Kemenangan Kecil Petani Tembakau Di Lombok

Setelah melalui perjuangan cukup lama, setidaknya 2-3 tahun, para petani di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), akhirnya bisa menikmati kucuran Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau (DBHCT).

Salah satu kelompok petani yang menerima kucuran hibah itu adalah Serikat Tani Nasional (STN). Marnin, salah seorang pengurus STN Lombok Timur, menjelaskan bahwa anggotanya yang menerima hibah itu tersebar di 10 desa.

Dari perjuangan STN, setidaknya 4 hingga 5 kelompok tani di masing-masing desa tersebut berhasail mendapat dana itu. “Awalnya juga kami dipersulit dengan berbagai aturan yang sifatnya birokratis,” ujar Marnin.

Dengan hibah tersebut, para petani setidaknya bisa mengatur nafas kembali. Setiap kelompok tani mendapat Rp20 juta. Sebagian petani menggunakan dana itu untuk membeli pupuk. Tetapi ada pula kelompok tani yang mempergunakan dana tersebut untuk membeli traktor.

Secara keseluruhan, para petani di Lombok Timur hanya mendapat hibah DBHCT sebesar Rp5 miliar. Karena dirasa tidak cukup, para petani pun mendatangi Bupati Lombok Timur agar supaya dilakukan penambahan. Tetapi keinginan petani tersebut tidak dipenuhi oleh Bupati.

Para petani tidak berhenti di tengah jalan. Mereka pun menggelar aksi ke kantor Gubernur NTB beberapa kali. Menurut Marnin, yang saat itu terlibat dalam aksi bersama petani, pihak pemerintah NTB memang harus memberi tambahan kepada petani di Lombok Timur.

“Produksi tembakau terbesar ada di Lombok Timur. Sebagian besar petani tembakau juga berada di Lombok Timur. Maka wajar jika kami menuntut agar ada penambahan khusus kepada petani di Lombok Timur,” ujarnya.

Gubernur NTB, M Zainul Majdi, akhirnya menyetujui proposal petani Lombok Timur itu. Jadinya, keseluruhan hibah DBHCT di Lombok Timur mencapai Rp11 miliar. Dana sebesar itu rencananya akan dibagi ke 550 kelompok tani di daerah tersebut.

Masih Kemenangan Kecil

Marnin dan pengurus STN di Lombok Timur sangat menyadari bahwa hibah itu barulah sebatas kemenangan kecil. Setidaknya, jika mengacu pada total dana cukai tembakau yang ada ditangan pemda Lombok Timur, para petani hanya mendapat bagian kecil.

“Total dana cukai di kantong Pemda Lombok Timur mencapai Rp35 milyar. Tetapi para petani hanya diberi Rp11 milyar. Seharusnya petani mendapat 80% dari total dana itu,” kata Marnin.

Ia pun menganggap program ini seolah-olah seperti sogokan. “Kami merasa seperti disogok oleh mereka. Tentunya supaya kami tidak lagi melakukan perlawanan-perlawanan politis,” tegasnya.

Perjuangan untuk meminta agar dana DBHCT diserahkan kepada petani sudah dilakukan sejak lama. STN sendiri sudah mengangkat isu ini sejak tahun 2009. “Kami sudah membawa isu ini dalam aksi-aksi massa, tetapi kurang ditanggapi,” ungkap Marnin ketika menjelaskan historis perjuangan STN mengangkat isu ini.

Pada tahun 2010, seiring dengan mencuatnya perlawanan terhadap RPP tembakau dan RUU tentang pengedalian dampak produk tembakau, STN pun kembali mengangkat isu sebagai salah satu tuntutan.

STN sendiri sangat menolak pengesahan RPP tembakau dan RUU tentang pengendalian produk tembakau itu. Maklum, sebagian besar basis STN di Lombok Timur adalah petani tembakau.

Lombok timur pun merupakan satu sentra produksi tembakau di Indonesia. Tembakau disana disebut tembakau Virginia. Pada musim tanam 2008, Lombok Timur memproduksi tembakau sebanyak 45.534 ton atau sekitar 90 persen dari kebutuhan nasioal.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut