Puluhan Tahun Gelap Gulita, Kaum Tani Bangun Pembangkit Listrik Sendiri

LAMPUNG: Ada yang mengatakan, kita gagal membangun perekonomian dan mencapai kemajuan, karena bangsa kita sangat pemalas dan pasrah dengan keadaan. Pendapat ini sebetulnya sudah terbantahkan berulang kali.

Di desa Pagar Bukit, kecamatan Bengkunat, Lampung Barat, para petani bergotong royong membangun sendiri sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Listrik (PLTA) berukuran sederhana. Dengan PLTA sederhana ini, para petani berhasil membuat “terang-benderang” desanya yang sudah puluhan tahun gelap gulita.

“Alhamdulillah, kita sekarang punya listrik dan bisa menunjang seluruh aktivitas kita. Dan, listrik ini adalah hasil kerja keras kita, hasil dari swadaya kita sendiri,” ujar seorang warga desa.

Untuk diketahui, sejak kemerdekaan dikumandangkan hingga sekarang ini, pemerintah Indonesia baru berhasil menjalankan tingkat elektrifikasi 60% penduduk Indonesia, sementara 40% masih hidup gelap-gulita seperti di jaman kolonial.

Padahal, Bung Karno pernah mengatakan, “apakah bisa kesejahteraan sosial bisa terjadi jikalau masyarakat kita masih hidup dalam gelap-gulita karena tidak adanya listrik atau minyak tanah.”

Diabaikan PLN dan Pemerintah

Menurut Gusti Kadek Hartawan, ketua Paguyuban Tani Demokratik (PDT), sebelum proses pembangunan PLTA ini dijalankan, para petani sudah berkali-kali meminta kepada Perusahaan Listrik Negara (PLN) bersedia mengalirkan listrik ke desa mereka.

Namun, permintaan tersebut selalu ditolak oleh PLN, perusahaan yang memang bertanggung jawab atas pasokan listrik bagi rakyat di Indonesia. PLN berdalih, mereka tidak mempunyai dana yang cukup untuk membangun instalasi guna mengalirkan listrik ke desa tersebut.

Selain itu, usaha untuk mengetuk hati pemerintah pun kandas, karena berbagai janji-janji yang tersampaikan tidak pernah dipenuhi. Padahal, dalam urusan yang satu ini, pemerintah punya tanggung jawab besar untuk memperhatikan kebutuhan rakyatnya.

Timbulnya Inisiatif

Menurut Gusti Kadek Hartawan, inisatif petani untuk membangun pembangkit listrik sederhana muncul saat berdikusi dengan aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD).

Dalam sebuah pertemuan, ungkap Kadek, aktivis PRD menjelaskan bahwa warga bisa membangun pembangkit listrik berukuran sederhana, cukup untuk mengaliri listrik untuk satu desa, tanpa harus menunggu pemerintah dan PLN yang memang dikenal lamban.

Untuk itu, melalui sebuah kepanitiaan yang dibentuk, para petani mulai menghimpun dana secara kolektik. Dana itu, nantinya, akan dipergunakan untuk membiayai atau membeli peralatan-peralatan yang diperlukan.

Setelah itu, dengan membendung sungai kecil yang melintasi desa tersebut, warga berhasil menggunakan air tersebut untuk memutar dinamo. Dinamo ini kemudian mengubah energi gerak menjadi energi listrik, lalu  listrik tersebut didistribusikan melalui kabel ke rumah-rumah penduduk.

“Kami Bisa Melakukannya”

Keberhasilan ini telah melahirkan sebuah kebanggan besar dan kepercayaan diri yang tinggi di kalangan petani, bahwa perjuangan tak kenal menyerah akan dapat menyingkirkan satu per-satu persoalan yang mereka hadapi.

Para petani mengungkapkan rasa terima kasih kepada Partai Rakyat Demokratik (PRD). Bagi para petani, PRD tidak hanya membantu mereka dalam perjuangan merebut hak-hak mereka yang dirampas pengusaha kelapa sawit, tetapi juga menjawab kebutuhan real mereka sehari-hari, yaitu listrik.

“Tanpa dorongan untuk mengambil inisiatif ini, kami merasa bahwa kami akan tetap hidup dalam gelap-gulita,” ujar Kadek Hartawan.

Sementara itu, ketua Komite Pimpinan Kota Partai Rakyat Demokratik Lampung Barat, Donna Sorenty Moza, pihaknya hendak membuktikan kepada semua pihak bahwa PRD tidak hanya ‘pintar’ mengeritik dan membongkar persoalan, tetapi juga sanggup memberikan solusi yang konkret atas persoalan tersebut.

Namun, Donna menjelaskan, usaha-usaha seperti ini tidak akan berjalan jika tidak ada dukungan dan partisipasi rakyat di dalamnya. “Menyadarkan rakyat itu sangat penting. Bagaimanapun, rakyat adalah protagonis dalam melakukan perubahan, “ ujarnya.

Untuk persoalan yang lebih luas, Donna sangat yakin bahwa cara-cara seperti ini dapat dikembangkan lebih lanjut. “Kita harus terus-menerus memotivasi rakyat untuk bergerak dan berjuang mengatasi setiap persoalan,” katanya.

Donna Sorenty Mosa mengingatkan, pekerjaan kaum pergerakan harus sanggup membangkitkan semangat dan partisipasi rakyat, bahwa “mereka bisa melakukannya” dan mengubah nasib mereka dari perjuangan itu. (Bin & Rh)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • William Marthom

    Memang sebuah organisasi yang pergerakan tidak boleh hanya bisa mengkritisi orang dan mencela orang yang dianggapnya tidak benar, akan tetapi juga harus cerdas dan pandai membaca situasi baik nasional mapun lokal dan berusaha mencari dan memberikan solusi konkrit terhadap problem yang dihadapi oleh rakyat, utamanya rakyat yang tidak diberikan hak-haknya dan terabaikan oleh Rezim, seperti yang dilakukan oleh kawan- kawan PRD di Desa Padang Bukit, Kecamatan Bengkunat, Lampung Barat.

    Dan seperti kata orang bijak bahwa ” Tuhan tidak akan merobah nasib suatu kaum tanpa perjuangan kaum itu sendiri” seperti itulah seharusnya dimana persoalan rakyat pastinya akan dapat terselesaikan jika rakyat itu berjuang untuk memperbaiki nasibnya.

  • agis

    Mantab…….
    Pelopor yang cerdas dalam berfikir secara materialis,mengambil tindakan untuk kepentingan rakyat dan rakyat yang sadar membela haknya……..
    Bravo PRD……..