Posko Perjuangan Rakyat Meranti Diserang Orang Tidak Dikenal

Tengah malam tadi, sekitar pukul 01.23 WIB, Posko Perjuangan Rakyat Meranti (PPRM) dan Aliansi Masyarakat Peduli Meranti (AMPEL) tiba-tiba diserang oleh enam orang dengan menggunakan kendaraan bermotor.

Seorang saksi mata, Bambang Aswedi, yang juga ketua PRD Riau, mengaku bahwa para penyerang tiba-tiba muncul dan merampas sejumlah perangkat aksi seperti bendera, spanduk, dan baliho.

Bahkan, salah seorang dari pelaku mengeluarkan samurai berukuran panjang untuk menakut-nakuti penghuni posko. “Kejadiannya berlangsung sangat singkat,” kata Bambang Aswendi.

Menurut pengakuan Bambang, dari enam orang pelaku penyerangan itu, salah soerang berpakaian putih dan berbadan kurus, sementara pelaku lainnya berbadan tegap dan mengenakan pakaian hitam.

“Pada awalnya kami mencoba untuk melawan. Tapi karena mereka membawa samurai, maka kami pun urung melakukan perlawanan,” kata Bambang.

Saat penyerangan terjadi, posko PPRM dijaga oleh tujuh orang, yaitu Bambang Aswendi, Imul, Jhonny, Zul, Iwan, Babon, dan Nino. Satu orang sudah tertidur, yaitu Nino, sedangkan enamnya lainnya sedang berdiskusi.

Dari empat motor yang dipergunakan pelaku, satu motor berhasil diidentifikasi, yaitu motor tiger 2000 dengan plat nomor BM 5780.

Posko perjuangan rakyat Meranti ini sudah memasuki hari ke-16. Sebelumnya, posko ini juga sempat didatangi oleh Pemuda Pancasila dan memaksa para aktivis membubarkan posko. “Kami melawan saat itu. Usaha mereka tidak berhasil.”

Tuntutan para petani adalah menuntut agar tiga perusahaan, yaitu: PT. Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), PT. Sumatera Riang Lestari (SRL), dan PT. Lestari Unggul Makmur (LUM). Ketiga perusahaan ini dianggap berpotensi merampas tanah rakyat dan merusak ekologi.

Sebagai tindak lanjut atas aksi penyerangan ini, pihak PPRM akan menggelar konferensi pers besok pagi untuk mengecam tindakan ini.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut