Ribuan Pedagang Pasar Baru Sikka Menolak Penggusuran

SIKKA: Seribuan pedagang pasar baru, yang juga didukung oleh aktivis pergerakan dari Partai Rakyat Demokratik (PRD), Serikat Tani Maumere, dan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), mendatangi kantor DPRD Kabupaten Sikka, Kamis (2/9).

Para pedagang menolak rencana Pemerintah Kabupaten Sikka yang akan memindahkan mereka ke pasar Alok. “Pasar Alok belum tertata dengan baik dan masih semrawut. Kami menganggap pemerintah mau menggusur kami,” ujar seorang pedagang.

Menurut ketua LMND Sikka Fransiska Nona Elis, pemindahan secara sepihak terhadap para pedagang pasar baru membuktikan bahwa pemerintah tidak memperhatikan kehidupan pasar tradisional, malahan berusaha membunuhnya dengan konsep pasar modern, baik dalam bentuk hypermarket maupun retail.

Padahal, menurut Fransiska, pasar tradisional telah memberikan kontribusi sangat penting secara ekonomi dan sosial kepada masyarakat.

“Pasar tradisional merupakan tempat menggantungkan hidup bagi para pedagang kecil, termasuk petani yang menjual hasil bumi, sehingga tidak bisa dihancurkan begitu saja,” ujarnya.

Penyingkiran Pasar Tradisional

Pasar kota baru di Maumere merupakan pasar tradisional yang sudah berkontribusi banyak bagi kehidupan ekonomi rakyat dan pemasukan pajak bagi pemerintah. Namun, sekarang ini Pemda Sikka berusaha keras menghilangkan pasar ini dan selanjutnya memberi ruang kepada pasar modern, yaitu supermarket, hypermarket, dan mini-market.

Para pedagang menilai, jika keputusan itu tetap dilanjutkan, maka sebagian besar perekonomian rakyat akan tergusur dan hancur. “Bukan hanya pedagang yang akan dihancurkan, tetapi juga usaha kecil (UKM), para petani, dan usaha-usaha rakyat lainnya,” ujar seorang pedagang.

Menurut Ambrosius Edison, koordinator Front Pedagang Pasar Sikka, kebijakan penggusuran ini  bertentangan dengan semangat para pendiri bangsa, dimana Negara seharunya melindungi seluruh rakyatnya.

“semangat itu kini berbalik, karena Negara  lebih melindungi pemodal besar dan menggusurkan usaha rakyat,” ujarnya.

Karena itu, para perwakilan pedagang pun memberikan lembaran Peraturan Presiden No. 112 tahun 2007 tentang pengaturan soal pasar tradisional dan pasar modern, kepada pemerintah Kabupaten dan DPRD Kabupaten Sikka untuk dipelajari.

Respon Pemerintah

Sejumlah perwakilan massa diterima berdialog dengan pimpinan DPRD. Dalam pertemuan tersebut, pihak DPRD menjanjikan akan mempelajari mengenai tuntutan para pedagang dan akan mengeluarkan rekomendasi.

Pihak DPRD akan melakukan klarifikasi dengan beberapa pihak yang terkait dengan kebijakan relokasi tersebut.

“Kami akan menampung semua aspirasi yang disampaikan masyarakat pedagang soal perpindahan ke Pasar Alok. Selanjutnya kami akan berkoordianasi dengan pemerintah untuk mencari solusinya,” ujar Ketua DPRD Sikka Rafael Raga.

Sementara itu, Kadis Deperindag Kabupaten Sikka, Gerinus Kia Uba, menyatakan keputusan relokasi para pedagang ke pasar Alok sudah final dan sudah disepakati sendiri oleh para pedagang.

“Kami sudah pernah mengundang para pedagang dan mereka menyepakati. Kami minta kesepakatan ini disampaikan kepada pedagang lainnya. Kenapa sekarang protes lagi?” Tanya Gerinus.

Namun, menurut humas aksi ini, Fransiska Nona Elis, keputusan yang diambil tersebut sangat sepihak dan sama sekali tidak melibatkan para pedagang. “Para pedagang tidak akan melakukan protes jikalau kepentingan mereka sudah terlindungi. Buktinya, para pedagang merasa sangat ditindas,” ujarnya.

Lebih lanjut, Elis menjelaskan, pemerintah jangan hanya melihat persoalan ini dalam dari satu aspek saja, yakni soal pedagang, tetapi juga aspek perekonomian rakyat secara umum di Kabupaten Sikka. “Pasar tradisional adalah tempat berbelanja yang sesuai dengan ukuran kantong rakyat. Di sini, para petani dan usaha kecil memasarkan produksi mereka. Inilah jantungnya kehidupan ekonomi rakyat. Jangan dibunuh,” tegas perempuan yang memimpin Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi kota Sikka ini. (Rh & Ulfa)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut