Protes Kenaikan BBM Paling Mengguncang Dunia

Pada awal April mendatang, pemerintahan SBY berencana menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Kenaikan itu, seperti biasanya, akan memicu protes dan perlawanan dimana-mana.

Akan tetapi, tahukah anda protes kenaikan BBM paling ‘dahsyat’ dunia? itu terjadi di Caracas, Ibukota Venezuela, pada 27 Februari 1989. Peristiwa itu dikenal dengan sebutan “Caracazo” atau “pemberontakan Jumat hitam”.

Pada malam 27 Februari 1989, pemerintahan sayap kanan Carlos Andrés Perez mengumumkan kenaikan harga bensin. Carlos Andrés Perez, yang terpilih untuk kedua kalinya sebagai Presiden Venezuela, baru 25 hari memulai periode kedua pemerintahannya.

Akibat kenaikan harga bensin itu, tarif transportasi juga meningkat dua kali lipat. Sebagian besar rakyat, khususnya pelajar dan kaum miskin, tidak menyetujui kenaikan tariff angkutan tersebut.

Protes bermula di kota kecil dekat Caracas, yakni Guarenas. Kota ini mirip dengan Bogor atau Bekasi di Indonesia. Guarenas merupakan tempat tinggal sebagian besar pekerja dan pelajar yang bekerja dan belajar di Caracas.

Pelajar dan pekerja menolak membayar sesuai tarif baru. Kemarahan pun meledak. Sebelum jam 08.00 pagi, pembakaran dan penjarahan toko sudah terjadi.

Protes kemudian meluas ke terminal penumpang Nuevo Circo, di Caracas. Para pelajar menduduki terminal ini. Setelah itu, protes mulai menyebar ke berbagai sudut kota Caracas.

Protes dan penjarahan juga terjadi di San Cristobal, Barquisimeto, Maracay, Barcelona, Puerto La Cruz, Merida, Maracaibo dan Valencia.

Merespon meluasnya aksi protes, Carlos Andrés Perez memutuskan mengirimkan angkatan bersenjata. Di beberapa tempat, polisi dan tentara menembaki massa protes dan penjarah secara membabi-buta.

Polisi dan tentara memberlakukan jam malam. Mereka mendatangi pemukiman kumuh, seperti  Catia, Petare dan El Valle, dan menembaki siapapun yang bergerak pada malam hari.

Pada sore harinya, Carlos Perez mengumumkan negara dalam keadaan “darurat”. Akan tetapi, besok paginya, 28 Februari 1989, rakyat kembali tumpah-ruah di jalan-jalan kota Caracas. Sebagian besar yang bergerak adalah rakyat miskin.

Rejim Carlos Perez menindas protes ini dengan sangat keji. Data resmi menyebut jumlah orang yang tewas tertembak polisi saat protes mencapai 300 orang. Akan tetapi, versi lain menyebut 3000-an orang terbunuh. Sedangkan 2000 orang dilaporkan hilang sejak peristiwa.

Rejim Carloz Perez menguburkan massal para korban. Pihak kejaksaan agung Venezuela menganggap peristiwa “Caracazo” sebagai genosida terbesar kedua di Venezuela. Genosida terbesar pertama dilakukan oleh penjajah Spanyol.

Protes “Caracazo” juga disebut-sebut pemberontakan anti-neoliberal pertama di Amerika Latin dan seluruh dunia. Zapatista, gerakan yang dianggap icon anti-neoliberal dunia, baru melancarkan pemberontakan pada 1 Januari 1994.

Sedangkan peristiwa Caracazo, yang dianggap tonggak pertama pemberontakan anti-neoliberal, segera memicu pemberontakan militer progressif pada 4 Februari 1992. Pemberontakan itu dipimpin langsung oleh kolonel Hugo Chavez.

Meskipun banyak menimbulkan korban jiwa, tetapi rejim yang mestinya bertanggung-jawab atas peristiwa Caracazo, Carlos Perez, belum pernah diadili oleh pengadilan apapun.

RAYMOND SAMUEL

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut