Kerinduan Akan Transportasi Cepat Dan Massal

Pada hari Minggu, 22 Februari 2012, masyarakat Jakarta bisa menikmati layanan bus Transjakarta secara gratis. Ini adalah program “gratis sehari naik Transjakarta”. Program gratis naik bus Transjakarta ini dimulai pukul 05.00-23.00 di seluruh koridor Transjakarta.

Tujuannya, kata pengelola Transjakarta, untuk memperkenalkan layanan bus Transjakarta kepada masyarakat luas. Selain itu, program ini dipergunakan untuk memancing warga Jakarta agar beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum.

Program ini disambut antusias oleh warga Jakarta. Hanya saja, karena sosialisasi kurang, banyak warga yang tidak mengetahui program ini. Bahkan banyak yang baru mengetahui setelah berada di halte Transjakarta.

Nenti, 44 tahun, langsung gembira saat mengetahui program ini. Ia dan empat anaknya berniat menggunakan Transjakarta untuk berlibur ke Ancol. “Saya jadinya bisa menghemat ongkos,” katanya.

Kegembiraan juga terpancar dari senyum Carissa, pelajar SMU yang sering menggunakan Transjakarta untuk bepergian. Bagi Carissa, program semacam ini sangat membantu masyarakat Jakarta.

Hanya saja, bagi Carissa, program gratis saja belum cukup. Ia meminta pengelola Transjakarta juga memperbaiki kualitas layanan. “Ya, misalnya, tambah bus dong. Biar penumpang gak membludak tiap hari,” katanya.

Antusiasme rakyat ini membawa petanda: warga Jakarta sudah sangat rindu kehadiran sistim transportasi murah dan massal. Patut disayangkan, Jakarta, yang dihuni sedikitnya 10-an juta jiwa, belum punya sistem transportasi cepat dan massal.

Setiap hari, puluhan juta kendaraan menyesaki jalanan kota Jakarta. Jumlah kendaraan itu benar-benar sudah ‘berlimpah’. Sampai-sampai, trotoar, yang mestinya diperuntukkan untuk pejalan kaki, telah ‘diinvasi’ oleh pengguna motor dan sepeda.

Dulu, Jakarta bermimpi punya monorel. Tiang pancangnya pun dibangun di mana-mana. Kehadirannya juga makin mempersempit ruas jalan. Akan tetapi, proyek senilai 500 juta dolar AS atau sekitar Rp 4,65 triliun ini pun terhenti di tengah jalan.

Niat Pemda DKI Jakarta tidak mengendor. Pada tahun 2004, Pemda DKI memulai proyek “Busway”. Konon, konsep ini dijiplak dari model “TransMilenio” yang sukses di Bogota, Kolombia.

Akan tetapi, konsep “Busway” ini tidak terlalu berhasil. Ia gagal menarik klas menengah ke atas untuk beralih ke transportasi umum. Lebih parah lagi, pembangunan jalur busway juga mengambil sebagian badan jalan utama.

Pemda DKI juga pernah mencoba cara lain: membangun transportasi waterway, dengan memanfaatkan sungai-sungai di Jakarta. Sejak diluncurkan 6 Juni 2007 lalu, program ini tidak pernah berjalan sebagaimana mestinya. Sungai-sungai di Jakarta sangat kotor, dipenuhi sampah, dan banyak jembatan rendah.

Ada juga kereta-api, yang sudah dikenal bangsa Indonesia sejak jaman kolonial. Jumlah jalur dan keretanya sangat terbatas. Sebagian besar rel kereta api itu masih peninggalan kolonialisme Belanda. Sedangkan keretanya kebanyakan kereta bekas yang diimpor dari Jepang.

Sejak awal, pemerintah Indonesia gagal membangun sistim transportasi massal di Jakarta. Akibatnya, karena tidak ada sistim transportasi yang memadai, maka rakyat pun mencari alat transportasi sendiri. Itulah penyebabnya kendaraan bermotor menjadi alat transportasi utama banyak rakyat Indonesia.

ANNA YULIA

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut