Polisi Makin Brutal: 7 Massa Aksi Ditangkap Di Depan DPR

Polisi kembali menggunakan jalur kekerasan untuk menghadapi aksi ratusan mahasiswa di depan gedung DPR, Kamis (29/3/2012). Sejumlah mahasiswa dipukuli secara brutal dan 7 orang lainnya ditangkap.

Selan itu, pada saat membubarkan aksi mahasiswa, polisi menggunakan gas air mata dan water canon. Tidak hanya itu, polisi mengejar dan memukuli mahasiswa yang sudah bergerak mundur.

Dari tujuh orang yang tertangkap itu adalah tujuh mahasiswa.  Ketujuh mahasiswa itu adalah Irwan Zakaria (LMND), Sugi (GMNI), Munan (GMNI STIE Budi Bakti Bekasi) Samsul (BEM STMIK Mitra Karya Bekasi) Boni (STIE Tribuana), Sulistiyono (Trisakti) dan Wahyu (PMII).

Sebelumnya, ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Indonesia menggelar aksi di depan DPR. Ini merupakan gabungan dari sejumlah organisasi, seperti PMII, GMNI, LMND, PII, PMKRI, GMKI, Perempuan Cipayung dan SPI.

Dalam aksinya, Aliansi Rakyat Indonesia mendesak agar DPR dan pemerintah segera membatalkan rencana kenaikan harga BBM. Namun, ironisnya, tak seorang pun pimpinan DPR yang keluar menemui mahasiswa.

Karena kecewa, massa aksi pun berusaha menggoyang-goyang pintu DPR. Sementara barikade polisi yang berjumlah ratusan sudah memagari DPR. “Ini rumah rakyat, kawan-kawan. Kenapa mereka tidak mendengar aspirasi kita,” teriak seorang otator.

Hujan deras juga sempat turun dan mengguyur Senayan dan sekitarnya. Meski begitu, sebagian besar massa aksi tetap bertahan. Setelah hujan agak reda, mahasiswa kembali menggoyang pagar. Sempat terjadi ketengangan antara massa aksi dan mahasiswa. Seorang anggota Polwan terkena timpukan batu oleh massa aksi.

Menjelang magrib, sekitar pukul 17.00 WIB, polisi mulai mempersiapkan pasukan, mobil water canon, dan barakuda. Beberapa saat kemudian, polisi mulai merengsek maju mengepung massa aksi.

Polisi pun mulai menyerang massa aksi. Tembakan gas air mata dan kembang api dilontarkan ke arah massa aksi. Karena terkepung, massa aksi memilih mundur ke arah jembatan Slipi. Saat itu, sejumlah intel dan polisi berseragam mulai menyerang dan menangkapi massa aksi.

Sampai berita ini diturunkan, 7 massa aksi yang ditahan belum dibebaskan.

Ketua Eksekutif Nasional LMND, Arif Fachruddin Ahmad, menyatakan sangat menyesalkan tindakan brutal kepolisian ini. “Polisi sengaja menggunakan pendekatan represif untuk menghadapi aksi kami,” katanya.

Padahal, kata Arif, mahasiswa ingin menyampaikan sebuah tuntutan yang menyangkut hajat hidup rakyat banyak. Jika harga BBM dinaikkan, sudah bisa dipastikan mayoritas rakyat Indonesia akan terkena dampaknya.

EDI SUSILO

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • MAHAVIRA

    POLISI RUPANYA GAK TAHU DIRI.MEREKA GAK SADAR BAHWA GAJI MEREKA DARI UANG RAKYAT.