Surosowan: Kisah Kejayaan dan Penghancuran

Kesultanan Banten adalah tinggalan dari Sunan Gunung Jati ketika pengislaman di Jawa bagian barat dimulai; juga merupakan strategi Kesultanan Demak untuk mencegah terjalinnya kerjasama antara Kerajaan Hindu Pajajaran dengan Portugis yang mulai berjaya di Malaka.

Untuk menjalankan misi ini,  pada 1528, Sultan Trenggana memerintahkan membuat meriam besar di Demak yang diberi nama Ki Jimat dan kemudian dikirim ke Banten. Sunan Gunung Jati berkuasa di Banten hingga 1552.  Ia lalu ke Cirebon  dan menyerahkan kuasa Banten kepada anaknya, Hasanuddin ( 1552-1570) yang telah meluaskan wilayah kekuasaan di kedua sisi  Selat Sunda. Yusup, cucu Sunan Gunung Jati, kemudian menaklukkan Pakuan, ibu kota kerajaan Pajajaran, 1579. Tinggalan Sunan Gunung Jati ini terus menuju puncak kejayaan.

Kejayaan Kesultanan Banten tentu bukanlah dongeng. Tome Pires berkisah bila kapal-kapal Banten pun sudah berlayar hingga ke Maladewa; sementara Pyrard de Laval di 1609, sebagaimana dikutip Denys Lombard mengatakan: “Banten adalah kota besar yang cukup padat penduduknya…Kota itu dikelilingi tembok bata yang tidak lebih dari dua kaki tebalnya. Setiap seratus langkah, di dekat tembok, ada rumah-rumah yang tinggi benar, yang dibangun di atas tiang-tiang layar kapal dan dipakai untuk pertahanan kota, baik sebagai tempat pengintaian maupun untuk memukul musuh dari tempat yang lebih tinggi…Ada lima lapangan, luas benar, yang setiap hari menampung pasar segala macam barang dagangan dan makanan yang dapat dibeli dengan murah, hingga hidup di sana terasa sangat enak…Di luar tembok ada sejumlah rumah untuk orang asing.”

Kesultanan Banten pun mengalami puncak kejayaannya di bawah pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, 1650-1682. Di bawah kuasanya, Sultan Cirebon menyatakan takluk pada tahun 1677.  Tak hanya itu sebagaimana dicatat Denys Lombard (2008) Sultan Ageng  “… merangsang perniagaan, melaksanakan perkerjaan besar di bidang kanalisasi dan pengairan, membangun istana baru dan terutama tak henti-hentinya menyerang bangsa Belanda di daerah Tangerang dan Angke.”

Walau demikian tak dapat disangkal bahwa kejayaan Banten adalah akibat dari kejatuhan Malaka oleh Portugis di tahun 1511. Pires pun masih bisa bersaksi bahwa kedudukan pelabuhan Banten masih kalah dengan pelabuhan Sunda Kelapa. (Baru) setelah Banten menduduki Sunda Kelapa pada tahun 1527, pelabuhan Banten menjadi pusat perhatian dunia: berbagai negeri pedagang datang berebut belanja lada yang melimpah ruah. Lada-lada itu terutama datang dari bagian selatan Lampung. Sunda Kelapa baru dapat menyaingi Banten ketika Belanda mengambil-alih di tahun 1619 dan mengubahnya menjadi Batavia. Pada tahun 1682, Batavia pun menggungguli Banten bahkan menangkap Sultan Ageng Tirtayasa yang selalu mengancam Batavia dan menjadikan Sultan-Sultan Banten berikutnya sebagai boneka Batavia.

***

Kini kenangan akan kisah kejayaan Banten di masa dahulu itu masih tersisa di hari ini di antara kisah-kisah keterpurukan Banten yang berlangsung pada hari ini. Keraton Surosowan, disebut juga Gedong Kedaton Pakuwon, tempat tinggal para sultan Banten itu masih punya cerita dan kenangan yang tak akan dilupakan. Surosowan yang dahulu jaya, kini memang hanyalah puing-puing belaka. Itu pun tak mengurangi banyak orang untuk datang. Begitulah kami, para penyair, di antara agenda perhelatan Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) X di Banten yang berlangsung dari tanggal 15 – 17 Desember 2017, mengunjungi Surosowan. Kami datang di pagi hari yang cerah pada 16 Desember; memasuki kompleks Surosowan setelah gagal memasuki Museum yang masih tutup tapi masih sempat menyaksikan Meriam yang tampak gagah dan seakan selalu bersiap mengamuk pada siapa saja yang mengganggu ketenangan Surosowan. Orang Belanda menyebutnya Fort Diamant atau Kota Intan.

Menurut Babad Banten, Keraton Surosowan dibangun oleh Raja Banten pertama yaitu Maulana Hasanuddin (1526-1570). Pada masa pemerintahan Sultan Haji (1672-1687), keempat sudut keraton Surosowan diubah bentuknya menjadi bastion dan dilakukan penguatan tembok keliling dengan menempelkan batu karang di bagian luar tembok keliling. Perubahan ini dilakukan setelah Keraton Surosowan mengalami kehancuran akibat perang yang terjadi antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan VOC. Arsiteknya seorang berkebangsaan Belanda bernama Lucas Cardeel. Pada tahun 1808, lagi Keraton Surosowan dihancurkan; kali atas perintah Gubernur Jendral  Belanda Herman Daendels yang marah. Surosowan sebagai lambang kejayaan Kesultanan Banten, yang telah berlangsung sekitar tiga abad itu porak-poranda karena kemarahan Daendels yang tak terkendali. Daendels meratakan bangunan Surosowan seluas sekitar 3,8 hektar itu. Sebagaimana kita tahu, Daendels yang sedang bersiap menghadapi serangan Inggris berjibaku dan memaksa rakyat untuk bekerja membangun jalan raya pos pertahanan. Tapi melihat kesengsaraan rakyat, permintaan lagi  untuk tenaga membangun jalan pertahanan di barat itu  ditolak bahkah utusan Daendels:  Komandan Du Puy,  pada bulan November 1808,  dijatuhi hukuman mati pun pasukan Garnisun di benteng  Benteng Speelwijk dibantai.

Sultan Abul Nashar Muhammad Ishaq Zainulmutaqin alias Sultan Ishaq  barangkali melihat peluang bahwa Belanda, kompeni di bawah Daendels sedang berhadapan dengan Inggris. Tapi sayang, Inggris tak datang membantu justru Daendels datang dengan bala tentara lengkap kira-kira seribu orang: mengobrak-abrik, menghancurkan kota dan menduduki takhta Sultan sambil berkata: “Mulai sekarang, akulah Sultan Banten”. Sultan Ishaq sendiri ditangkap dan diasingkan ke Batavia. Tetapi sejarah Kesultanan Banten tidak diakhiri oleh Belanda di bawah Daendels tetapi justru ditutup oleh Inggris, di bawah Raffles bersamaan dengan diberlakukannya sistem landrent yang mencakup wilayah Banten. Pada  tahun 1813 itu  Raffles sebagai Gubernur Jendral mewakili Pemerintahan kolonial Inggris melucuti  Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin dan memaksanya turun takhta. Sementara itu di masa kemerdekaan, Kesultanan Banten tak juga dipulihkan di bawah Republik Indonesia hingga pada hari ini. Pasca penghancuran Daendels itu, penghancuran Surosowan sebenarnya juga terus berlangsung  yaitu dengan mengambil bahan bangunan Keraton Surosowan untuk membangun bangunan-bangunan Belanda lainnya hingga hanya menyisakan tembok-tembok istana, lantai-lantai istana, bekas kolam renang….., yang masih bisa kita saksikan hingga hari ini.

Surosowan kini mau tak mau menjadi tugu peringatan bahwa segala sesuatu bisa datang dan pergi, bisa jaya dan jatuh. Pun bisa bangkit kembali walau seandainya kebangkitan itu hanya sebatas imajinasi akan kejayaan masa lalu. Kalau kita akan memasuki Surosowan, kita barangkali sebentar akan terpaku pada situs Watu Gilang. Pada papan yang menerangkan keberadaan situs tersebut kita mengerti bahwa “Menurut Babad Banten …watu gigilang dipergunakan sebagai tempat pentasbihan atau penobatan raja-raja di Kesultanan Banten. Dahulu ketika pendirian Kota Surosowan sebagai ibukota Kerajaan Banten, atas petunjuk dan nasehat Sunan Gunung Jati kepada putranya Maulana Hasanuddin, Watu Gilang yang berada di tengah kota tidak boleh digeser, karena pergeseran akan menyebabkan keruntuhan kerajaan.”

Aku sendiri tidak tahu apakah keruntuhan Kerajaan Banten dan hancurnya Kota Surosowan didahului dengan digesernya Batu Gilang ini sehingga kebenaran yang diramalkan Sunan Gunung Jati terbukti? Atau Batu Gilang itu tak pernah bergeser dari tempatnya semula? Bukan soal ini yang menjadi kegelisahan betul sehingga harus dicarikan jawabnya segera tetapi justru pada bagaimana masyarakat, atau barangkali ahli waris atau Pemerintah Daerah Banten memperlakukan situs Watu Gilang yang tampak begitu penting ini. Situs Watu Gilang ini terkesan tidak terawat, kumuh, berada di tempat yang becek bahkan ayam-ayam pun leluasa bermain dan memberikan aroma tak sedap sebagai “bentuk penghormatan” sebab manusia tak menjadikannya tempat yang nyaman dan menyenangkan untuk  sejenak singgah. Sementara itu jalan menuju situs Surosowan juga kumuh dan becek. Tata kelola para pedagang yang ramai mengais rejeki dari nilai sejarah Surosowan seakan tidak diperhatikan agar mampu mendukung keindahan situs;  padahal situs Keraton Surosowan yang terletak di Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya melalui  Keputusan Menteri  Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 139/M1998 dan Keputusan Bupati Serang Nomor 430/Kep 459-Huk/2006.

Surosowan, menurut kamus Jawa Kuna, yang disusun Zoetmulder bisa diartikan sebagai tempat berlabuhnya (pelabuhan) orang-orang yang gagah-berani berwatak pejuang dan berjiwa pahlawan. Sejarah yang mengiringi pendirian dan kehancuran Surosowan sudah memberikan bukti itu semua bagaimana para pejuang yang gagah berani berjiwa pahlawan menjadi bagian dari Surosowan. Tapi hari-hari ini tak terawatnya Situs Watu Gilang sewajarnya sebenarnya adalah juga bagian dari proses “penghancuran” nilai-nilai  Surosowan itu sendiri.

AJ Susmana, Wakil Ketua Umum Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut