PSSI Setelah Ini

Kemenangan bisa membanggakan—dan seringkali bisa bikin takabur, tapi kekalahan setelah bertarung secara total bukan juga sesuatu yang memalukan. Firman dan kawan-kawan di lapangan telah berusaha maksimal, tapi harus diakui bahwa permainan secara umum berada di bawah penampilan (performa) terbaik mereka. Mungkin ada faktor suporter tuan rumah Malaysia yang memprovokasi dan membuyarkan konsentrasi Timnas dengan gangguan sinar laser, atau bentuk-bentuk gangguan lainnya. Tidak pula ditampik bahwa permainan tim Malaysia berjalan lebih agresif sejak menit-menit awal, meski tim Indonesia juga mendapatkan beberapa peluang mencetak gol.

Tapi sewajarnya, bila dari euforia yang terinterupsi ini kita coba menengok kembali “perayaan-perayaan” setelah kemenangan beruntun sebelumnya. Cukup banyak kritik tajam diarahkan kepada PSSI, para politisi, dan media massa yang menyandera Timnas sebagai obyek kepentingan sempitnya; baik komersil maupun politis. Kemenangan beruntun sebelumnya telah menghembuskan rasa puas diri, sehingga pihak yang seharusnya bertanggungjawab mengatur persiapan Timnas (dalam hal ini PSSI) justru larut dalam selebritas media massa. Di hari-hari menjelang pertandingan final, Timnas disibukkan oleh kegiatan yang tidak ada hubungannya dengan kesiapan teknis, seperti menghadiri undangan makan malam, wawancara dengan media massa, dan kegiatan doa bersama yang turut dihadiri para politisi.

Bukan dalam semangat mencari kambing hitam atas kekalahan yang diderita, tapi penemuan terhadap persoalan-persoalan, ataupun kelemahan-kelemahan, akan membuka kesempatan untuk perbaikan dan lebih mawas diri ke depannya. Hal-hal yang ‘luput’ dari dalam masalah sepakbola secara nasional dapat kita lihat di sini, seperti sangat terbatasnya penjaringan potensi pemain sejak usia dini, tidak adanya sistem kompetisi dengan penjenjangan usia yang dijalankan secara konsisten, dan minimnya sarana pendukung latihan maupun pertandingan. Dengan melihat persoalan ini, Timnas dan seluruh pendukung setianya perlu mengantisipasi hal terburuk dari pertandingan leg 2 di Glora Bung Karno, apabila Timnas harus kembali menelan kekalahan. Antisipasi kemungkinan terburuk ini bukan untuk mematahkan semangat perjuangan tim, tapi kami anggap perlu disampaikan, mengingat berbagai persoalan yang telah mengendap dalam sistem persepakbolaan nasional secara keseluruhan (tidak hanya Timnas), yang berpusar di tubuh PSSI.

Timnas merupakan produk terbaik dari keseluruhan pengorganisasian yang disebutkan di atas, yang dalam proses tersebut membutuhkan dukungan moril dan materil, serta manajemen yang baik (tidak koruptif) di tubuh PSSI sendiri. Dukungan moril dan keuangan agaknya tidak pernah berkurang datang dari suporter setia sepakbola di seluruh tanah air. Dengan popularitasnya, olahraga ini nyaris tidak pernah sepi dari antusiasme masyarakat untuk menyaksikan dan memberi dukungan, baik langsung maupun tidak langsung, kepada tim-tim kebanggaannya dalam kompetisi domestik. Dukungan dari pemerintah bisa dilihat pada kecilnya anggaran pemerintah untuk seluruh bidang bidang olahraga. Sementara organisasi PSSI, selama bertahun-tahun di bawah duet Nurdin Halid dan Nugroho Basoes, terbukti tidak mampu mengelola dukungan-dukungan tersebut menjadi sesuatu yang positif. Perombakan total di tubuh PSSI telah menemukan momentumnya, apapun hasil pertandingan leg ke 2 di penutupan tahun nanti, bila menang ataupun kalah.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • rom

    ayo ganti Nurdin Halid dengan Arifin Panigoro!!

    suporter garuda

  • sigit setia eka

    kalo pada akhirnya team nas sepak bola RI menduduki posisi Runner up alias juara ke 2, itupun hasil yg cukup bagus, setelah hasil buruk sebelumnya,di SEA Games di Laos juru kunci di penyisihan pool, Juara Super Liga, Persipura di Gunduli juara Cina 0-9 !