Polisi Represi Aksi Ribuan Petani Di Mapolres Jember

Rencana ribuan petani yang tergabung dalam Gerakan Petani Indonesia (Gertani) untuk menggelar aksi solidaritas terkait penangkapan dua kawan mereka di Markas Polres Jember, Sabtu (19/10/2013), tidak terlaksana lantaran direpresi oleh pihak kepolisian.

Awalnya, sekitar pukul 09.00 WIB, ribuan petani dari dusun Mandiku dan Curahnongko tiba di Mapolres Jember. Namun, tanpa alasan yang jelas, puluhan anggota kepolisian bersenjata laras panjang mulai menyerang petani. Bahkan, para petani yang masih di atas truk pengangkut massa pun dipukuli oleh anggota kepolisian.

Puluhan petani, termasuk perempuan dan anak-anak, ditendang dan dipukul popor senapan laras panjang oleh polisi. Akibatnya, 30-an petani mengalami luka seperti luka robek, lebam, kepala bocor dan terkilir.

Namun, tindakan brutal kepolisian belum berhenti di situ. Sejumlah petani yang ditangkap dan kemudian diinterogasi mendapat perlakuan kasar, seperti dipukuli, ditendang, dan ditempeleng.

“Yang cukup ironis, polisi juga memaksa merampas bendera merah-putih yang dibawa oleh para petani. Karena petani mempertahankan bendera itu, ia dipukuli dengan popor senapan dan pentungan,” kata Ketua Gertani, Agus Sutrisno, Sabtu (19/10/2013).

Pihak kepolisian beralasan, aksi penyerangan ke atas truk petani itu dilakukan lantaran para petani diduga membawa senjata tajam. Namun, para petani membantah tudingan tersebut. Para petani mengaku hanya bermaksud menggelar aksi damai untuk menuntut pembebasan dua kawan seperjuangan mereka yang ditangkap paksa oleh Polres Jember.

Kekerasan baru mulai mereda setelah 4 orang perwakilan petani, yakni Yateni, Agus Sutrisno, Tukirin, dan Yadi, bertemu dengan Kapolres Jember,  Ajun Komisaris Besar Awang Joko Rumitro. Dalam pertemuan tersebut, perwakilan petani mempertanyakan alasan penangkapan dua kawan seperjuangan mereka.

Usai pertemuan, perwakilan petani dan Kapolres keluar menemui ribuan petani di depan kantor Mapolres. Baik perwakilan petani maupun Kapolres Jember menjelaskan hasil pertemuan.

Di hadapan ribuan petani, Kapolres Jember AKBP Awang Joko Rumitro memperingatkan petani agar jangan berani menantang polisi kendati polisi kalah dari segi jumlah. Menurutnya, pihak kepolisian siap meladeni aksi warga jika menuntut bentrok fisik dan mengandalkan massa.

AKBP Awang juga menegaskan bahwa pihak kepolisian siap bertindak tegas dan akan melakukan penangkapan terhadap warga yang melawan hukum terkait konflik agraria di lahan milik Perhutani dan PTPN XII.

Terkait aksi brutal dan represif aparat kepolisian terhadap aksi petani dusun Mandiku dan Curahnongko, Gertani menyatakan tindakan Polres Jember tersebut tidak beradab dan inkonstitusional.

Gertani menuntut agar Kapolres Jember, AKBP Awang Joko Rumitro, segera dicopot dari jabatannya. Gertani juga menuntut pembebasan dua aktivis petani yang ditangkap paksa oleh Polres Jember.

Penangkapan Paksa Dua Aktivis Petani

Sebelumnya, Sabtu (19/10/2013) dini hari, pihak Polres Jember menangkap dua orang aktivis petani, yakni Katibil dan Gunung. Proses penangkapan terhadap kedua petani dianggap berlebihan.

Saat menangkap Katibil, polisi mendobrak pintu rumahnya di dusun Mandiku, Sidodadi, Jember. Sedangkan saat menangkap Gunung, polisi mencongkel jendela rumah petani tersebut.

Kedua petani itu kemudian digelandang ke Mapolres Jember. Pihak kepolisian beralasan, penangkapan terhadap kedua petani tersebut dilakukan karena adanya laporan bahwa kedua petani tersebut menganiaya seorang anggota Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) bernama Kosim pada tanggal 5 Juni 2013 lalu.

Ketua Gertani Agus Sutrisno mengatakan, tindakan pemukulan yang dilakukan petani terhadap anggota LMDH tersebut terjadi lantaran yang bersangkutan mengusir paksa para petani saat berdialog dengan pejabat dari Kementerian Kehutanan. Menurut Agus, polisi seharusnya tidak melakukan aksi penangkapan hanya dengan bersandar pada satu sumber informasi.

Pihak Polres Jember sendiri mempersilahkan para petani untuk menempuh jalur praperadilan jika penangkapan yang dilakukan oleh pihak kepolisian tersebut dianggap melenceng.

Berikut nama-nama petani yang mengalami luka-luka saat aksi massa di depan Mapolres Jember: P. Saimin (58 th) mengalami robek di bagian hidung; Margianto/Plenying (31 th) luka memar di muka dan kepala bocor; Ciput (35 th) luka memar di muka; Miskun (74 th) luka memar di wajah dan badan; Tukirin (50 th) luka memar di wajah; Agus Sutrisno (30 th) luka memar di wajah;  Misiran (50 th) luka memar di wajah dan tubuh; Neri (60 th) luka memar di wajah dan tubuh; Paimin (40 th) luka memar di wajah dan tubuh;  Ibu Mariani (35 th) luka memar di wajah dan tubuh;  Keno (35 th) luka memar di wajah dan tubuh; Sutris (41 th) luka memar di wajah dan tubuh;  Hariyono (40 th) luka memar di wajah dan hidung;. Zen (37 th) luka memar di wajah dan tubuh; Bonadi (60 th) luka memar di wajah dan tubuh;  Bagong (35 th) luka memar di wajah dan tubuh; Sudar (40 th) luka memar di wajah dan tubuh; Sahri (40 th) luka memar di wajah dan tubuh;  Supri (35 th) luka memar di wajah dan tubuh; Yadi (60 th) luka memar di wajah dan tubuh;  Ma’at (55 th) luka memar di wajah dan tubuh; Totok (35 th) luka memar di wajah dan tubuh.

Sapto Raharjanto

Editor: Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Wanandi Kabu

    jangan hanya jd alat represif bagi rakyat manakala rakyat menagih haknya, rakyatlah yang berkuasa. wahai Polisi kalau pemernth menjalnkan perintah pemodal untuk melakukan ekspansi lawan itu pemerintah rakyat akan mendukungmu.. jangan ikutan menindas rakyat.