota Bangladesh.

Di sana ada radio komunitas bernama Radio Mahananda. Sebagian besar program radio ini menyangkut pertanian. Maklum, sebagian besar pendengarnya adalah petani.

Tak jarang, siaran radio Mahanda diperdengarkan melalui radio portabel di tengah-tengah sawah atau ladang. Biasanya puluhan petani akan duduk melingkar dan serius menyimak siaran.

Biasanya, Radio Mahanda memutar lagu-lagu rakyat—disebut “Gambhira”—sebelum memulai diskusi soal pertanian. Radio komunitas ini melayani paling sedikit 5000 petani peladang setiap harinya.

Radio Mahananda resmi mengudara April tahun lalu. Sejak itu, radio ini telah sahabat petani yang membutuhkan informasi. Apalagi, hampir 50 persen penduduk Chapainawabganj masih buta-huruf. Selain itu, televisi juga masih merupakan barang mewah di daerah ini.

Dengan daya jangkau 17 kilometer, Radio Mahananda telah membawa banyak informasi bermanfaat bagi petani. Mereka akan mendapat informasi soal teknik mengelola pertanian, mengontrol hama, informasi soal benih, pupuk organik, irigasi, dan harga pangan.

TaSalah satu program Radio Mahananda adalah “Krishi O Jibon” (Pertanian dan Kehidupan). Program ini berdurasi 30 menit. Sebagian besar informasi yang ditebarkannya adalah pertanian.

“60% program kami diperuntukkan untuk memajukan pertanian. Kami menggunakan siaran radio untuk membangun kesadaran petani dan mengatasi krisis produksi pangan,” kata Ahmed Moin, produser program “Krishi O Jibon” kepada IPS News.

Awal tahun ini Radio Mahananda memperkenal program baru, yakni a masher krishi (Pertanian Bulan Ini), yang fokus pada budidaya tanaman musiman. “Kami punya tujuh jam program setiap harinya,” kata Hasib Hossain, kepala eksekutif Radio Mahananda kepada IPS.

Radio ini biasanya memulai programnya setelah jam 3, yang memungkinkan petani bisa berkumpul setelah bekerja. “Kita mendapat banyak keuntungan dari informasi radio. Dua tahun lalu hama menyerang ladang saya. Saya kemudian mengikuti saran dari informasi radio,” kata Habibur Rahman, petani lokal dari dusun Delbari.

Untuk mendorong diskusi, para pendengar diberi kesempatan untuk memberikan tanggapan atau pertanyaan via telpon atau SMS. Pertanyaan itu biasanya akan dijawab oleh sesama pendengar atau ahli yang sengaja dihadirkan.

Radio komunitas memang mulai merambah pedesaan Bangladesh. Saat ini, setidaknya ada 14 stasiun radio yang khusus melayani kebutuhan komunitas desa atau pertanian. Diantaranya: Radio Padma 99.20, Radio Nalta 99.20, Radio Chilmari 99.20, Radio Mukti 99.20, Radio Barendra, dan lain-lain.

Cat: Diolah dari berbagai sumber

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut