Ratusan Petani Wajo Duduki Kantor PTPN XIV

Ratusan petani di kecamatan Keera, Wajo, Sulawesi Selatan, menduduki kantor Perseroan Terbatas Perkebunan Nusantara (PTPN) XIV di Desa Ciromani, Senin (22/4/2012).

Ratusan petani itu berasal dari tiga desa, yaitu Desa Ciromani, Desa Awota, Desa Paojepe dan Kelurahan Ballere. Mereka menuntut agar lahan seluas 2.000 dari 8.000 hektar yang dikuasai pihak PTPN XIV segera diberikan kepada petani.

Sebelum menggelar aksi pendudukan, para petani sempat menggelar pertemuan dengan Camat Keera. Sayang, pertemuan itu tidak membuahkan hasil.

Karena itu, petani pun bergerak ke kantor PTPN XIV. Aksi itu menyebabkan aktivitas PTPN berhenti total. Para pekerja dan karyawan PTPN XIV sudah meninggalkan lokasi sejak Kamis (18/4) lalu.

“Kami tidak akan meninggalkan kantor ini sebelum tanah kami dikembalikan. Selama ini kami hanya dijanji-janji terus sama pemerintah,” ujar Labaweng, koordinator Forum Rakyat Bersatu (FRB) yang mengkoordinir aksi ini.

Menanggapi aksi itu, Ketua Komisi I DPRD Wajo Taqwa Gaffar mengatakan, masalah sengketa lahan antara masyarakat dengan PTPN XIV belum ada penyelesaian.

Ia pun berharap agar konflik agraria ini segera diselesaikan. “Kami berharap kasus ini segera ada kejelasannya karena dikhawatirkan polemik yang terjadi di perkebunan kelapa sawit milik PTPN XIV di kecamatan Keera akan sama seperti yang terjadi di mesuji Sumatera Selatan,” katanya.

Konflik agraria di kecamatan Keera, Wajo, sudah berlangsung sejak tahun 1972. Saat itu, PT. Bina Mulia Ternak (PT. BMT) menguasai lahan warga dengan kontrak selama 25 tahun.

Awalnya, masyarakat tidak mau menyerahkan lahannya. Namun, karena mendapat intimidasi, mereka pun terpaksa menyerahkan. Dalam perkembangannya, lahan yang dikuasai oleh PT. BMT itu beralih ke tangan PTPN XIV tanpa sepengetahuan masyarakat.

Sesuai dengan kesepakatan awal, kontrak dengan PT. BMT seharusnya sudah berakhir sejak tahun 1998. Namun, kenyataannya lahan itu malah dikuasai oleh PTPN XIV untuk perkebunan sawit.

“Kami selaku pemilik lahan tidak pernah menerima ganti rugi satu sen pun dari PT. Bina Mulia ternak padahal lahan itu sah milik warga yang merupakan warisan dari nenek moyang kami,” ungkap Labaweng.

Rahman

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut