Puisi: Bisik Daun Tembakau

Di bulan Oktober
Daun-daun tembakau dipanen
Dipilah diiris
Ditata diharap
Sambil mengenang kepergian para isteri
dan anak perempuan yang belum pulang

Ini Oktober ke-2
Ini Oktober ke-5
Ini Oktober ke-10
Para perempuan bermigrasi
ke Jepang
ke Arab
ke Taiwan
ke Korea
ke Singapur
ke Malaysia

Berharap dapat uang
untuk sepetak tanah
tanam tembakau

Itu pun jika harga pupuk tak terus memuncak
Kalau keuntungan tak terus mengucur ke gudang-gudang pabrik rokok
dan saku-saku para tengkulak

Ah jika harga pupuk tak terus memuncak
Harga daun sehijau hidup
Tak payah cari nafkah di negara kaya
Sambil dihujat: “Perempuan Jalang!”

Siapa pula punya suami yang hatinya mengerti
Harga nyawa dan darah
Harga keringat dan airmata
di negara tuan-tuan pongah – pemerkosa?

Sementara raja-raja nusantara turut terus menghisap
membiarkan para agen tenaga kerja seperti laba-laba
tak juga sudi membela perempuan migran!

Oktober kali ini
Seperti Oktober di tahun lain
Negara dan lelaki
terus menghisap lintingan tembakau
yang pada daun-daunnya
Perempuan migran berharap
Suatu hari memanen dari kebunnya sendiri

Waking, Kendal, 16 Oktober 2009

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
Tags: