Politik Pangan Dunia

Kegagalan kapitalisme “pasar bebas” tercermin sangat jelas dalam produksi dan distribusi pangan. Coba bayangkan, kemajuan teknologi dan penciptaan kekayaan sudah berkembang sedemikian rupa, tetapi ancaman kelaparan dan ketidakcukupan pangan terus membayangi masyarakat dunia.

Ada lebih 6 milyar orang sedang mendiami dunia ini. Akan tetapi, menurut PBB, sekitar 1 milyar menderita kelaparan kronis. Akan tetapi, angka ini masih merupakan perkiraan kasar, sebab tidak memperhitungkan mereka yang kekurangan gizi dan nutrisi. Jika mau dihitung semuanya, maka jumlah orang yang terancam kelaparan bisa mencapai 3 miliar orang. Hal itu makin dipertegas oleh PBB bahwa 18.000 anak-anak meninggal setiap hari sebagai akibat langsung atau tidak langsung dari gizi buruk. (Prabhat Patnaik)

Di Amerika Serikat, negara yang sering diidentikkan dengan kemakmuran, masih banyak juga rakyatnya yang terancam kelaparan. Menurut catatan departemen Pertanian AS, pada tahun 2006 terdapat 35 juta yang hidup dalam kondisi rawan pangan, termasuk 13 juta anak-anak di dalamnya.

Meskipun produksi makanan Amerika Serikat berlimpah, tetapi masih banyak rakyatnya yang rawan pangan. Begitu juga dengan Indonesia, negeri agraris yang sangat subur, yang sebagian besar rakyatnya terus-menerus menjerit karena kenaikan harga pangan.

Apa penyebabnya? Kelaparan dan kekurangan gizi sebagian besar disebabkan oleh sebuah sistem yang semata-mata mengabdi kepada profit (keuntungan). Makanan semakin terkomoditifikasi. Ia sekarang diperlakukan tak ada bedanya dengan komoditi lain, seperti pakaian, mobil, perhiasan, dan lain-lain.

Orang yang memerlukan makanan harus punya kemampuan membeli dan mengkonsumsinya. Padahal, bagi manusia, makanan merupakan kebutuhan dasar yang tak bisa tidak ada. Ia sama dengan air dan udara dalam kehidupan. Akan tetapi, di bawah sistim kapitalisme, kebutuhan dasar ini diperlakukan sebagai komoditi.

Lebih parah lagi, komoditas pangan sekarang sudah masuk dalam ekonomi spekulasi.  Harga pangan dunia sekarang banyak ditentukan oleh segelintir orang di Chicago, Amerika Serikat. Di sebuah gedung bernama Chicago Board of Trade (CBOT), bursa berjangka tertua didunia yang berdiri sejak 1848, harga komoditi pertanian di seluruh dunia banyak ditentukan.

Padahal, orang-orang disana bukanlah petani, bukan pula pejabat yang terlibat dalam merumuskan kebijakan pertanian, melainkan para pengusaha dan spekulator yang menentukan harga berdasarkan prediksi musim, bencana, gagal panen, dan lain sebagainya.

Politik pangan global saat ini dikendalikan oleh segelintir korporasi. Dan, seperti anda ketahui, tujuan politik pangan mereka bukanlah untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia, melainkan untuk akumulasi keuntungan (profit).

Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia jelas sangat terancam dengan kecenderungan politik pangan global ini. Hampir semua aspek perekonomian kita, termasuk pangan, sudah terintegrasi dengan pasar global.

Sementara, pada sisi lain, hampir semua kebutuhan pangan dalam negeri saat ini diperoleh melalui impor. Sejak tahun 1999 hingga sekarang, Indonesia sudah menjadi pengimpor berbagai jenis produk pangan: antara tahun 1998-2001 kita menjadi negara importir beras terbesar di dunia; dan kini setiap tahun kita impor gula 40 persen dari kebutuhan nasional; impor sekitar 25 persen konsumsi nasional daging sapi; impor satu juta ton garam yang merupakan 50 persen dari kebutuhan nasional; dan impor 70 persen kebutuhan susu.

Dengan demikian, gejolak harga pangan dunia akan sangat berpengaruh pada harga pangan di dalam negeri. Rakyat kita, yang separuhnya masih berpendapatan di bawah 2 dollar AS per hari, tentu sangat terancam oleh gejolak pangan dunia.

Oleh karena itu, jika pemerintah tidak punya strategi kedaulatan pangan dan menghentikan ketergantungan terhadap impor dalam waktu dekat ini, maka gejolak dan krisis pangan global sangat berpotensi melemparkan ratusan juta rakyat Indonesia dalam ‘ancaman kelaparan’. Hal itu makin diakselerasi oleh kemiskinan dan kehancuran ekonomi akibat penerapan kebijakan neoliberal yang makin massif di Indonesia.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut