Suara Keras Tom Morello Menentang Trump

Begitu Donalp Trump maju sebagai Calon Presiden Amerika Serikat, disertai dengan kampanye rasis dan ultra-nasionalisnya, sejumlah seniman berbaris menentangnya.

Salah satu diantara yang paling lantang dan melengking adalah Tom Morello. Pentolan Rage Against The Machine (RATM) ini sampai mendirikan grup musik baru, Prophet of Rage, untuk menghalau Trumpisme.

Di mata Morello, Trump tak lebih dari seorang demagog rasis dan proto-fasis, yang sangat berbahaya bagi demokrasi dan kemanusiaan.

“Dalam urusan ras, dia akan melembagakan segregasi; dalam urusan luar negeri, dia akan menghadirkan napalm; dalam urusan perempuan, dia berotak mesum. Jadi jangan pilih orang itu,” kata pria kelahiran 30 Mei 1964 ini.

Tidak sulit untuk melacak akar radikalisme Morello. Ibunya, Mary Morello, adalah seorang aktivis anti-sensor sekaligus pendiri Parents for Rock and Rap.

Sedangkan bapaknya, Ngethe Njoroge, adalah pejuang kemerdekaan Kenya. Dia anggota gerilyawan Mau-Mau yang memberontak melawan kolonialis Inggris. Dia juga orang pertama yang ditunjuk mewakili Kenya di PBB.

Tidak heran, dari usia dini Morello sudah mengenal politik. Di usia dini dia sudah mengoleksi buku karya Kwame Nkrumah, bapak pembebasan Afrika. Juga menyimpan buku karya Che Guevara, Guerilla Welfare.

Bermusik sejak usia 13-an tahun, Morello tidak pernah memisahkan antara tugas seniman dan tugas kemanusiaan. Lirik-lirik berbau politik mulai membumbui karya-karyanya.

Puncaknya, ketika dia berhasil menggandeng seorang rapper kiri, Zack de la Rocha, untuk membentuk Rage Against The Machine (RATM) di tahun 1991. Boleh dikatakan, RATM adalah band paling politis sekaligus paling kiri sepanjang 1990-an.

Sayang, di tahun 2000, RATM meredup, seiring dengan kepergian sang vokalis, Zack dela Rocha. Namun, Morello sendiri tidak berhenti. Selain membangun Audioslave, kadang dia menyanyi solo di bawah payung “The Nightwatchman”. Dia juga tetap menyanyi di tengah-tengah aksi demonstrasi, seperti demonstrasi menentang Free Trade Area of Amerika (FTAA) dan aksi Occupy Wall Street.

Kembali ke Anti-Trump, Morello tidak tanggung-tanggung. Dari sejak wajah Trump muncul di bursa Calon Presiden, Morello sudah menabuh genderang perang. Dan untuk itu, dia segera membentuk grup baru: Prophet of Rage.

“Kami adalah satgas elit dari musisi revolusioner yang bertekad menghadapi bergunung-gunung kebohongan dalam tahun pemilu ini,” tegasnya, seperti dikutip Rolling Stone.

Selain menghimpun serpihan-serpihan personil RATM, seperti Tim Commerford dan Brad Wilk, Morello juga menggaet veteran revolusioner dari grup lain: ada DJ Lord dan Chuck D dari Public Enemy, kemudian B-Real dari Cypress Hill.

Di grup baru ini, DJ-Lord dan B-Real mengisi posisi vokalis, Tim Commerford di bass, Morello di gitar, Brad Wilk di drum, dan DJ Lord di meja turntable.

Ketika Donald Trump menggelorakan slogan chauvinisnya: Make America Great Again, Prophet of Rage meluncurkan kampanye “Make America Rage Again”. Agar kampanye itu menggema ke seantero Amerika, Prophet of Rage menggelar konser keliling sejumlah kota besar di Amerika.

Dan sangarnya lagi, tiap manggung Prophet of Rage memasang pengumuman: No Trump Zone alias Kawasan Tanpa Trump.

“Kami ingin menciptakan kawasan tanpa Trump di seantero Amerika: di rumah kami, sekolah kami, tempat kerja kami, dan tempat manggung kami,” kata Morello, seperti dikutip billboard.com.

Agar pesan-pesan lagunya tersampaikan, tentu Prophet of Rage butuh penonton yang banyak. Untuk mensiasati itu, sengaja harga tiket dimurahkan, agar terjangkau oleh kelas sosial paling bawah.

Tak hanya melalui panggung-panggung konser, Prophet of Rage juga memberondong Trump dengan lirik-lirik lagunya. Mulai dari Party is Over, yang mengeritik partai-partai yang hanya mengejar profit (keuntungan) dan mengabaikan suara rakyat. Kemudian lagu Unfuck World, yang menyerukan perlawanan terhadap politik yang mengobarkan kebencian dan rasisme.

Lagu No Sleep Till Cleveland berisi seruan perlawanan ke seantero Amerika agar bangkit melawan politik fasistik Trump. Dan lagu terbaru, Hail to the Chief, benar-benar menggambarkan Trump dan wakilnya, Mike Pence, sebagai rezim fasis.

Hanya saja, lagu dan konser-konser Prophet of Rage tak sanggup membendung kemenangan Trump. Tetapi tidak berarti Morello dan kawan-kawan mengangkat bendera putih.

“Perubahan progressif, radikal, bahkan revolusioner hanya terjadi jika rakyat biasa berjuang sebelum, selama, dan setelah hari pemilihan,” kata Morello, seperti dikutip CNN.

Dan memang benar. Di hari pelantikan Trump, Morello menggandeng sejumlah musisi, termasuk bekas band lamanya, Audioslave, untuk menggelar konser anti pelantikan Trump bertajuk Anti-Inaugural Ball.

Di konser itu, seperti biasa, sebelum nyanyi, dia orasi politik lebih dahulu. Kali ini dia berorasi lebih panjang, berapi-api, dan bersifat instruktif. Dia menyampaikan lima langkah menghadapi Trump: pertama, bergabung dalam aksi besar “Women March” di hari pelantikan Trump; kedua, berorganisasi; ketiga, abaikan media yang menebar kebencian;  keempat, berdirilah bersama kaum minoritas (LGBT, imigran, dan muslim); dan kelima, jangan percaya politikus antek korporasi.

“Berjuanglah untuk sebuah dunia yang tidak ada lagi tunawisma, tidak ada lagi kelaparan. Sebuah dunia dimana setiap anak bisa mendapat pendidikan. Sebuah dunia yang tidak lagi dihantui ketakutan akan ditembak drone seperti di Timur Tengah,” kata Morello berapi-api.

Saking gigihnya melawan Trump, dia sering dikatain sok politis. Termasuk ketika dia memposting fotonya berdiri di samping gitarnya yang ditempeli kertas bertuliskan “Fuck Trump” di akun Instagramnya, seseorang mengatainya sok politik. Dengan enteng Morello menjawab: “Gue memang lulusan ilmu politik Harvard.”

Yeah, Tom Morello memang jebolan dari Universitas ternama di AS dan dunia, Harvard University. Dia meraih gelar sarjananya di kampus ternama itu tahun 1986.

Begitulah Morello berdiri di garis depan menentang Trump. Dan sebagai musisi kiri, dia tidak sekedar anti-Trump saja, tetapi menentang segala bentuk sistim ekonomi maupun politik yang menindas umat manusia. Dia anti-kapitalisme!

Rudi Hartono

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut