Fahri Hamzah: Pancasila Butuh ‘Juru Bicara’ Yang Baik

Besok, 1 Juni 2016, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahirnya Pancasila yang sudah 71 tahun. Dalam rentang waktu yang panjang itu, sudahkah Pancasila hadir sebagai dasar negara dan filosofi bangsa?

Mencoba menjawab pertanyaan itu, Rudi Hartono dari berdikarionline.com telah mewancarai Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Fahri Hamzah. Berikut petikan wawancaranya.

Sebentar lagi, tepatnya tanggal 1 Juni mendatang, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Lahirnya Pancasila. Di usia yang sudah 71 tahun itu, sudahkan Pancasila dilaksanakan sebagai dasar negara sekaligus filosofi bangsa?

Ya, sebetulnya ada problem pada sikap kita terhadap Pancasila sejak awal. Pada saat founding father kita mulai merumuskan dasar bernegara, maka pancasila disepakati. Setelah perdebatan menemukan rumusan yang paling ideal, sampai para pendiri bangsa menemukan lima sila yang ada sekarang itu, relatif medium kita waktu itu untuk melakukan sosialisasi itu memang sangat terbatas, sehingga kita mengenal Pancasila dari para elit-elit pemikir bangsa. Cuma, Orde Lama itu terbentur oleh manajemen kesejahteraan. Bung Karno berhasil berhasil mengantarkan kita pada pendirian fondasi berbangsa, yaitu Pancasila sebagai dasarnya dan UUD 1945 sebagai konstitusinya. Tetapi ada problem ketika tuntutan rakyat itu lebih dari sekedar ideologi dan nilai dasar, yaitu kesejahteraan. Nah, jadi ada jarak begitu perdebatan di tingkat elit yang filosofis ideologis sifatnya. Sampai kemudian terjadi tragedi politik yang sangat luar biasa, karena benturan ideologi. Dan pada saat yang sama, ada rakyat kita yang punya persoalan kehidupan sehari-hari. Elit menghadapi persoalan konflik ideologi, sedangkan rakyat menghadapi problem keseharian. Itulah yang menyebabkan orde lama tidak bertahan sehingga terjadilah pergantian kekuasaan. Nah, orde baru ini unik, karena dia datang dengan janji ekonomi. Orde Baru menawarkan pembangunan, tetapi rakyat dilarang berideologi. Bagi Orde Baru, ideologi ini  tanggung jawab negara, sedangkan rakyat sebagai konsumen ideologi. Kita seperti mesin yang merekam ideologi ke dalam pita otak kita masing-masing melalui penataran dan sebagainya. Tipe manusia yang lahir dari ideologisasi oleh Orde Baru itu pada dasarnya adalah rakyat yang ter-deidologisasi. Termasuk juga mahasiswa kan. Politik kampus ditiadakan, NKK/BKK diintroduksi, maka berakhirlah era ideologi di Indonesia. Kita tidak lagi berideologi sebagai rakyat, tetapi sebagai followers atau pengikut daripada demagog-demagog ideologi pada tingkat negara. Setelah orde reformasi datang, rupanya ada kritik kepada pola lama, tetapi kemudian tidak ada kanalisasi tentang bagaimana cara  kita menyepakati apa yang sudah ada dan bagaimana seterusnya kita berbincang tentang ideologi ini. Nah, inilah yang menyebabkan kemudian kita seperti melihat pancasila dengan wajah buruk, seolah-olah produk orde baru. Lalu orang cenderung pada ideologi yang ada, yaitu kapitalisme, seperti yang dituliskan oleh Fukuyama dalam The End of History and the last Man, bahwa sejarah telah berakhir dan kapitalisme liberal ini akan menang. Ini kemudian menjadi pilihan kaum intelektual, para ekonom dan sebagainya. Dan tampak hasilnya sekarang: ketimpangan penguasaan aset dan modal yang luar biasa. Tetapi terkesan indah karena ada gedungnya, ada taman kota yang bersih dan sebagainya. Nah, sampai hari ini, belum ada introduksi kembali kepada Pancasila, kecuali pada zaman Presiden Megawati Soekarnoputri, kemudian di zaman Pak Taufik Kiemas (sebagai Ketua MPR). Maka dimulailah peringatan Hari Lahirnya Pancasila dan  sosialisasi Pancasila, khususnya di DPR dan MPR. Kita baru memulai tradisi itu. Dan ini semacam perayaan kembali Indonesia atau perayaan kembali ideologi negara, dan melahirkan kembali kesadaran umum bahwa bernegara haruslah berideologi. Kira-kira begitu.

Bisa dijelaskan konteks dunia yang dihadapi Pancasila sekarang?

Samuel Huntington pada seperempat abad yang lalu, tepatnya pada tahun 1992, mengeluarkan tesis tentang clash of civilizations atau benturan peradaban. Dia menyebutkan bahwa demokrasi liberal sebagai ideologi dan kapitalisme sebagai jalan ekonomi akan menghadapi dua tantangan besar. Pertama, tantangan material dari peradaban konfusianisme Tiongkok. Ini diwakili oleh Tiongkok itu sendiri. Kedua, tantangan dari peradaban Islam. Nah, yang pertama itu kalau kita lihat, ini sudah seperempat abad ya, rupanya itu benar, bahwa Tiongkok memang secara real menampakkan dirinya sebagai kekuatan ekonomi yang tidak bisa ditandingi lagi, termasuk oleh Amerika Serikat sendiri. Tiongkok didukung oleh stabilitas politik, buruh murah, dan sebagainya. Dan tidak adanya demokrasi, jadi kapitalisme Tiongkok mencapai prestasi mass-production-nya. Sekarang Tiongkok sudah setara dengan Amerika Serikat sebagai kekuatan ekonomi dunia. Yang kedua, kita lihat benturan dengan kelompok islam ini, yang sekarang ini diwakili kelompok radikal. Tapi perlu digarisbawahi bahwa, dari dua benturan itu, negara-negara yang berbenturan itu pastilah tidak relaks. Mereka seperti dalam situasi perang, state in war. Jadi, Amerika dan Tiongkok itu dalam perang dagang yang dahsyat. Sekarang Amerika serikat sekarang lari menggalang Asia Pasifik melalui Trans Pacific Partnership (TPP). Itu batle dagangnya ini benar-benar real. Nah, yang islam itu juga begitu, bahkan sekarang ini kalau kita lihat Barat seperti tidak bertanggung jawab lagi dengan kemunculan kelompok-kelompok radikal. Padahal ada yang pasti dalam kelompok radikal itu. Kelompok radikal itu adalah mesin  pembuat instabilitas, baik politik maupun keamanan. Dan efeknya itu adalah perang. Baik perang saudara maupun perang militer antar negara. Tapi efek pentingya adalah kepada suplai senjata, dan negara-negara suplayer senjata inilah yang kemudian eksis ya, terutama AS dan Israel. Jadi sebetulnya, kalau kita lihat, ada perang diluar sana, dan perangnya semakin dahsyat. Pertanyaannya: dimana kita? Saya mengusulkan, dengan Pancasila ini kita harus keluar dari konflik orang lain. Kita mendesain atau merancang arah kita sendiri, kita tidak ditarik ke barat atau ditarik ke timur. Makanya menarik sebetulnya mengkaji tidak saja produk-produk sejarah bangsa Indonesia yang tertulis. Tetapi juga artefak-artefak fisik bangsa Indonesia itu sebetulnya menjelaskan bahwa bangsa ini tidak suka dengan konflik. Kalau kita lihat sejarah kedatangan islam sebagai contoh, menarik karena kita tidak menemukan akar konflik yang meluas, begitu halus datangnya dan kemudian tidak terjadi konflik yang meluas, bahkan terjadi akulturasi yang menarik sehingga menciptakan produk-produk budaya yang lahir dari bukan konflik. Dan rupanya, Pancasila sendiri kalau kita baca bukunya Elson, Idea of Indonesia, ini ada pengaruh dari pemikiran barat, dari pemuda-pemuda Indonesia yang pergi sekolah ke Belanda dan sekitarnya, disana mempelajari negara modern dan sekular, maka mereka membawa pulang faham nasionalisme. Lalu dari timur ini, orang-orang dari Sumatera khususnya, mereka pergi bersekolah ke Timur Tengah, seperti ke Mesir di Al Azhar dan sekitarnya, lalu pulang dengan konsep negara agama atau Ketuhanan. Tokoh-tokoh pendiri bangsa kita ini malah meramu itu semua pemikiran itu menjadi racikan milik kita, sampai pada kompromi akhir: hilangnya tujuh kata dalam Piagam Jakarta itu. Menarik bahwa kita sepertinya ditakdirkan sebagai rekonsoliator sesuatu yang nampak beda. Dan pancasila itu sebetulnya sebagai ramuan saripati dari berbagai pemikiran dan khazanah bangsa Indonesia. Seharusnya Pancasila ini yang bisa menjadi ideologi baru dunia. Tetapi, untuk itu, Pancasila harus punya juru bicara yang baik. Bagi saya, juru bicara yang paling baik adalah kesuksesan kita di dalam menerapkan pancasila pada semua aspek kehidupan: ekonomi, politik, kebudayaan, sains dan teknologi, dan lain-lain. Tantangan kita adalah menjadikan Pancaila sebagai living ideology, ideologi yang hidup. Saya kira itu.

Tadi Bung bilang tentang benturan dagang dan ideologi, kemudian Bung bilang bahwa Pancasila harus jadi ideologi dunia. Dulu Sukarno mengajukan Pancasila sebagai pandangan dunia alternatif terhadap pertarungan dua gagasan besar, yakni Manifesto Komunis (sosialisme) versus Deklarasi Independen Amerika Serikat (liberalisme/kapitalisme). Tetapi ada persoalan, ketika kita mau Pancasila diterima oleh masyarakat dunia secara universal, di kita sendiri Pancasila mulai redup. Bisa dijelaskan?

Itulah fungsi dari perayaan-perayaan yang kita buat (peringatan Hari Lahirnya Pancasila, red). Tentu kita perlu cari strategi untuk mengobati trauma kepada pancasila. Sebab, pemberlakuan azas tunggal dulu itu agak terlalu kasar. Kita harus punya metodologi dan strategi baru untuk mengaktualkan nilai-nilai pancasila kembali. Nah, diantara tugas kita adalah para pemimpin harus mulai gandrung dengan pemikiran-pemikiran pancasila itu. Karena begini, kalau kita cuma menghafal lima sila itu saja itu memang kering, dan itu yang selama ini kita dicekokkan oleh rezim otoriter Orde baru. Kita disuruh hafal saja, gitu kan, kalau tidak dihafal, kita disuruh push-up, gitu-gitu aja kan? Selama 32 tahun begitu. Nah, sekarang harus lebih dari itu. Misalnya, metamorfosa sila kedua itu, dulu Bung Karno mengusulkan nama sila kedua itu internasionalisme. Itu internasionalisme dalam rangka kemanusiaan yang adil dan beradab. Karena kemanusiaan, humanity, dan keadilan adalah nilai-nilai universal. Misalnya lagi, Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, susahnya kita sekarang ini karena kita sejak awal sudah ada trauma kepada agama, ya itu kesalahan dari orde baru juga. Akibatnya, agama sebagai khazanah yang sangat berharga, pagi ini saya nge-tweet di twitter saya itu tentang keindahan agama, karena Tuhan Maha Indah. Bagaimana mengintroduksi satu perspektif tentang Ketuhananan itu, sehingga orang itu punya imajinasi bahwa semua yang tidak indah dan ketidakadilan sebetulnya anti Ketuhanan. Saya kira, kalau kita bisa mengintroduksinya secara canggih, pancasila akan menjadi relevan. Saya kira, elit kita baru kita saat ini hanya berhenti pada menghafal sila-sila Pancasila. Malah saya khwatir, mulai banyak juga yang tidak hafal sila-sila ini. Saya kira ini problem nasional kita. Sebetulnya, kalau Presiden sadar akan hal itu, itu gampang sekali, dia bisa mempopulerkan Pancasila itu. Kira-kira itu.

Sekarang ini kita berhadapan dengan globalisasi neoliberal, dimana konsep negara bangsa seakan dipaksa lenyap dan dipaksa melebur dalam satu “pasar global”. Masihkah Pancasila bisa menjadi benteng yang kokoh untuk menghadapi globalisasi neoliberal itu?

Kalau orang Islam itu ada istilah Maqashid syariah, tujuan-tujuan agama. Karena ini tujuan agama, maka pasti kuat. Misalnya, sila Ketuhanan Yang Maha Esa, iitu sebetulnya saripati dari kemerdekaan. Karena, manusia dalam perspektif Ketuhanan itu mesti sesuai dan semampu kapasitasnya: dia besar, dia merdeka, dia kuat: Kalau ada manusia yang kuat, apapun jenis tantangan yang kita hadapi kita akan hadapi. Nah, sila kemanusiaan juga begitu, kalau kita sanggup berlaku adil dan memuliakan manusia, maka manusia Indonesia menjadi mulia. Kalau kita bersatu sadar dengan tujuan bersama, maka kita akan jadi kuat. Kalau kita tidak memaksakan pendapat dan mau bermusyawarah, maka kita akan jadi cerdas. Kalau kita berlaku adil kepada orang-orang Indonesia, maka kontinen di Indonesia ini atau nusantara ini akan menjadi kekuatan yang maha dahsyat. Ini senjata. Tetapi siapa yang merumuskannya itu sebagai senjata. Ibarat sebuah senjata canggih yang sudah dikelupas berserak di atas meja. Kalau dia tidak dirakit menjadi senjata, maka kita tidak bisa nembak. Tetapi kalau kita bisa merakitnya, ternyata itu adalah senjata dahsyat. Kira-kira begitulah yang kita hadapi sekarang ini

Sekarang ini juga Pancasila menghadapi tantangan internal, seperti menguatnya praktek intoleransi beragama dan egosentrisme. Bahkan ada beberapa kelompok yang terang-terangan menuntut penggantian Pancasila sebagai dasar negara dengan ajaran/ideologi lain. Bagaimana pendapat anda?

Sekali lagi, karena orang tidak mengerti. Memang yang paling fatal sebetulnya pemikiran agama kita yang kurang sekali. Pemikir-penikir agama kita ini kebanyakan tidak datang dari otak-otak kelas satu. Padahal, inilah sebab wajah muram dari agama itu sendiri. Karena manusia mencoba menginterpretasi Tuhan. Padahal, Tuhan itu Maha Besar. Tapi kalau kita pakai otak picik, Tuhan yang Maha Besar itu jadi rusak juga interpretasinya. Saya kira ini memerlukan, sekali lagi, penjurubicaraan yang baik. Sehingga mutiara terpendam ini, dalam pasal-pasal dan dalam filsafat yang ada di dalamnya ini akan menyelesaikan persoalan egosentrisme, persoalan kewilayahan, persoalan intoleransi, persoalan kejahiliyahan lah. Tetapi, itu sekali lagi memerlukan pikiran dan otal-otak besar.

Menurut anda, apa yang mesti dilakukan oleh bangsa ini untuk memenangkan kembali Pancasila dalam menghadapi berbagai tantangan dan persoalan kebangsaan saat ini?

Semalam kita konser (maksudnya, Konser Revolusi Pancasila di gedung DPR), ya menariklah. Kita mau tarik anak-anak muda untuk mempelajari dan mensosialisasikan Pancasila. Setelah ini kita ada pameran, diskusi, nonton wayang dan lain-lain. Sebetulnya, kalau pemerintah bisa mengambil isu dan ide-ide luar biasa ini, saya kira ini adalah medium konsolidasi nasional yang baik. []

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut