Peringati Hari Perempuan Sedunia, Ratusan Perempuan Gelar Aksi Mogok Makan

Lebih dari 100 perempuan akan berpartisipasi dalam aksi mogok makan untuk memperjuangkan nasib Pembantu Rumah Tangga (PRT). Aksi tersebut akan dilakukan bertepatan dengan peringatan Hari Perempuan Sedunia, Minggu (8/3/2015).

Menurut Eny Rofiatul, aktivis dari JALA PRT, aksi mogok makan tersebut akan melibatkan para PRT, buruh, aktivis perempuan, jurnalis, kalangan profesional, guru, dosen, dan lain-lain, dari berbagai wilayah di Indonesia.

“Hal ini dilakukan sebagai bentuk keprihatinan terhadap kondisi buruh perempuan dan kondisi PRT di Indonesia dan PRT migran di luar negeri,” kata Eny melalui siaran pers, Sabtu (7/3/2015).

Eny menjelaskan, selama ini PRT  berada dalam kondisi situasi tidak layak kerja. “Situasi kerja tidak layak untuk PRT merupakan perbudakan modern. Praktek perbudakan PRT terjadi dimanapun, termasuk Indonesia dengan 10,7 juta PRT yang bekerja di dalam negeri dan 6 juta PRT migran yang kini bekerja di luar negeri,” tegasnya.

Eny menambahkan, situasi itu makin diperumit oleh sikap Menteri Tenaga Kerja yang menolak membahas Rancangan Undang-Undang (RUU) PRT dan Ratifikasi KILO 189.

“Juga sikap pemerintah yang akan menghentikan PRT migran serta sikap DPR yang tidak mau membahas RUU PRT dan mengeluarkan dalam agenda Prolegnas 2015,” terangnya.

Hal senada diungkapkan oleh Ari Sunarijati, aktivis dari FSPSI Reformasi. Menurutnya, diskriminasi terhadap buruh perempuan masih terjadi pada pekerja formal maupun informal, termasuk PRT, yaitu tidak adanya pengakuan, perlindungan hukum, jaminan sosial dan ketenagakerjaan bagi mereka.

Aksi mogok makan ini sendiri akan melibatkan berbagai organisasi perempuan dan buruh migran, seperti JALA PRT, Komite Aksi Perempuan (KAP), Jaringan Buruh Migran Indonesia (JBMI), dan lain-lain.

Selain menyoroti soal nasib PRT dan buruh migran, peringatan Hari Perempuan Sedunia besok juga akan menyoroti soal nasib buruh perempuan yang bekerja di pabrik, seperti praktek kekerasan dan pelecehan seksual.

“Sentuhan melecehkan sering dilakukan ketika para buruh perempuan pabrik pulang. Sebelum pulang biasanya dilakukan cek body, apakah mereka membawa sesuatu dari dalam pabrik ataukah tidak. Pada saat itulah, pelecehan seksual seringkali terjadi,” ujar Jumisih, aktivis dari Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP).

Hal lain disoroti adalah praktek diskriminasi terhadap perempuan disabel dan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transeksual).

Maulani, aktivis Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI), menyoroti sulitnya para penyandang disabilitas dalam mendapatkan pekerjaan yang layak.

“Sulitnya mendapatkan kesempatan kerja inilah yang menyebabkan makin sulitnya posisi penyandang disabilitas di Indonesia,” ujar Maulani.

Sementara Thien Koesna, aktivis dari Pelangi Mahardika, menyoroti diskriminasi yang dialami oleh LGBT, seperti sulitnya memperoleh pekerjaan dan hak-hak dasar.

“KTP adalah identitas warga negara Indonesia yang bisa ditunjukkan dimanapun. Kami jadi sulit untuk bekerja karena tidak ada KTP, sulit untuk mengurus BPJS karena tidak ada KTP, sulit untuk mendapatkan hak kami karena kami dipersulit untuk mendapatkan KTP,” ujar Thien Koesna.

Thien juga mengeritik fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengharamkan perilaku LGBT. Menurutnya, keputusan tersebut menunjukkan bahwa hukum sosial di negara ini telah mengabaikan keberadaan hak asasi manusia dan mengancam hak dasar manusia.

Dalam tuntutan untuk peringatan Hari Perempuan Sedunia besok, kaum perempuan akan mengajukan sejumlah tuntutan: pertama, ekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan, para buruh perempuan, para penyandang disabilitas dan LGBT; kedua, Pemerintah harus menjamin adanya day care, ruang kerja yang ramah terhadap perempuan, jaminan bagi Penyandang Disabilitas, dan LGBT untuk mendapatkan kesempatan kerja yang sama dan memajukan diri yang sama dengan yang lain dan memberikan penghargaan sebagaimana warga negara yang lain; dan ketiga, ahkan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga, Ratifikasi KILO 189, dan sahkan RUU Disabilitas.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut