Wajah Perlawanan Ahed Tamimi

Namanya Ahed Tamimi, remaja 16 tahun. Tanggal 20 Desember lalu, pukul tiga dini hari, puluhan serdadu Israel menyatroni rumahnya di Nabi Saleh, sebuah desa di Tepi Barat, dan menangkapnya. Dengan kedua tangan terikat ke belakang ia tampak tegar berjalan keluar halaman rumahnya diiringi serdadu-serdadu bersenjata lengkap.

Ahed ditangkap setelah terlibat ‘insiden’ dengan dua serdadu Israel yang memasuki pekarangan rumahnya tanggal 19 Desember. Beberapa hari sebelumnya, seorang sepupu Ahed ditembak tentara Israel di wajah menggunakan peluru karet yang menyebabkannya koma. Ahed bersama saudaranya, Nour, menghadapi dua serdadu dengan senjata laras panjang tersebut dan memerintahkan mereka untuk keluar dari pekarangan rumah. Sampai pada momen salah seorang serdadu menampik tangan Ahed dan dibalas tamparan keras Ahed ke wajah si tentara.

Aksi Ahed ini menjadi viral di media sosial.

Entah karena malu, murka, ingin tunjukkan kuasa, atau karena semuanya itu, maka Ahed harus ditangkap dan dipenjarakan. Video penangkapannya pun ditayangkan di hampir seluruh televisi Israel.

Sebagaimana banyak tempat lain di Tepi Barat, warga Nabi Saleh juga menghadapi ekspansi pemukiman Yahudi yang didukung negaranya, Israel. Dengan politik rasisme serupa apartheid di Afrika Selatan tempo dulu, pasukan Israel menjagai pemukiman-pemukiman Yahudi yang terus bertambah, merebut tanah, mata air dan sumber-sumber penghidupan orang Palestina. Check point, penggeledahan, tembok-tembok pembatas, kawat berduri, peluru, gas air mata, pentungan dan penjara, siap mengatasi setiap orang Palestina yang menolak tunduk. Hingga saat ini, hampir 500 ribu orang Yahudi sudah bermukim di Tepi Barat, yang masuk dalam kedaulatan negara Palestina. Sementara ribuan orang Palestina dipenjarakan karena perlawanan.

Ahed adalah satu di antara puluhan anak-anak Nabi Saleh yang selalu berada di garis depan dalam menghadapi tentara Israel. Setiap hari Jumat warga Nabi Saleh bergerak ke jalanan utama desa itu untuk melakukan aksi protes atas pendudukan Israel. Aksi rutin ini sudah berlangsung sejak 2009, ketika sekelompok pemukim Yahudi mulai masuk, merebut tanah serta mata air desa.

Di desa berpenghuni enam ratusan jiwa dengan luas dua kilometer persegi ini, tiap-tiap orang telah dididk oleh kenyataan untuk menjadi pejuang; anak-anak, orang dewasa, orang tua, laki-laki dan perempuan.

Dror Dayan, seorang Yahudi pembuat film yang bersimpati pada perjuangan rakyat Palestina mengisahkan bagaimana karakter itu ditanamkan. “Singkirkan pendudukan dari kepala anda”. Demikian setiap mereka diajarkan. Saat tentara Israel dengan perlengkapan perangnya terlampau kuat untuk disingkirkan secara nyata, maka yang harus disingkirkan terlebih dahulu adalah ketakutan yang berdiam di dalam benak. Ahed membuktikan hal itu. Tak pernah gentar menghadapi para serdadu di garis depan.

Ahed bukan sosok baru dalam perlawanan rakyat Palestina. Ketika berumur 12 tahun fotonya yang mengacungkan tinju pada tentara Israel beredar luas. Kemudian di usia 14 tahun, sebuah video yang menarasikannya sedang mempertahankan sang adik dari cidukan tentara Israel kembali mendunia.

Ayahnya, Bassem Tamimi, adalah seorang aktivis pendukung “solusi satu negara” untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina. Bassem telah belasan kali keluar masuk penjara Israel. Ia pernah mengalami penyiksaan yang membawanya koma selama beberapa hari di rumah sakit. Ahed mengikuti jejak sang ayah, dan sang ayah pun mendukung penuh kiprah puterinya dengan segala konsekuensi.

Sekarang Ahed telah menjadi simbol baru bagi perlawanan Rakyat Palestina. Ia akan menghadapi dua belas tuduhan di pengadilan militer Israel. Ia merupakan wajah dari banyak kenyataan yang terjadi di Tanah ini. Bukan wajah dalam arti penampilan fisik, karena dalam hal ini ia sedikit berbeda: rambut ikal nan pirang yang dibiarkan tergerai, mata biru, dan berpakaian ala gadis-gadis Barat.

Tapi ia merupakan wajah keberanian dan perlawanan, wajah yang berdiri di atas kegetiran, pembunuhan, penangkapan dan pemenjaraan atas anak-anak Palestina serta sederet kesewenang-wenangan yang tak berujung.

Perkara konflik Israel-Palestina adalah perkara kemanusiaan. Di sana ada selimut agama, tapi pada hakekatnya politik kolonialisme pula yang mengatur segala.

Mendukung Ahed Tamimi saat ini berarti mendukung penamparan atas tentara Israel yang telah lancang memasuki pekarangan rumahnya setelah mereka menembak seorang saudaranya. Mendukung Ahed berarti mendukung pembebasan atas ratusan anak-anak Palestina yang dipenjara Israel dan ribuan tahanan politik lainnya. Mendukung Ahed berarti mendukung perlawanan atas politik rasialis-apartheid Israel dan politik kolonialis Amerika Serikat. Mendukung Ahed berarti mendukung perjuangan Rakyat Palestina untuk meraih kemerdekaan secara penuh.

Dominggus Oktavianus

Kredit foto: www.middleeastmonitor.com

 

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut